RADARSEMARANG.ID, Media dan metode pembelajaran mempunyai peran penting dalam kegiatan belajar.
Penggunaan media dan metode yang kurang tepat akan membuat siswa bosan dan jenuh, sehingga tidak jarang kita jumpai siswa kurang aktif dan tidak memperhatikan materi yang disampaikan guru.
Penggunaan media dan metode pembelajaran yang tepat dapat memunculkan rasa penasaran (courisity), serta iklim kelas yang menyenangkan.
Sehingga dapat menstimulasi daya pikir peserta didik untuk terlibat aktif dan mengembangkan keterampilan berpikir kritis dalam proses pembelajaran.
Menurut Miarso (2004) media pembelajaran adalah segala sesuatu yang digunakan untuk menyalurkan pesan serta dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan kemauan si belajar, sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar.
Memadukan media dan metode yang tepat dapat mewujudkan pembelajaran yang efektif dan menyenangkan. Salah satunya melalui metode role play.
Metode role play atau bermain peran menurut Sugihartono (2006 : 83) adalah metode pembelajaran melalui pengembangan imajinasi dan penghayatan peserta didik dengan cara memerankan suatu tokoh sesuai dengan materi, sehingga peserta didik berlatih untuk menghayati perannya sesuai materi yang dipelajari.
Capaian pembelajaran Sosiologi materi kelas XI salah satunya membahas tentang konflik sosial.
Salah satu bagian pentingnya adalah peserta didik dapat memahami berbagai bentuk konflik sosial, faktor penyebab, dampak hingga resolusi konfliknya di masayarakat. Pembelajaran materi konflik sosial di SMA Negeri 1 Subah ini menjadi menarik dan menyenangkan dengan menggunakan media video dalam bermain peran.
Pemilihan media video dalam bermain peran dapat menjadikan suasana belajar menjadi aktif dan menyenangkan.
Melalui permainan ini peserta didik dapat terlibat aktif, terutama dalam proses pemilihan jenis konflik sosial yang akan diperagakan melalui pembuatan video yang di dalamnya terkandung bentuk dari konflik sosial, faktor penyebab, dampak, hingga penyelesaian masalahnya.
Pada pembelajaran ini peserta didik diberikan pemahaman melalui literasi materi terlebih dahulu dengan melakukan diskusi berkaitan materi konflik sosial.
Adapun penerapan penggunaan video dalam bermain peran sebagai berikut: Pertama, dimulai guru menyiapkan skenario sesuai dengan materi yang dibahas yaitu materi konflik sosial yang akan ditampilkan.
Skenario dirancang sesuai dengan tema dan dikembangkan oleh peserta didik sesuai dengan kreativitas dan imajinasinya.
Kedua, guru menyampaikan kegiatan yang harus dikerjakan sampai pada proses pembuatan videonya.
Ketiga, dengan dipandu oleh guru, peserta didik menyusun alur cerita terjadinya konflik sosial yang ada dalam masyarakat hingga terjadi resolusi konfliknya.
Keempat, peserta didik diberikan batas pengumpulan tugas pembuatan video untuk kemudian dipresentasikan.
Kelima, guru bersama peserta didik mengomunikasikan hasil video dari bermain peran tentang bentuk konflik, faktor penyebab, dampak, hingga resolusi konfliknya.
Keenam, guru dan peserta didik mengomunikasikan berbagai macam pendapat dari peserta didik lainnya. Ketujuh, guru memberikan evaluasi dari hasil presentasi tiap kelompok. Selanjutnya bersama peserta didik merefleksi dari materi yang telah dipelajari.
Dari pemanfaatan media video dalam bermain peran pada materi konflik sosial ini, peserta didik memperoleh pengalaman belajar yang bermakna karena peserta didik lebih mudah menjelaskan terjadinya konflik, baik dari bentuk konflik, faktor penyebab, dampak hingga terlibat aktif dalam mencari solusi pemecahan masalahnya.
Melalui media video dalam bermain peran ini materi lebih mudah dimengerti, dipahami dan peserta didik lebih antusias, aktif dan menyenangkan dalam kegiatan pembelajaran. (nop/aro)
Oleh: Murdiana, S.Pd.
Guru Sosiologi SMA Negeri 1 Subah, Kabupaten Batang
Editor : Tasropi