RADARSEMARANG.ID - Di Kecamatan Semarang Selatan, Kota Kota Semarang ada salah satu Sekolah Dasar (SD) yang cukup mistis.
Siswa dan guru kerap mendapatkan gangguan. Saat perkemahan Jumat - Sabtu (Perjusa), ketika sedang api unggun siswa kesurupan.
Bangunan sekolah horor itu masih megah dan bagus. Tetapi sudah bangunan tua yang dibangun sejak 1908. Kondisinya memang masih layak. Setiap hari, aktivitas berjalan secara normal.
Tetapi dibalik semua itu, ternyata menyimpan berbagai kisah mistis. Banyak penampakan yang kerap mengganggu siswa dan guru.
Sosok hantu anak kecil, hingga orang tua menampakkan dan menjahili para siswa hingga guru.
Beberapa waktu lalu, sebelum Bulan Ramadan, saat perkemahan Jumat - Sabtu (Perjusa), tepatnya saat api unggun. Salah satu siswa kelas VI tiba-tiba mengalami kesurupan.
Sebelum kesurupan, sang siswa sempat ngelamun. Tidak begitu lama, tiba-tiba terdengar suara teriakan. "aaaa".
Siswa itu kemudian memberontak. Sontak siswa lain ketakutan. Kondisi sempat mencekam dan menimbulkan kegaduhan. Beruntung, tidak melebar dan bisa segera diatasi.
Kisah lain sebelum Perjusa, salah seorang siswa kelas III, tak mau berangkat sekolah. Lantaran, kelasnya berada di lantai dua tersebut kerap dihampiri anak seusianya yang mengajak bermain saat pelajaran.
"Kamu kenapa, nak? Kok melihat ke arah luar terus?" Tanya guru kepada siswa tersebut.
"Dia melambai-lambai, mengajak aku bermain, saya takut, bu," rengeknya. Padahal, siswa lain tidak mengetahui anak kecil tersebut.
Kejadian itu membuat siswa tersebut tidak berani berangkat ke sekolah selama beberapa hari.
Terpisah, salah satu guru pernah mengalami kisah mistis. Kerudungnya pernah dijambak dari belakang, padahal saat itu tidak ada orang.
"Setelah di tengok belalang, tidak ada orang. Tetapi saat saya tengok kanan kiri, ada sosok lelaki tua yang duduk, saya lewat biasa, sosok tersebut tiba-tiba menghilang," jelasnya.
Sekolah yang dibangun pada masa kolonial Belanda dan zaman pendudukan Jepang ini memang megah. Masih berdiri kokoh dan bagus.
Tetapi menyimpan cerita-cerita mistis yang sampai sekarang masih kerap menjahili siswa dan guru. (fgr/fth)
Editor : Baskoro Septiadi