RADARSEMARANG.ID, Semarang - Bekerja menjadi ojek online (ojol) tidak seenak yang dibayangkan. Tinggal narik pelanggan, lalu melayani pesanannya.
Terkadang harus bersaing dengan ojol lainnya. Selain itu bekerja di malam hari harus dilakukan.
Dunia malam selalu dipenuhi dengan cerita sadis pembegalan maupun kisah horor yang selalu bertebaran.
Seperti yang dialami Agung warga Semarang Tengah. Ia sebenarnya paling anti ketika menarik pelanggan saat malam hari. Terutama setelah mengalami beberapa kejadian yang membuatnya keringat dingin.
Meski tak bisa melihat secara gamblang namun beberapa kali telinganya mendengar suara teriakan atau tangisan ketika melintasi tempat sepi atau tempat yang rawan kejadian kecelakaan.
“Beberapa tempat yang pernah mengalami kejadian sepanjang jalan Sigar Bencah, Kalialang, dan beberapa ruas jalan di Kaligawe,” akunya.
Selain rawan begal, Agung kerap menghindari lokasi-lokasi tersebut lantaran membuat bulu kuduknya merinding.
Ketika melintasi jalan itu terutama saat malam apalagi menjelang dini hari. Pernah ia alami ketika menemui pelanggan perempuan yang berwajah datar dan pucat.
Awalnya ia tak menghiraukan pelanggannya yang tak banyak bicara. Hanya menjawab singkat dan lirih ketika ditanya.
“Saat itu pas sudah pukul 23.00. Titik pertama penjemputan dari Pasar Meteseh dan minta berhenti di tengah tanjakan Sigar Bencah,” ujarnya.
Sebelumnya Agung mengira pelanggannya akan berhenti di sebuah rumah atau suatu tempat. Malam hari itu tak ada cahaya bulan setitik pun.
Langit mendung membuat perjalanan kurang menyenangkan. Ketika ditanya lokasinya sesuai di peta perempuan yang tampak muda itu hanya menjawab singkat ‘ya’.
Dirinya pun tak ingat pasti namun yang ia lihat pakaiannya serba hitam dan rambut terurai ke pundak.
“Pas kondisi itu agak canggung dan rasanya saya pengen cepat selesai mengantar,” ujarnya.
Sepanjang perjalanan tak ada obrolan sama sekali. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar. Pelanggannya hanya diam membisu.
Anehnya, Agung tak berani memulai membuka obrolan. Yang dipikirkan hanya mengantarkan sampai tujuan. Ketika melihat maps dan tujuannya sampai Agung sempat tercengang.
“Saya tanya yakin mbak turun sini. Pelanggan itu hanya menjawab iya terimakasih lalu pergi ke jalan sempit,” ucapnya.
Tanpa banyak cakap pun, Agung tiba-tiba merinding lalu memacu motor maticnya dan putar balik.
Disisi lain ia juga kerap kali mendengar suara-suara minta tolong di beberapa ruas jalan yang sepi.
“Sejak saat itu tidak berani mengambil orderan saat malam hari. Lebih baik di rumah sama keluarga,” akunya. (mia/fth)
Editor : Baskoro Septiadi