Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Menilik Glodok Plaza yang Kebakaran, Mulai dari Penjara, Tempat Angker hingga Menjadi Perintis Mal Modern Indonesia, dan Siapa Pemiliknya?

Falakhudin • Jumat, 17 Januari 2025 | 14:49 WIB
Menilik Glodok Plaza Yang Kebakaran, Mulai dari Penjara, Tempat Angker Hingga Menjadi Perintis Mal Modern Indonesia, dan Siapa Pemiliknya?
Menilik Glodok Plaza Yang Kebakaran, Mulai dari Penjara, Tempat Angker Hingga Menjadi Perintis Mal Modern Indonesia, dan Siapa Pemiliknya?

 

RADARSEMARANG.ID, Semarang — Kebakaran besar melanda Glodok Plaza di Tamansari, Jakarta Barat, Rabu malam, 15 Januari 2025.

Peristiwa ini mendapat perhatian dari publik karena diwarnai sejumlah insiden dramatis yang menyertainya. 

Suara ledakan terdengar dari lantai tujuh gedung, tempat kebakaran diduga bermula.

 

Ledakan tersebut diduga berasal dari mobil yang terbakar di area parkir lantai tujuh.

Farid, petugas pemadam kebakaran Jakarta Barat, menyampaikan bahwa ledakan besar kemungkinan berasal dari kendaraan di parkiran.

“Itu kan lantai 7 parkiran mobil. Sepertinya yang meledak itu mobil, ledakan yang besar tadi,” ujar Farid.

Hingga Kamis dini hari, api masih berkobar di lantai 7, 8, dan 9 gedung.

 

Proses pemadaman terus berlangsung di tengah upaya dramatis petugas penyelamat yang berhasil mengevakuasi sembilan orang dari kebakaran tersebut.

Menurut Kepala Seksi Operasi Gulkarmat Jakarta Barat, Syarifudin, kebakaran ini berawal dari sebuah diskotek di lantai tujuh.

Namun, di balik musibah ini, Glodok Plaza memiliki sejarah panjang sebagai salah satu pusat perbelanjaan ikonik di kawasan Pecinan Jakarta.

Berikut ini kisahnya:

Sejarah Nama Glodok

Banyak spekulasi tentang asal usul nama Glodok.

 

 

Dua di antaranya, glodok berasal dari galodog, kata dalam Bahasa Sunda yang berarti tangga –terdiri dari tiga anak tangga – menuju rumah. 

Kedua, glodok berasal dari kata grojok, grojok atau suara air jatuh dari pancuran, atau dari ketinggian.

Dulu, masyarakat sering menyebut air terjun dengan nama grojogan.

Kata ini juga sering digunakan masyarakat Jakarta pinggiran untuk pintu air sebagaimana ditulis dalam buku Toponimi Jakarta Barat yang kami akses melalui budbas.data.kemdikbud.go.id.

 

 

Spekulasi pertama mungkin tidak masuk akal.

“Sebab, tidak ada catatan orang Sunda bermukim di kawasan yang saat ini bernama Glodok,” kata Buku itu.

Di buku Toponimi Jakarta Barat ini juga ditulis, kutipan seorang penulis novel bergaya humor asal Amsterdam, Justus van Maurik yang menggambarkan 

Glodok adalah Monaco dari Hindia-Belanda, minus Montecarlo.

Maurik menulis pengumpamaan itu dalam bukunya Indrukken van een Tòtòk terbitan Den Haag 1965.

Alkisah, pada masa Vereenigde Oostindische Compagnie atau VOC, perusahaan dagang Belanda yang dibentuk untuk menguasai perdagangan rempah-rempah di Asia, khususnya di Nusantara, kawasan Glodok dikenal dengan pancuran air yang menjadi sumber utama bagi pelaut dan pedagang untuk mengisi perbekalan air minum.

 

Pancuran tersebut terletak di sekitar Jl Pancoran saat ini, dekat Kali Besar.

Kala itu, pancuran air ini tidak hanya menjadi tempat strategis untuk logistik, tetapi juga untuk transaksi perdagangan.

Namun, tidak semua aktivitas berjalan mulus.

Konflik kerap terjadi antara pelaut asing dan pedagang lokal yang memperebutkan akses ke pancuran air.

Bahkan, kawasan ini dikenal sebagai pusat penyelundupan rempah-rempah oleh pedagang mancanegara yang memanfaatkan keramaian untuk menghindari pengawasan VOC.

 

 

Pada tahun 1740, tragedi besar menimpa komunitas Tionghoa di Batavia.

Menurut sejarahnya, ribuan etnis Tionghoa dibantai, dan mereka yang selamat dipindahkan oleh VOC ke luar tembok kota, termasuk ke wilayah Glodok.

Kawasan ini kemudian menjadi Chineesche Kamp atau kampung Cina, sebagaimana tercatat dalam peta tahun 1810.

Nama Glodok sendiri dipercaya sudah ada sebelum tragedi 1740, meski bentuknya belum menjadi pemukiman besar.

Transformasi kata “grojok” menjadi “glodok” diduga akibat adaptasi bahasa, di mana pengucapan “r” oleh komunitas Tionghoa mengalami perubahan menjadi “l”.

Dalam waktu singkat, istilah ini melekat menjadi nama resmi kawasan.

 

 

Seiring waktu, Glodok berkembang pesat sebagai kawasan perdagangan.

Kanal-kanal yang dulunya menjadi jalur distribusi air perlahan kehilangan fungsi.

