RADARSEMARANG.ID - Pengalaman menyeramkan terjadi di salah satu pasar di wilayah Semarang Barat. Pasar ini cukup terkenal, sebagai salah satu pasar besar yang ada di Ibu Kota Provinsi Jawa Tengah.
Konon banyak orang beranggapan bahwa meski setiap ramai manusia, sebenarnya pasar menyimpan sejumlah cerita horor, seperti yang dialami Solikun,warga Ngemplak,Bulustalan.
Sehari-hari dia berdagang berjualan sembako di salah satu pasar yang berlokasi di Semarang Barat.
Baca Juga: Cerita Horor Warga Pucang Gading Semarang Lari Terbirit-birit saat Melihat Patung Ini di Museum
"Pasarnya berada ditepi jalan besar mas dan termasuk pasar yang cukup rame dikota Semarang," ungkap Solikun enggan menyebutkan nama pasarnya.
Sudah hampir 8 tahun dia berjualan di pasar itu. Dulu dirinya sempat berjualan buah-buahan, namun sejak 5 tahun lalu dia beralih berjualan sembako.
"Jualan sembako, karena lebih cepat perputaran uangnya mas," kata pria yang akrab dipanggil Ikun ini.
Selama hampir 8 tahun berjualan, banyak suka duka yang dialami, mulai pasang surut berjualan yangn naik tureun bak roller coster.
"Namanya juga orang jualan, ya kadang rame kadang sepi, kadang untung banyak,kadang ya cuma saumplit mas," tuturnya.
Di pasar juga dirinya mengalami hal-hal mistis, mulai dari mendengar hingga pernah melihat penampakan yang membuatnya sempat ketakutan waktu itu.
"Seringnya kalo pas ada di kios sampai larut malam, pasar sudah sepi, nah biasanya itu kadang muncul suara-suara aneh," ungkap Ikun.
Gangguan suara aneh yang paling sering dia dengar adalah suara atap kios pasar seperti di lempar batu, suara kaki diseret padahal tidak ada orang.
"Pernah ada suara orang jalan, kakinya di seret mondar-mandir di depan kios tapi waktu saya tengok keluar gak ada orang sama sekali," ucap warga asli Bulustalan ini.
Namun satu penampakan terjelas yang pernah dialaminya terjadi belum lama ini.
"Saya ingat harinya itu selasa malam, habis jualan pulang sore, saya pulang dulu kerumah, mandi dan makan,sekalian ambil sarung," ujar Ikun.
Malam sekitar pukul 21.00 wib usai menonton pertandingan sepak bola di televisi, dia kembali ke pasar.
"Rencananya malam itu saya akan merapikan barang-barang dagangan yang baru datang dan belum sempat saya tata, biar besok paginya rapi"ucapnya.
Jarak rumah dengan pasar tempat dia berjualan tidak terlalu jauh, hanya sepuluh menitan berkendara motor dia sudah sampai pasar.
"Biasanya motor saya tittipkan di area parkir belakang pasar, karena ada yang jaga disitu," tandasnya.
Usai memarkir motornya, Solikun langsung bergegas masuk ke dalam pasar yang malam itu sunyi, hanya ada satu dua orang berada di dalam pasar.
"Kalau malam apalagi sudah diatas jam sepuluh itu sepi banget mas," imbuhnya.
Setelah melewati beberapa lorong dalam pasar, Solikun sudah sampai di kiosnya yangt berada di los sembako, lokasinya di tengah pasar.
Setelah masuk ke dalam kiosnya, dia tenggelam dalam aktivitas merapikan barang-barang dagangannya yang baru tiba.
Setelah hampir 4 jam, akhirnya Solikun menyelesaikan pekerjaannya merapikan barang-barang di kiosnya.
Hawa ngantuk langsung menyergap, membuat dirinya memutuskan untuk tidur di kiosnya dan pulang ke rumah jelang subuh.
"Jam satu malam kerjaan nata barang kelar, habis itu ngantuk banget, Yo wes setelah pintu kios saya tutup, saya langsung nglekar tidur didalam kios," kaya Solikun.
Setelah merebahkan diri dan mata mulai terpejam, Solikun mengaku mendengar suara langkah kaki yang cukup berat.
"Baru mau merem, diluar saya mendengar suara langkah kaki diseret tapi cukup berat. Saya pikir, ah paling orang pasar," cetusnya.
Solikunpun melanjutkan memejamkan mata, namun lagi-lagi dia mendengar berisik seperti orang bergumam di luar.
"Lah baru mau merem lagi, kedengeran suara diluar agak rame tapi suarannya gak jelas"imbuhnya.
Solikun kembali mengabaikan gangguan suara-suara itu, dia beranggapan mungkin orang-orang pasar sedang ngobrol. Dia kembali mencoba melanjutkan tidur.
Namun suara keras seperti benda jatuh seolah persis di banting didepan kiosnya, memaksa Solikun terpaksa keluar untuk membuka kiosnya dan mencoba mencari tahu.
"Suara keras seperti ada lemparan batu atau benda keras yang mengenai pintu kios, karena penasaran saya keluar, ingin tahu siapa yang melempar," tandasnya.
Sembari masih mengantuk dia keluar kios, namun tidak mendapati orang diluar dan anehnya tidak ada batu atau benda didepan kiosnya.
"Gak ada orang sama sekali,sepi, terus anehnya itu gak ada bekas batu didepan kios, padahal saya dengar jelas sekali, lemparan itu mengenai pintu kios saya," lanjut Solikun.
Karena penasaran, Solikun kemudian berjalan mengelilingi kios-kios yang ada di pasar tersebut.
Saat tiba didepan sebuah kedai makan yang berjarak kurang lebih dua puluh meter dari kiosnya, dia melihat sosok menyeramkan.
"Saya lihat dari jarak saya berdiri kurang lebih 5 meteran, ada hantu pocong tapi posisinya tengah tidur di bangku salah satu kedai makan. Bentuknya panjang ukurannya sampai melebihi bangku,warna kainnya putih tapi sudah agak kekuningan," ungkapnya.
Wajah hantu pocong terlihat dari samping, seperti tengkorak,dengan warna kehitaman. "Mukanya itu hitam kayak tengkorak, memandang ke atas," imbuhnya.
Melihat penampakan pocong didepan matanya, Solikun, hanya bisa diam terpaku. Kakinya terasa berat untuk melangkah.
"Mau lari balik kanan, kaki berat banget, kayak ada yang ngganduli. Gak bisa melangkah, jadi selama beberapa detik itu saya lihat pocong yang sedang tidur dibangku warung itu," tuturnya.
Hantu pocong itu tiba-tiba menghilang,sesaat setelah terdengar ada suara orang dari arah los daging berjalan menuju ke arahnya.
"Waktu kedengeran ada orang jalan, saya nengok ke arah sumber suara dan nengok lagi ke arah kedai makan itu, pocongnya sudah gak ada," lanjutnya.
Karena masih diliputi ketakutan, Solikun langsung bergegas ke kiosnya untuk mengunci pintu kios yang masih terbuka.
"Saya balik ke kios, saya kunci dan saya malam itu langsung pulang ke rumah, gak jadi tidur di kios malam itu," pungkasnya.
Sejak kejadian, Solikun mengaku tak pernah beraktivitas hingga larut malam.
"Paling banter sampe jam sembilan saat pasar masih agak rame, kalau sudah mulai sepi saya langsung berkemas pulang," pungkas Solikun. (sls)
Editor : Baskoro Septiadi