RADARSEMARANG.ID, Berbagai macam model pembelajaran ditemukan dan diterapkan di sekolah.
Namun demikian ternyata persoalan lebih banyak pada dunia pendidikan, kemajuan teknologi sangat berpengaruh terhadap pemikiran anak-anak sekarang. Pengaruh lingkungan yang makin beragam lengkap.
Menjadikan pendidikan formal makin tidak disukai oleh anak-anak.
Untuk itu para pakar pendidikan dan pemerintah harus berupaya mencari jalan untuk mengatasi masalah ini.
Dalam hal ini para pendidik harus mampu meningkatkan mutu pendidikan agar tidak ketinggalan dengan kemajuan zaman.
Salah satu usaha untuk meningkatkan mutu pendidikan adalah dengan model kepramukaan. Karena dalam kepramukaan semua ranah tercakup. Ranah sikap, ranah sosial, dan ranah keterampilan.
Pendidikan kepramukaan sebagai ekstrakurikuler wajib dalam konteks Kurikulum 2013, pada dasarnya berwujud proses aktualisasi dan penguatan capaian pembelajaran Kurikulum 2013.
Ranah sikap dalam bingkai spiritual, sosial, dan ranah ketrampilan, sepanjang yang bersifat konsisten dan koheren dengan sikap dan kecakapan kepramukaan.
Dengan demikian terjadi proses saling interaksi dan saling menguatkan (mutually interactive and reinforcing).
Proses pembelajaran untuk mencapai kompetensi-kompetensi tersebut, dilaksanakan melalui kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler.
Kegiatan ekstrakurikuler yang dilaksanakan di satuan pendidikan, salah satu diantaranya adalah kegiatan kepramukaan.
Hal itu juga dilakukan penulis di SD Negeri 02 Kesesirejo, Kecamatan Bodeh, Kabupaten Pemalang
Konteks yang diambil adalah penerapan metode dan teknik kepramukaan untuk mendukung proses pembelajaran kurikulum 2013.
Adapun metode kepramukaannya adalah dengan pengamalan kode kehormatan pramuka atau disebut juga belajar sambil melakukan kegiatan berkelompok, bekerja sama dan berkompetensi.
Kegiatan yang menarik dan menantang, kegiatan di alam terbuka, kehadiran orang dewasa yang memberikan bimbingan, dorongan, dan dukungan, penghargaan berupa tanda kecakapan, satuan terpisah antara putra dan putri.
Sedangkan teknik kepramukaannya adalah dengan permainan, diskusi, produktif, gerak dan lagu, widya wisata, simulasi, napak tilas, pioneering, berkemah, dan penjelajahan.
Ekstrakurikuler wajib pendidikan kepramukaan dikelola oleh guru bekerja sama dengan pembina pramuka di satuan pendidikan di bawah tanggung jawab kepala sekolah.
Guru berperan sebagai fasilitator ekstrakurikuler wajib pendidikan kepramukaan. Sedangkan pembina pramuka sebagai konsultan penerapan metode dan teknik kepramukaan.
Adapun salah satu kegiatan untuk mencapai prestasi belajar adalah dengan metode penjelajahan.
Misalnya, anak-anak dalam penjelajahan menemukan air terjun. Maka media pembelajaran itu melalui air terjun tersebut.
Jika air terjun tersebut dapat memindahkan 21.600 m³ air dalam waktu 1 jam, berapa m³/detik debit aliran air tersebut? Maka akan diketahui waktu = 1 jam = 3600 detik. Volume air = 21600 m³.
Lalu berapa debit airnya? Maka dapat dijawab bahwa debit = volume : waktu = (21600 : 3600) m³/detik = 6 m³/detik. Jadi, debit aliran air terjun tersebut 6 m³/detik. Artinya, setiap satu detik air yang mengalir sebanyak 6 m³.
Dengan pembelajaran melalui alam langsung diharapkan anak-anak mempunyai pemahaman yang lebih baik dan tidak mudah lupa.
Semoga metode pembelajaran seperti ini dapat membantu para guru dalam mencerdaskan anak bangsa. (fu/lis)
Oleh: Iswanto, S.Pd.SD
Guru SDN 02 Kesesirejo, Kecamatan Bodeh, Kabupaten Pemalang
Editor : Agus AP