RADARSEMARANG.ID, Pembelajaran kewirausahaan berbasis proyek atau Project Based Learning (PJBL) adalah model pembelajaran yang menggunakan proyek/kegiatan sebagai media dalam proses pembelajaran untuk mencapai soft skills, hard skills, dan karakter.
Model pembelajaran PjBL ini tidak hanya fokus pada hasil akhirnya. Namun lebih menekankan pada proses bagaimana siswa dapat memecahkan masalahnya dan akhirnya dapat menghasilkan sebuah produk.
Pembelajaran kewirausahaan pada jurusan Busana kelas XI SMK Negeri 1 Tegal, siswa terjun langsung dalam membuat produk, khususnya produk busana dan lenan rumah tangga.
Pendekatan ini membuat siswa mendapatkan pengalaman yang sangat berharga dengan berpartisipasi aktif dalam pengerjaaan proyek.
Selama ini, siswa dalam membuat produk pun masih merasa kurang percaya diri. Apakah produknya bisa terjual atau tidak sesuai dengan harga yang ditentukan. Sehingga akan menyebabkan kerugian dan menumpuknya hasil produksi.
Rasa kurang percaya diri ini juga bisa timbul karena kurangnya rasa tanggung jawab dalam membuat produk, karena siswa masih merasa bahwa apa yang dibuat tidak harus mengikuti target waktu dan pemasaran.
Ketersediaannya alat produksi busana di sekolah dalam jumlah yang memadai dan jumlah siswa yang banyak ini sangat disayangkan kalau siswa tidak memanfaatkannya untuk melatih keterampilan dan menghasilkan sesuatu yang lebih produktif.
Sedangkan ketersediaannya alat produksi busana di sekolah dalam jumlah yang memadai dan jumlah siswa yang banyak ini sangat disayangkan kalau siswa tidak memanfaatkannya untuk melatih keterampilan dan menghasilkan sesuatu yang lebih produktif.
Dengan kondisi tersebut, penulis mencoba untuk menerapkan kolaborasi dengan industri busana di lingkungan sekitar sekolah, yang kebetulan banyak berdiri usaha dalam bidang busana, seperti konveksi.
Sekolah menawarkan sistem maklon atau jasa penjahitan busana dengan menggunakan fasilitas yang ada. Diharapkan ini akan memberikan keuntungan kepada kedua belah pihak.
Untuk sekolah, siswa dapat lebih terampil menjahit sesuai standar industri dan melatih rasa tanggung jawab pada pekerjaan.
Sedangkan untuk industri bisa meningkatkan produksi tanpa pembelian peralatan dan tempat untuk usaha, serta tenaga kerja.
Maklon sebenarnya dari bahasa Belanda makloon yang memiliki arti biaya/ upah produksi (manufacturing).
Berdasarkan kamus Bahasa Indonesia, maklon berasal dari kata baku maklun yang memiliki makna upah membuat pakaian, perhiasan dan sebagainya.
Dengan demikian secara harfiah, maklon adalah upah atas pembuatan produk (https://kbbi.web.id/maklun.html). Maklon dalam arti bisnis yaitu suatu kerja sama antara pemilik brand suatu produk dengan penyedia layanan jasa produksi.
Baca Juga: RS Paru dr Ario Wirawan Salatiga Ditunjuk sebagai Pengampu Layanan TB RO Regional Jateng dan Kaltim
Proses pembelajaran menyatu pada proses produksi dengan metode pembelajran PJBL dan yang menjadi pelaksana adalah siswa kelas XI Busana 1, 2, dan 3 pada semester genap.
Pada pelaksanaan proyek ini dibentuk tim proyek yang terdiri atas tim fasilitator, yaitu guru dan industry.
Tim pelaksana adalah siswa yang terdiri atas pimpinan proyek, perencana proyek, pelaksana proyek, pengawas proyek, dan quality control.
Skenario pelaksanaan proyek dimulai dari pembuatan proposal kerja sama sampai terjadi kesepakatan dengan industri.
Baca Juga: Batang Bakal Jadi Kota Industri, Pemkab Revisi RTRW
Kesepakatan yang diambil bahwa kita menawarkan jasa penjahitan atau maklon dengan bahan kain utama dan pelengkap lainnya, seperti benang, kancing, risluiting dan benang obras didapat dari industry. Untuk model yang diproduksi menyesuaikan pesanan dari pihak industri.
Bahan yang akan dijahit diberikan oleh industri sudah dalam bentuk potongan-potongan sesuai model yang sudah digabung per bagian (bundling).
Guru berperan aktif dalam proses produksi mendampingi dan mengarahkan siswa mulai dari dari perencanaan sampai pelaksanaan proyek, di mana menggunakan sistem ban berjalan seperti di industri untuk menjaga kualitas hasil jahitan.
Setiap proses diawasi dengan teliti, sehingga tidak terjadi kesalahan. Hasil jahitan harus melalui quality control sebelum didistribusikan.
Baca Juga: Wisnu Ajak Hikapindo Kolaborasi Rampungkan Stunting di Jateng
Manfaat kolaborasi dengan sistem maklon dengan industri dalam pembelajaran dapat meningkatkan keterampilan siswa dalam menjahit sesuai standar industri dan layak jual.
Karena pembelajaran ini memberikan pengalaman nyata dengan suasana dunia kerja. Kecepatan dan keterampilan menjahit siswa juga meningkat, karena penguasaan kompetensi lebih mendalam.
Siswa belajar mulai dari menganalisa spesifikasi dan persyaratan produk (barang/jasa) oder dari industri, perencenaan dan proses produksi, evaluasi, dan penilaian hasil produksi, penjamin mutu produk, distribusi hingga pelayanan purna jual.
Kolaborasi industri maklon juga meningkatkan produktivitas SMK berbasis produk standar industri dan meningkatkan kepercayaan dunia industri terhadap tamatan SMK khususnya busana. (on/aro)
Oleh: Hibah Masruroh, S.Pd
Guru Kewirausahaan SMK Negeri 1 Tegal
Editor : Agus AP