RADARSEMARANG.ID, Pemahaman kita selama ini, masuk SD harus bisa membaca dan menulis. Ini yang membuat para siswa takut masuk SD jika belum bisa membaca dan menulis.
Seperti halnya di SD Negeri Bawang, Tempuran yang jauh dari TK. Anak-anak yang masuk SD Negeri Bawang kebanyakan belum bisa membaca dan menulis.
Maka dari itu anak anak biasanya takut dan malu saat masuk pertama kali sekolah.
Oleh sebab itu seringkali anak-anak SD Negeri Bawang diantar dan ditunggui bapak atau ibunya saat masuk beberapa hari pertama sekolah.
Hal tersebut menjadi permasalahan tersendiri untuk anak-anak dan guru SD Negeri Bawang. Para Guru merasa tidak bebas dalam mengajar anak-anak.
Sedangkan para siswa merasa diawasi terus oleh wali murid. Para orang tua khawatir kalau nanti anaknya menangis karena tidak bisa mengikuti pelajaran dikarenakan belum bisa membaca dan berhitung.
Para guru dan wali murid seperti mendapatkan angin segar karena adanya Surat Edaran Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah Nomor 0759/C/HK.04.01/2023 tentang Penguatan Transisi PAUD ke Sekolah Dasar Kelas Awal, maka dalam pelaksanaan penguatan transisi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) ke Sekolah Dasar (SD) kelas awal, penerimaan peserta didik baru pada SD tidak menerapkan tes kemampuan membaca, menulis, dan berhitung, atau bentuk tes.
Pengenalan lingkungan sekolah bagi peserta didik baru dilaksanakan mengacu pada ketentuan perundang-undangan yang mengatur mengenai pengenalan lingkungan sekolah.
Transisi dari PAUD ke SD merupakan fase di mana peran anak berubah dari peserta didik PAUD menjadi peserta didik SD, serta proses adaptasi anak terhadap lingkungan belajar yang baru.
Kesiapan bersekolah harus didasarkan pada tujuan pembelajaran yang sebenarnya, yaitu memastikan bahwa setiap anak memiliki dasar kemampuan yang cukup untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat.
Penguatan transisi dari PAUD ke SD sangat penting untuk mengubah miskonsepsi yang ada di lapangan, seperti praktik tes calistung dalam penerimaan peserta didik baru (PPDB) dan pembelajaran yang belum memahami bahwa membangun kemampuan fondasi (kematangan sosial-emosional, literasi dan numerasi dasar, dan kemampuan fondasi lainnya) adalah proses yang bertahap dan berkelanjutan, yang dimulai sejak PAUD hingga SD kelas awal.
Orang tua perlu memberikan dukungan emosional, sementara guru dapat membantu anak menyesuaikan diri dengan lingkungan baru.
Menekankan betapa bermain tetap merupakan bagian penting dalam pembelajaran anak-anak, bahkan di SD.
Ini dapat membantu mengurangi tekanan pada anak-anak untuk tampil dengan baik di sekolah Untuk itu guru dituntut untuk kreatif dan berinovasi menciptakan PPDB yang menyenangkan. Untuk mendukung minat dan bakat anak.
Juga bisa membantu anak merasa lebih termotivasi dalam belajar di SD. Mengajarkan anak-anak tentang pentingnya berbicara tentang pengalaman mereka di SD kepada orang tua dan guru. Ini akan membantu anak merasa didengar dan dipahami.
Dari pemaparan di atas guru wajib berinovasi agar PPBD dapat berjalan dengan aman, nyaman dan juga menyenangkan bagi anak.
Salah satunya dengan permainan berkelompok “cari aku”.
Menurut Sadiman (2006) sebagai media pembelajaran, permainan mempunyai beberapa kelebihan, yaitu permainan adalah sesuatu yang menyenangkan untuk dilakukan, sesuatu yang menghibur dan menarik.
Cara permainan “cari aku” adalah, guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok. Kemudian guru memberi pertanyaan yang mengarah pada suatu benda.
Kemudian anak berdiskusi dengan kelompoknya kira-kira apa benda yang dimaksud. Kemudian mereka mencari benda tersebut dan diberikan kepada guru.
Contoh soal, benda ini berawalan huruf b. Dia berbentuk bulat. Dia suka ditendang. Siapakah aku?
Permainan ini dapat menjalin kekompakan kerja sama dan kelompok, anak belajar mengeluarkan pendapat, percaya diri dan berkomunikasi dengan teman yang baru dia kenal. (*/lis)
Oleh : Nikmatul Atikoh, S.Pd.SD, Guru SD Negeri Bawang, Tempuran, Kabupaten Magelang
Editor : Tasropi