RADARSEMARANG.ID, Kegiatan belajar di sekolah merupakan interaksi antara pendidik dan peserta didik dalam mempelajari suatu materi pelajaran yang telah disusun dalam kurikulum.
Keberhasilan pendidik dalam menyampaikan materi ajar, selain karena penguasaan bahan ajar, juga karena cara penyampaian materi yang tepat.
Sehingga peserta didik dapat belajar dengan suasana yang menyenangkan. Karena itu, agar peserta didik dapat belajar dengan suasana yang menyenangkan, pendidik perlu memiliki pengetahuan tentang pendekatan dan metode mengajar yang tepat.
Baca Juga: Penggunaan Metode Mengajar Anak Kelas 1 SD Sidorejo Lor 03 di Masa Pandemi
Peserta didik harus memahami bahwa apa yang mereka pelajari saat ini akan bermanfaat bagi kehidupan mendatang.
Baik di saat hidup di masyarakat maupun saat di tempat kerja. Peserta didik SMK Program Keahlian Kuliner dituntut untuk memiliki pengetahuan dan keterampilan yang menunjukkan hasil belajar mereka selama di kelas.
Beberapa ahli berpendapat bahwa peserta didik akan belajar lebih baik jika lingkungan belajar diciptakan secara alamiah.
Baca Juga: Lingkungan Belajar Dukung Keberhasilan Pembelajaran Materi Conversation
Afriani (2018) mengungkapkan bahwa belajar akan lebih bermakna apabila anak mengalami apa yang dipelajarinya tidak hanya mengetahui saja.
Lebih lanjut menurut Nursanti dkk (2016), proses belajar-mengajar secara alami dapat dilakukan menggunakan pembelajaran kontekstual yang memotivasi peserta didik untuk menghubungkan antara pengetahuan dan implementasinya dalam kehidupan sosial.
Proses belajar akan lebih bermakna ketika pendidik menjadi fasilitator yang membantu siswa menemukan makna pembelajaran.
Praktik membuat cake di SMK Negeri 3 Magelang dilaksanakan dengan menggunakan enam macam metode yang berbeda.
Pertama, menggunakan metode creaming (sugar butter), yaitu dengan cara mengocok lemak dan gula hingga mengembang pucat menyerupai krim.
Kemudian telur dimasukkan satu per satu sampai adonan tercampur rata. Terakhir dimasukkan bahan cair serta tepung secara bergantian.
Baca Juga: Bahan Ajar Membantu Memahami Konsep Asam dan Basa
Kedua, menggunakan metode sponge, yaitu dengan memisahkan putih telur untuk dikocok di tempat lain sampai mengembang.
Di tempat terpisah, kuning telur dan gula dikocok hingga kental berjejak, kemudian ditambahkan tepung dan mentega cair. Setelah itu, putih telur kocoknya ditambahkan ke dalam adonan.
Ketiga, metode flour & butter, yaitu perpaduan metode creaming dan metode sponge. Caranya, mentega dikocok sampai mengembang.
Sedangkan di tempat lain, gula dan telur dikocok hingga mengembang dan kental berjejak kemudian ditambahkan tepung terigu. Selanjutnya adonan dicampur hingga menyatu.
Baca Juga: Asyiknya Belajar Materi Asam Basa dan Garam dengan Balingtar
Keempat, menggunakan metode foaming, yaitu dengan cara mengocok putih telur berkecepatan tinggi ditambah sedikit bahan asam seperti air jeruk nipis atau cream of tartar hingga berbusa pekat. Kemudian tambahkan gula sedikit demi sedikit dan masukkan bahan lainnya.
Kelima, metode paste (reverse creaming), yaitu membentuk adonan menyerupai pasta, dengan cara mencampur bahan kering dengan lemak hingga berbutir-butir seperti pasir. Kemudian bahan cair dimasukkan perlahan hingga adonan tercampur rata.
Baca Juga: Literasi Berbahasa Arab dengan Metode Show And Tell
Keenam, metode all in one (blending), yaitu semua bahan diaduk jadi satu dengan hand whisk kemudian dioven.
Dengan penggunaan metode yang berbeda, peserta didik menjadi lebih memahami macam cake yang dihasilkan dan bagaimana tekstur hasilnya.
Peserta didik juga bisa membandingkan jenis cake tertentu lebih cocok dengan metode yang mana, sehingga mereka bisa menyesuaikan saat mendapat pesanan dari masyarakat. (on/aro)
Oleh: Nanik Kristiana, S.Pd
Guru SMK Negeri 3 Magelang
Editor : Agus AP