RADARSEMARANG.ID - Di tengah geliat modernisasi Kota Semarang, kawasan Lempongsari menyimpan cerita lama yang kerap bergaung dalam bisikan malam dan jejak langkah masa silam.
Di sana berdiri pohon randu alas. Saksi bisu perjalanan sejarah dan misteri yang membaur dalam kehidupan warga.
Menurut Adi Alamsyah, Ketua RT 3 RW 4 sekaligus pelestari budaya dan pimpinan komunitas sosial Paku Bumi Nusantara (PBN), kawasan ini dulunya dikenal dengan nama Kebon Rojo.
Sebuah taman era kolonial Belanda yang dulunya merupakan tempat bersantai warga keturunan Tionghoa, untuk menikmati panorama laut.
Namun di balik taman yang tampak biasa itu, tersembunyi kisah mistis. Sebuah pohon randu alas yang menjulang tinggi konon menjadi penanda (tetenger) dari makam Mbah Nyai Sambi.
Sosok yang kini jejaknya tersembunyi di bawah permukiman warga. Nama Kesambi pun diabadikan menjadi nama hotel di kawasan tersebut.
Pohon randu alas inilah yang konon menjadi pusat dari berbagai fenomena gaib yang diceritakan turun-temurun.
“Warga dulu sering melihat ular besar, diameternya sekitar 50 cm, turun dari pohon menuju sendang di bawahnya untuk minum air. Tapi ini bukan ular biasa, ini ular gaib,” tutur Adi.
Adi menyebut, sosok mistis lain berupa angsa emas atau dalam istilah Jawa disebut “banyak emas,” yang konon hanya muncul di tiga titik. Yakni di lokasi randu alas, Gunung Joget, dan pura di Gunung Sumbing.
Tak hanya hewan gaib, penampakan makhluk lain juga disebutkan. Beberapa orang luar daerah mengaku pernah melihat sosok perempuan duduk di dahan pohon.
Selain itu, makhluk berbentuk macan hitam yang tubuhnya bisa memanjang seperti permen karet.
“Kadang muncul juga sinar atau bola api, seringnya malam 1 Suro atau Jumat Kliwon,” tambahnya.
Meski demikian, masyarakat setempat tidak serta-merta menakuti keberadaan energi tersebut.
Sebaliknya, mereka mengemasnya dalam kegiatan budaya seperti Pasar Sendang, yang digelar setiap malam Jumat Legi.
”Ini kamuflase kami untuk nguri-uri pepunden. Kita buat seperti pasar biar masyarakat lebih tertarik,” kata Adi.
Baca Juga: Mengunjungi Eks Lokalisasi Sunan Kuning Semarang setelah Enam Tahun Ditutup, Karaoke Beroperasi
Sendang yang berada tepat di bawah pohon Randu Alas dikenal sebagai Sendang Panguripan. Sumber kehidupan yang dipercaya terbentuk dari akar pohon yang menembus bumi hingga menemukan sumber air.
Letaknya di Jalan Lempongsari Raya dan kini menjadi tempat ziarah sekaligus napak tilas sejarah dan spiritualitas masyarakat Semarang.
Di tengah kota yang terus tumbuh, Kebon Rojo dan randu alas tetap berdiri sebagai pengingat.
Tak semua kisah bisa dijelaskan dengan logika. Sebagian hanya bisa dimengerti lewat keyakinan dan penghormatan pada warisan leluhur. (fgr/ton)
Editor : Baskoro Septiadi