RADARSEMARANG.ID - Jawa Tengah banyak sekali menyimpan kisah desa-desa yang dulu memiliki cerita atau kisah mistis.
Ada yang masih terjadi hingga saat ini cerita mistisnya, namun ada juga yang kini hanya masih menjadi cerita legenda, namun kisahnya tak lekang oleh waktu.
Pada edisi perdana desa-desa mistis kal ini, saya akan mengajak kalian mengulik kisah-kisah mistis di desa Manggar, yang merupakan salah satu desa di kecamatan Sluke, Kabupaten Rembang.
Pada tahun 1960 hingga jelang tahun 1980an desa Manggar di kenal masyarakat sebagai salah satu desa sarang demit atau hantu.
Salah satu tempat yang saat itu di anggap angker adalah sebuah batu besar yang ada di desa itu.
Konon menurut penuturan tetua desa itu, saat mereka masih remaja, di batu besar itu seringkali terlihat adanya penampakan mahkluk halus brbagai jenis. Hampir semua warga waktu itu, pernah bertemu dengan penunggu batu itu.
Karena itu, warga kemudian suka memberi bunga dan sesajen di batu itu dan beberapa batu lainnya yang di anggap angker karena ada penunggunya.
Selain batu besar, ada juga Watu Ketek. Watu atau batu ini di namai Ketek (monyet) lebih di kenal sebagai batu yang menjadi sarang tokek. Konon batu yang berada di jalan masuk desa ini banyak di temui tokek-tokek.
Warga setempat meyakini, tokek-tokek itu bukan sembarang tokek, namun di yakini sebagai tokek jelmaan, karena itu warga tidak ada yang berani mengganggu seperti mengusir atau membunuh.
Bahkan saat isu tokek di beli dengan harga mahal jika mencapai ukuran dan besar ttertentupun, warga setempat tidak ada yang berani atau tergiur untuk menangkap tokek yang hidup di sela-sela watu tekek.
Konon saat itu cerita yang berkembang, jika ada orang yang berani mengambil tokek-tokek di situ, maka akan bernasib naas seperti mengalami sakit hingga bahkan meninggal dunia.
Namun sejak awal tahun 2000an, keberadaan tokek-tokek itu lenyap tak berbekas. Warga tak ada yang mengetahui ke mana tokek-tokek. Hilang secara misterius.
Selain watu Ketek, ada juga Watu atau Batu Gong yang lokasinya ada di sebelah utara desa Manggar. Namun berbeda watu ketek yang mirip monyet bentuknya, bentuk watu gong sendiri hingga saat ini tidak di ketahui seperti bentuk dan keberadaannya.
Masih menurut tetua desa Manggar, saat mereka masih anak-anak yang hidup tahun 194- hingga 1980an, setiap malam di sebelah utara desa Manggar, seringkali terdengar suara gamelan yang berasal dari hutan tak jauh dari desa Manggar.
Para orang tua mereka waktu meyakini, suara gamelan itu berasal dari sebuah batu yang ada di hutan sebelah utara desa yang dibunyikan secara gaib.
Mereka saat itu melarang anak-anaknya keluar malam. Suara gamelan misterius yang di yakini berasal dari watu gong itu mulai tak terdengar lagi sekitar tahun 1980an.
Cerita legenda lainnya di desa Manggar adalah keberadaan hantu engrang yang suka menggangu orang yang sendirian berjalan pada malam hari. Sesuai dengan namanya "egrang" konon hantu ini memiliki kaki yang sangat panjang.
Menurut penuturan salah satu warga, sekitar tahun 1970an, salah seorang saudaranya karena ada keperluan yang sangat penting terpaksa harus keluar malam sekitar jam 9 malam.
Padahal pada masa itu, warga menghindari keluar rumah di atas jam 8 malam, karena meyakini di atas jam itu para demit di desa Manggar keluar dari sarangnya dan bergentayangan.
Saat jalan sendirian di ujung desa itulah menurutnya saudaranya di hadang hantu egrang. Karena kaget dan takut, korban saat itu langsung pingsan di tengah jalan, hingga akhirnya ditemukan beberapa warga yang tengah melintas.
Salah satu lokasi yang saat ini masih saksi menjadi saksi kemistisan desa Manggar, Sluke,Rembang adalah keberadaan sebuah pohon beringin yang oleh warga setempat di namai Ringin Selo.
Di namai Ringin Selo karena berada di dusun Selo. Pohon beringin itu masih ada hingga saat ini. Menurut penuturan beberapa warga, sebelum banyak rumah warga di sekitar pohon beringin dulu di kenal sangat angker dan menjadi tempat sarangnya mahkluk halus.
Cerita mistis Ringin Selo adalah saat salah satu warga desa Manggar pada waktu menjelang petang mencari rumput di sekitar Ringin Selo untuk pakan ternaknya, namun sepulang mencari rumput, warga tersebut mengalami lumpuh alias tidak bisa jalan. Peristiwa itu terjadi sekitar tahun 2007an.
Menurut cerita yang berkembang, warga yang mengalami lumpuh itu, karena saat mencari rumput di sekitar pohon Ringin Selo, "menginjak" tempat bermain anak-anak demit di situ, yang membuat demit sang penunggu pohon marah dan membuatnya lumpuh.
Namun, sejak tokoh agama setempat membangun rumah di sekitar Ringin Selo dan di ikuti beberapa rumah lainnya, aura mistis dan keangkeran Ringin Selo di desa Manggar perlahan-lahan mulai terkikis.
Kini aura mistis dan keangkeran desa Manggar sudah mulai hilang, karena kondisi perkampungan yang mulai ramai oleh penduduk. Namun, cerita--cerita mistis desa itu di masa lampau masih menjadi kisah yang di ceritakan turun menurun warga desa Manggar kecamatan Sluke, Kabupaten Rembang. (sls)
Editor : Baskoro Septiadi