Sebagai contoh, Sirihgracht berubah menjadi Jl Tongkangan, sementara Areeksgracht kini dikenal sebagai Perniagaan Timur.

Jejak sejarah Glodok juga tertanam dalam nama-nama jalan seperti Gang Kalimati, yang diyakini sebagai bentuk penghormatan terhadap korban tragedi 1740.

Blandongan, yang merupakan bagian dari Glodok, menjadi saksi akulturasi budaya Tionghoa.

 

 

Nama Blandongan berasal dari istilah Hokkien “landung,” yang berarti jalan menikung, menggambarkan topografi kawasan tersebut.

Hingga kini, Glodok tetap menjadi simbol budaya Tionghoa di Jakarta, dengan keberadaan pasar tradisional, kuil, dan berbagai bangunan bersejarah.

Dikutip dari laman resmi Glodok Plaza dan Facebook resmi Perpustakaan Nasional, Kamis (16/1), Glodok Plaza diresmikan pada bulan Juni 1997 pada HUT Jakarta ke-450 di era Gubernur Ali Sadikin.

Pada kala itu, Glodok Plaza diresmikan sebagai Pioneer Pusat Perbelanjaan Modern di Indonesia.

Gedung perbelanjaan berlantai enam ini ditempati para pedagang dan berbagai bidang usaha khususnya alat-alat elektronik.

Namun sebelum menjadi pusat perbelanjaan, lokasi Glodok Plaza terkenal angker sebagai bekas Lembaga Pemasyarakatan Khusus (LPK).

 

 

Sebelum kemerdekaan, tempat ini digunakan para narapidana yang akan menjalani hukuman mati.

Lalu sesudah kemerdekaan, berubah fungsi sebagai tempat menyimpan tahanan.

Pada tahun 1940-an, di kawasan tersebut sempat ada benteng kecil yang pernah dijadikan penjara.

Mohammad Hatta alias Bung Hatta yang merupakan Wakil Presiden RI ke-1 pernah ditahan di sana.

Akhirnya, kawasan tersebut diputuskan dijual hingga disulap jadi pusat perbelanjaan.

 

Memasuki tahun 70-an, PT TCP Internusa masuk dan mulai mengembangkan kawasan tersebut menjadi pusat pertokoan.

Perusahaan ini merupakan salah satu anak perusahaan dari PT Surya Semesta Indonesia, Tbk.

Bisnis utama PT TCP Internusa adalah pengembang real estate dan property.

Sebagai pengembang properti terkemuka di Indonesia, PT TCP Internusa merupakan salah satu anggota Real Estate Indonesia (REI) dengan NPA No. 8 Tahun 1971.

Pada 1990, Glodok Plaza disebut-sebut sebagai pusat perdagangan elektronik terbesar di Asia Tenggara yang memiliki perputaran roda perdagangan terbesar dan terbaik.

Untuk meningkatkan kapasitas, pada 2001 gedung Glodok Plaza ditingkatkan menjadi 8 lantai dan ditambah basement.

 

 

Masih di kawasan yang sama, pengelola juga membangun Plaza Hotel Glodok sebagai anchor tenant di Glodok Plaza.

Lalu pada tahun 2022, Glodok Plaza disebut-sebut sebagai Pusat Audio & Karaoke System Paling lengkap di Jakarta.

Dalam rencana besarnya, ditargetkan Glodok Plaza akan terintegrasi dengan MRT Jakarta tahap II pada 2027.

Di tahun tersebut, perbelanjaan itu akan bertransformasi menjadi Experience Mall.

Glodok Plaza, Jakarta Barat terkenal sebagai pusat perbelanjaan elektronik.

 

Dikutip dari situs resmi Glodok Plaza, pusat perbelanjaan itu merupakan milik PT TCP Internusa, salah satu anak perusahaan dari PT Surya Semesta Indonesia, Tbk.

 

 

Bisnis utama PT TCP Internusa adalah pengembang real estate dan property.

Sebagai pengembang properti terkemuka di Indonesia, PT TCP Internusa merupakan salah satu anggota Real Estate Indonesia (REI) dengan NPA No. 8 Tahun 1971.

Selain Glodok Plaza, TCP Internusa juga mengembangkan beberapa proyek dan investasi yakni Kuningan Raya, Tanjung Mas Raya Estate, Menara Perkantoran Graha Surya Internusa I, dan Edenhaus Simatupang. (fal/bas)

Editor : Baskoro Septiadi
#Gubernur Ali Sadikin #Kebakaran besar melanda Glodok Plaza di Tamansari #Edenhaus Simatupang #pusat perbelanjaan ikonik di kawasan Pecinan Jakarta #Menara Perkantoran Graha Surya Internusa I #kebakaran ini berawal dari sebuah diskotek di lantai tujuh #kawasan Glodok dikenal dengan pancuran air #Pioneer Pusat Perbelanjaan Modern di Indonesia #glodok berasal dari galodog #Glodok Plaza #Experience Mall #Kuningan Raya #Tanjung Mas Raya Estate #komunitas Tionghoa di Batavia #Mohammad Hatta alias Bung Hatta #Lembaga Pemasyarakatan Khusus #Sejarah Nama Glodok #Glodok Plaza akan terintegrasi dengan MRT Jakarta #Glodok tetap menjadi simbol budaya Tionghoa di Jakarta #Chineesche Kamp atau kampung Cina #PT TCP Internusa #Plaza Hotel Glodok #Kepala Seksi Operasi Gulkarmat Jakarta Barat #pusat perbelanjaan elektronik