Berita Semarang Raya Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Event Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Foto Jateng

Penerapan Green School dalam Pembelajaran Kurikulum Merdeka

Baskoro Septiadi • Minggu, 1 Oktober 2023 | 01:56 WIB
Photo
Photo

Oleh : Mulyadi, S.Pd

RADARSEMARANG.ID - Implementasi Kurikulum Merdeka pada hakikatnya adalah penyempurnaan kurikulum sebelumnya untuk menjawab tantangan bagi para lulusan SMA dengan melihat perkembangan zaman yang dan kesiapan untuk kelanjutan studi ataupun bekerja.

Perubahan regulasi penerimaan mahasiswa baru di PTN dengan jalur SNBP dan SNBT juga dipersiapkan untuk murid yang berkeinginan kuat melanjutkan studi demikian pula untuk kesiapan murid berwirausaha juga diberikan keterampilan melalui kegiatan ekstrakurikuler atau melalui Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5).

Implementasi Kurikulum Merdeka selaras teori belajar konstruktivistik.Teori belajar yang memfokuskan pada proses atau aktivitas pembelajaran yang mendalami pengetahuan secara bebas agar siswa bisa memaknai pengetahuan baru sesuai dengan pengalamannya.

Konstruktivisme maksudnya adalah belajar dari pengalaman kemudian mendapat pengetahuan lalu ditata atau disusun, menjadi bekal manusia untuk menjalani kehidupan.

Konstruktivisme merupakan pembelajaran kontekstual, yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh murid sedikit demi sedikit.

Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep, atau kaidah  yang siap untuk diambil dan diingat. Murid harus mengonstruksi pengetahuan dan memberi makna melalui pengalaman nyata.

Konstruktivisme memberikan keaktifan terhadap murid untuk belajar menemukan sendiri kompetensi, pengetahuan atau teknologi, dan hal lain untuk  mengembangkan dirinya (Thobroni & Mustofa, 2013).  

Dengan mengutamakan pengalaman untuk membangun pengetahuan dan menjadi bekal pengalaman dalam kehidupannya, lingkungan SMAN 1 Ayah, Kebumen sangat potensial dalam menjembatani proses dan hasil pembelajaran murid  untuk menghadapi tantangan di zamannya sebagai sekolah yang ramah dan peduli lingkungan.

Sekolah seoptimal mungkin memberikan fasilitas bagi guru dalam pengembangan metode atau model pembelajaran seperti yang diharapkan dalam kurikulum merdeka yaitu Problem based learning (PBL) dan PjBL (Project Based learning).

Pembelajaran yang dikembangkan dalam Kurikulum Merdeka adalah pembelajaran diferensiasi, anak dengan keberanekaragaman latar belakang masing-masing individu mendapatkan layanan pembelajaran sesuai kebutuhannya, dan dapat berkembang secara optimal.

SMAN 1 Ayah  dalam visinya sebagai sekolah berwawasan lingkungan berusaha melaksanakan program-program menjaga pelestarian lingkungan sekolah seoptimal mungkin bersamaan proses pembelajaran mata pelajaran di dalam kelas dan kegiatan-kegiatan lain yang mendukung melalui pendekatan konstruktivisme.  

Dengan pendekatan konstruktivisme dalam pembelajaran yaitu merefleksikan pengalaman bahwa pengetahuan bukanlah sesuatu yang didapat dari alam, tetapi pengetahuan merupakan hasil konstruksi (bentukan) aktif murid itu sendiri dari proses pembelajaran (Suyono & Hariyanto, 2014).

Dengan  jumlah 16 rombel  serta  jumlah siswa beserta guru dan karyawan berkisar 600 orang, potensi permasalahan lingkungan khususnya sampah sangat besar jika tidak ada pengelolaan yang baik dan prosedural.

Luas lahan terbuka hijau sebesar 60 persen  dari total lahan 1,6 ha  banyak tumbuhan menghasilkan sampah organik cukup banyak menjadi potensi yang baik untuk mendukung program green school (sekolah hijau) dengan memanfaatkannya sebagai bahan pupuk organik.

Pembuatan pupuk kompos ini diimplementasikan dalam pembelajaran P5 dalam tema Gaya Hidup berkelanjutan. Kegiatan P5 dengan tema Gaya Hidup berkelanjutan berorientasi untuk menjaga kelestarian bumi tempat hidup semua makhluk hidup supaya tetap lestari sampai waktu yang sangat lama, sebagai perwujudan  profil pelajar Pancasila yaitu berakhlak mulia khususnya pada alam.

Murid diminta mengidentifikasi persoalan lingkungan sekolah dan mencari solusi untuk menjaga kelestarian lingkungan dengan usaha nyata. Sehingga dapat mendukung program sekolah berwawasan lingkungan.

Dalam kelanjutan projek ini tiap kelompok melakukan perencanaan dan pelaksanaan pembuatan pupuk kompos dengan fermentasi, dengan bantuan mikroba EM4.

Dalam waktu 2 bulan produk kompos sudah dapat dimanfaatkan untuk pemupukan taman atau tanaman di sekolah.

Sisa-sisa buah-buahan di sekolah yaitu jambu biji, jambu air, mangga yang berjatuhan saat musim buah dimanfaatkan oleh murid yang tergabung dalam ekstrakurikuler Satyapala (Satu Ayah Pencinta Alam) untuk membuat ecoenzim.

Produk fermentasi ini dapat dimanfaatkan di lingkungan sekolah untuk membantu penguraian proses pengomposan yaitu molekul  amonia (NH3) yang dihasilkan akan diubah menjadi Nitrat (NO3) merupakan unsur hara yang sangat dibutuhkan oleh tumbuhan.

Dalam pengelolaan sampah murid dibimbing dengan menjaga kebersihan ruang kelas, lingkungan luar kelas dan dilibatkan dalam program pelestarian lingkungan.

Pemilahan sampah anorganik dan organik untuk  diangkut ke penampungan tempat sampah sementara di sekolah. Sampah anorganik diangkut dengan bank sampah dari Desa Demangsari.

Sedangkan penampungan sampah organik juga untuk pembuatan bahan pupuk kompos melalui  reaktor-reaktor cacing yang disediakan di beberapa tempat di dalam lingkungan sekolah.

Dengan pengelolaan pembelajaran dan kegiatan pendukung yang dapat mengoptimalkan potensi sekolah dengan bahan-bahan sumber pupuk dapat menjadikan green school terwujud untuk menciptakan lingkungan yang nyaman, sejuk dalam mendukung proses pembelajaran. (on/lis)

Kepala SMAN 1 Ayah, Kabupaten Kebumen

Editor : Baskoro Septiadi
#SMA #web #GURU