Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Implementasi "Mode Tandur": Moderasi melalui Tasamuh dan Tahaddur di Sekolah Dasar

Radar Semarang • Sabtu, 30 Mei 2026 | 20:16 WIB
Ahmad Habib Musthofa, S.Pd.I, Guru SDN Pilangrejo 1
Ahmad Habib Musthofa, S.Pd.I, Guru SDN Pilangrejo 1

 

Oleh  : Ahmad Habib Musthofa, S.Pd.I, Guru SDN Pilangrejo 1

RADARSEMARANG.ID, Dunia pendidikan dasar merupakan persemaian paling krusial dalam pembentukan karakter bangsa.

Di tengah arus globalisasi yang membawa beragam ideologi, sekolah memikul tanggung jawab besar untuk membekali siswa dengan "kompas moral" yang kokoh.

Salah satu instrumen navigasi yang kini mendesak untuk ditanamkan adalah Moderasi Beragama.

Baca Juga: 581 Wisudawan Dikukuhkan, UIN Salatiga Teguhkan Komitmen Moderasi Islam di Usia ke-56

Di lingkungan sekolah yang homogen atau satu agama, tantangan ini sering kali dianggap tidak relevan. 

Padahal, justru di lingkungan eksklusif inilah konsep “MODE TANDUR” (Moderasi melalui Tasamuh dan Tahaddur) harus diinternalisasi sebagai bekal siswa menghadapi dunia luar yang majemuk.

Baca Juga: Wiwitan Tandur Pari Tradisi Mengawali Tanam Padi di Demak, Simbol Pemulihan 512 hektar Sawah Terdampak Banjir

Secara filosofis, "Tandur" dalam bahasa Jawa berarti menanam.

Dalam konteks ini, kita menanamkan dua pilar utama dalam jiwa siswa: Tasamuh dan Tahaddur.

Tasamuh atau toleransi adalah kemampuan untuk berlapang dada menerima perbedaan tanpa harus mengorbankan prinsip keyakinan.

Sementara itu, Tahaddur atau keberadaban adalah manifestasi dari pemahaman agama yang maju, santun, dan menghargai martabat manusia sebagai bagian dari peradaban global. Keduanya merupakan sayap yang memungkinkan moderasi terbang landas dari sekadar teori menjadi aksi nyata.

Landasan teologis dari konsep ini berakar kuat pada Al-Qur'an Surah Al-Hujurat ayat 13:

“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal...” Ayat ini menegaskan bahwa keberagaman bukanlah sebuah kecelakaan sejarah atau sumber perpecahan, melainkan desain Ilahi (Sunnatullah). Frasa “li-ta'arafu” (agar kamu saling mengenal) mengandung perintah aktif. Di sekolah dengan keyakinan homogen, ayat ini harus dimaknai bahwa meskipun siswa memiliki akidah yang sama, mereka wajib memahami bahwa di luar sana terdapat miliaran manusia dengan latar belakang yang berbeda. Mengenal "yang lain" adalah prasyarat untuk menghargai, dan menghargai adalah prasyarat untuk bekerja sama.

Implementasi Tasamuh di ruang kelas dapat dilakukan melalui pendekatan "dialog dari dalam". untuk sekolah yang siswanya menganut agama yang sama, perbedaan latar belakang sosial, ekonomi, hingga tradisi organisasi keagamaan tetap ada.

Guru dapat memulai dengan kegiatan diskusi bertajuk "Beda Tafsir, Satu Akidah". Di sini, siswa dilatih untuk berlapang dada terhadap perbedaan cara ibadah atau tradisi lokal selama masih dalam koridor prinsip yang sama. Sikap Tasamuh yang terlatih secara internal ini akan menjadi fondasi yang kuat ketika nantinya mereka berinteraksi dengan pemeluk agama lain di jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Selain itu untuk memperkuat sikap tasamuh, guru juga bisa mendatangkan "Human Library" (Perpustakaan Manusia), Undang narasumber dari latar belakang berbeda untuk menjadi "buku". Siswa "meminjam" mereka untuk berdiskusi dan mendengar kisah hidup mereka. Ini sangat efektif untuk memecah prasangka (stereotyping).

Selanjutnya, pilar Tahaddur atau keberadaban diwujudkan dengan membangun wawasan global. Sekolah dasar harus mampu menghadirkan "jendela dunia" bagi siswanya. Kegiatan seperti Virtual Tour ke berbagai situs sejarah dan rumah ibadah dari berbagai belahan dunia merupakan langkah cerdas untuk membangun literasi budaya. Dengan pengetahuan yang benar, ketakutan akan perbedaan (xenofobia) dapat terkikis.

Keberadaban juga tercermin dari bagaimana siswa menggunakan teknologi. Melalui program "Duta Moderasi Digital", siswa diajarkan untuk menyebarkan pesan perdamaian dan etika berkomunikasi yang santun di media sosial. Inilah ciri masyarakat yang beradab: kecanggihan teknologi yang dibarengi dengan keluhuran budi pekerti.

Pentingnya moderasi dan keberadaban ini selaras dengan pemikiran tokoh Islam Indonesia, Prof. Quraish Shihab. Beliau sering menekankan bahwa moderasi (Wasathiyyah) adalah posisi di tengah yang memungkinkan seseorang melihat ke segala arah dengan adil.

Menurut beliau, keberagamaan yang benar tidak boleh membuat seseorang eksklusif atau merasa lebih unggul, melainkan harus membuatnya lebih bermanfaat bagi kemanusiaan. Senada dengan itu, mendiang KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) selalu menekankan bahwa titik temu dari semua agama adalah kemanusiaan.

Pandangan para tokoh ini menggarisbawahi bahwa Tasamuh dan Tahaddur bukan sekadar konsep sosial, melainkan esensi dari ajaran agama itu sendiri.

Menanamkan "MODE TANDUR" di sekolah dasar adalah investasi jangka panjang untuk perdamaian bangsa. Kita tidak ingin melahirkan generasi yang saleh secara ritual namun gagap secara sosial.

Dengan memadukan sikap lapang dada (Tasamuh) dan perilaku beradab (Tahaddur), sekolah sedang menyiapkan pemimpin masa depan yang tidak hanya bangga dengan identitas agamanya, tetapi juga mampu menjadi jembatan bagi harmoni dunia.

 Seperti filosofi menanam, hasil dari "Tandur" ini mungkin tidak terlihat dalam semalam, namun ia akan tumbuh menjadi pohon peneduh bagi keberagaman Indonesia di masa depan.

Editor : Tasropi
#Mode Tandur #Ahmad Habib Musthofa #abdurrahman wahid #investasi jangka panjang