RADARSEMARNG.ID, Belajar adalah proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang.
Perubahan sebagai proses hasil belajar dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk. Seperti perubahan pengetahuan, perubahan sikap dan perubahan tingkah laku, keterampilannnya, kecakapan dan kemampuannya.
Serta daya reaksinya, daya penerimaan dan aspek-aspek yang ada pada individu.
Baca Juga: Mengaktifkan Belajar Matematika Mandiri dengan Metode Talking Stick
Belajar materi pelajaran matematika selalu menjadi momok bagi kebanyakan siswa.
Selama ini siswa selalu merasa takut, resah, khawatir bahkan marah jika melihat jadwal hari tersebut ada pelajaran matematika.
Dari beberapa pengakuan siswa-siswi, hal ini karena mereka menganggap matematika adalah hal yang sulit.
Mereka kesulitan dalam memahami materi dan tidak bisa mengerjakan soal matematika. Ditambah lagi jika dimata murid bahwa guru yang mengajar guru yang galak, tegas dan disiplin.
Menurut (Mutiyah, 2022), siswa pada tingkat sekolah dasar memiliki kecenderungan berpikir realistik, belajar dengan hal-hal yang nyata yang secara langsung dapat dikenali dengan panca indra.
Matematika merupakan mata pelajaran yang memiliki karakter bersifat abstrak. Oleh karena itu, guru hendaknya dapat memfasilitasi siswa yang belajar matematika untuk memulai belajar dari yang konkret atau fakta menuju yang abstrak.
Dengan demikian, belajar matematika bertumpu pada kejadian nyata yang dapat diamati oleh siswa menuju berpikir abstrak.
Sesuai pengalaman siswa-siswi, memahami matematika amat sulit maka ketika memasuki materi lingkaran penulis mencoba melakukan percobaan praktik.
Khususnya yaitu ketika hendak mencari/menghitung keliling lingkaran. Adapun tahap-tahapnya yaitu perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.
Tahap perencanaan yaitu sebelum hari yang direncanakan, siswa-siswi diberi penjelasan terlebih dahulu tentang langkah-langkah yang akan dilaksanakan.
Siswa diminta membawa benda-benda yang berbentuk lingkaran (5 benda), tali rafia, penggaris.
Tahap pelaksanaan yaitu pada hari yang ditentukan saat jadwal matematika siswa/siswi memyiapkan alat/bahan yang dibawa dari rumah, diletakkan di atas meja.
Guru membagi lembar kerja dan memberi penjelasan kegiatan yang akan dilaksanakan.
Siswa bergabung dengan kelompoknya. Langkah pertama, siswa mengukur keliling benda berbentuk lingkaran yang sudah dibawa yaitu dengan mengukurnya menggunakan tali rafia.
Panjang tali rafia tersebut diukur dengan penggagris dan hasilnya ditulis pada lembar kerja.
Langkah kedua, siswa menghitung jari-jari/diameter benda tersebut dengan penggaris dan mengitung keliling benda dengan rumus menghitung keliling lingkaran yaitu 2xπxr.
Siswa diminta membandingkan antara menghitung keliling benda langsung dengan tali rafia dengan menghitung dengan rumus.
Tahap evaluasi yaitu setelah membandingkan cara menghitung keliling maka siswa dapat mengambil kesimpulan.
Ternyata hasil mencari keliling lingkaran dengan praktik langsung dan menghitung rumus hampir sama, hanya selisih sedikit.
Hal itu dipengaruhi oleh perbedaan keakuratan saat mengukur. Siswa pun juga diajak untuk mengevaluasi jalannya percobaan praktik sejak perencanaan sampai pelaksanaan.
Kendala yang dihadapi, bagaimana solusinya, dan manfaat yang didapatkan.
Ternyata dengan praktik langsung, para siswa belajar memahami hal bersifat nyata menuju berpikir abstrak sehingga menjadi lebih mudah memahami materi menghitung keliling lingkaran.
Ketika mengerjakan soal menghitung keliling lingkaran pun menjadi lebih cepat selesai dan tepat. (nop/lis)
Oleh : Wiji Utaminingsih, S.Pd.SD
Guru SDN Sutopati 2, Kec. Kajoran, Kabupaten Magelang
Editor : Tasropi