RADARSEMARANG.ID, Selama ini motivasi siswa untuk belajar matematika rendah. Penyebabnya matematika dianggap sulit untuk dipahami.
Selain itu, ada beberapa faktor lain yang melatarbelakangi rendahnya motivasi terhadap pembelajaran matematika.
Di antaranya kurangnya pemahaman tentang pentingnya pelajaran Matematika untuk diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Baca Juga: Manfaat Bahasa Dalam Kehidupan
Baik kehidupan di rumah maupun di lingkungan pekerjaan setelah peserta didik dewasa nanti.
Hal tersebut menjadikan peserta didik acuh tak acuh terhadap pelajaran Matematika.
Metode pembelajaran matematika yang terkesan monoton, yaitu pemberian materi, mengerjakan tugas, kemudian ujian/ulangan, sehingga peserta didik yang memiliki keterlambatan pemahaman materi menjadi semakin ketinggalan.
Hal inilah yang kemudian disimpulkan bahwa pelajaran Matematika adalah pelajaran yang sulit.
Kurangnya motivasi peserta didik mengikuti pembelajaran matematika yang dibuktikan dengan nilai hasil angket motivasi sebesar 1,8 dengan kriteria cukup.
Metode pembelajaran yang masih satu arah atau teacher center, yang menjadikan peserta didik terkesan pasif di kelas.
Kemampuan guru dalam menciptakan suasana kelas yang lebih aktif dan atraktif selama proses pembelajaran juga masih kurang.
Sehingga keaktifan dan kreativitas peserta didik selama pembelajaran menjadi kurang maksimal.
Pembelajaran yang monoton menjadikan siswa menjadi bosan dan kemampuan berpikirnya kurang optimal.
Metode pembelajaran dengan model student center dengan sistem project based learning diharapkan mampu meningkatkan kemampuan peserta didik dalam mengeksplorasi ide-ide kreatif, menghadapi suatu masalah.
Kemudian mendapatkan solusi terbaik dari hasil diskusi dengan kelompoknya.
Selain itu peserta didik juga berlatih untuk berani mempresentasikan hasil diskusi kelompok dan bisa turut aktif dalam kegiatan pembelajaran.
Beberapa tantangan untuk mencapai tujuan yang penulis hadapi di antaranya adalah tantangan dari peserta didik dan guru.
Peserta didik masih terbiasa dengan model pembelajaran lama (teacher center). Belum terbiasa memberikan masukan, kritik dan saran ketika kelompok lain sedang presentasi.
Pembuatan hasil karya atau proyek membutuhkan dana sehingga peserta didik harus mengeluarkan iuran.
Sedangkan tantangan dari guru adalah guru baru pertama kali melaksanakan model pembelajaran PjBL.
Guru belum maksimal memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi. Guru belum menggunakan bahan ajar yang interaktif dalam pembelajaran.
Tantangan-tantangan di atas mendorong penulis untuk merancang pembelajaran yang inovatif dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi yang sesuai dengan karakteristik peserta didik.
Agar motivasi peserta didik pada pembelajaran matematika meningkat, hasil belajar peserta didik meningkat, serta proses pembelajaran menjadi menarik dan bermakna bagi peserta didik.
Dampak dari pembelajaran menggunakan PjBL antara lain, dengan penggunaan media pembelajaran yang bervariatif, berupa PPT, video, alat peraga menambah daya tarik dan motivasi siswa dalam pembelajaran matematika.
Hal ini bisa dilihat dari adanya peningkatan motivasi siswa berdasarkan angket setelah pembelajaran
Pemberian motivasi berupa audio visual lebih menarik bagi peserta didik, sehingga lebih fokus mendengarkan motivasi yang diberikan saat pembelajaran. Hasil belajar sebagian besar siswa melampaui KKTP dengan rata-rata 87,2.
Dengan model PjBL, keaktifan siswa juga meningkat. Siswa yang biasanya pasif hanya mendengarkan guru di depan kelas, sekarang menjadi aktif untuk berdiskusi, bertanya dan memberikan pendapat.
Adapun faktor yang menjadi keberhasilan dari strategi yang dilakukan adalah pemilihan materi yang tepat untuk model PjBL.
Pemilihan media yang tepat dan menarik sehingga peserta didik lebih antusias dalam pembelajaran.
Kolaborasi dan kerja sama yang baik dengan wali kelas dan teman sejawat. Pemberian reward.
Dapat disimpulkan penggunaan model pembelajaran PjBL dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar peserta didik. Serta dapat meningkatkan keaktifan peserta didik saat pembelajaran. (unw/lis)
Oleh : Aprilia Tri Ratna Nugrahenni, S.Pd
Guru MTs Negeri 3 Demak
Editor : Tasropi