Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Peran Guru Penggerak Membangun Optimisme dalam Pembelajaran Berdiferensiasi

Tasropi • Rabu, 20 September 2023 | 19:40 WIB
Arlita Aryana Omegawati, S.Pd
Arlita Aryana Omegawati, S.Pd

RADARSEMARANG.ID, Pembelajaran berdiferensiasi adalah serangkaian keputusan masuk akal (common sense) yang dibuat guru berorientasi kepada kebutuhan murid.

Keputusan-keputusan yang dibuat tersebut terkait dengan tujuan pembelajaran yang jelas, respons terhadap kebutuhan murid, manajemen kelas yang efektif, lingkungan yang mengundang murid untuk belajar, maupun penilaian yang berkelanjutan.

Tomlinson (2001: 45) mengatakan pembelajaran berdiferensiasi adalah usaha untuk menyesuaikan proses pembelajaran di kelas untuk memenuhi kebutuhan belajar individu setiap murid.

Guru dapat memetakan kebutuhan belajar murid berdasarkan tiga hal. Yaitu kesiapan belajar, minat belajar, dan profil belajar.

Adapun tujuan melakukan identifikasi atau pemetaan kebutuhan belajar murid berdasarkan tingkat kesiapan belajar, untuk memodifikasi tingkat kesulitan pada bahan pembelajaran, sehingga dipastikan murid terpenuhi kebutuhan belajarnya (Joseph, Thomas, Simonette & Ramsook, 2013: 29).

Penerapan pembelajaran berdiferensiasi bertujuan menciptakan peluang bagi setiap murid untuk dapat berkembang dalam pembelajaran.

Pembelajaran berdiferensiasi membuat murid tertantang untuk belajar di kelas karena pembelajaran yang dirancang oleh guru sesuai kebutuhan mereka.

Namun ternyata masih ada sebagian guru yang pesimis dapat melaksanakan pembelajaran berdiferensiasi di kelasnya.

Mereka berpendapat pembelajaran berdiferensiasi sulit dilakukan karena membutuhkan persiapan yang lama dan dalam pelaksanaannya guru harus memberikan pendampingan yang beragam kepada murid.

Selain itu adanya miskonsepsi guru terhadap pembelajaran berdiferensiasi itu sendiri. Membuat guru takut mencoba menerapkan pembelajaran berdiferensiasi.

Miskonsepsi tersebut di antaranya guru harus mempersiapkan pembelajaran yang berbeda untuk setiap murid, pembelajaran berdiferensiasi membuat kelas kacau.

Berikut beberapa upaya yang dapat dilakukan guru penggerak untuk membangun optimisme rekan guru agar berani mencoba pembelajaran berdiferensiasi di kelasnya.

Pertama, guru penggerak dapat melakukan diseminasi tentang pembelajaran berdiferensiasi yang sudah mereka pelajari ketika mengikuti pendidikan guru penggerak.

Tujuannya meluruskan miskonsepsi rekan guru tentang pembelajaran berdiferensiasi.

Kedua, guru penggerak berbagi praktik tentang pembelajaran berdiferensiasi yang telah dilakukan di kelas.

Guru penggerak memperlihatkan rekaman video atau dokumentasi lain saat menerapkan pembelajaran berdiferensiasi.

Jika memungkinkan rekan guru juga bisa melakukan kunjungan kelas ketika guru penggerak mengajar.

Hal ini akan mempermudah rekan guru memahami pelaksanaan pembelajaran berdiferensiasi.

Ketiga, guru penggerak dapat memanfaatkan komunitas praktisi untuk saling berbagi pengalaman yang berkaitan dengan pembelajaran berdiferensiasi.

Sesama guru dapat membuka diskusi pembelajaran berdiferensiasi ini. Guru bisa saling bekerja sama merencanakan dan melaksanakan praktik pembelajaran berdiferensiasi.

Perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran berdiferensiasi ini membutuhkan kreativitas dan inovasi guru.

Baik dalam mempersiapkan konten, proses maupun produk yang akan dihasilkan murid.

Implementasi pembelajaran berdiferensiasi memerlukan persiapan-persiapan yang baik.

Langkah-langkah persiapan agar pembelajaran berdiferensiasi dapat berjalan efektif yakni :

pertama, menentukan tujuan pembelajaran; kedua, memetakan kebutuhan belajar murid (kesiapan belajar, minat, profil belajar).

Ketiga, menentukan strategi dan alat penilaian yang akan digunakan. Keempat, menentukan kegiatan pembelajaran berdiferensiasi yang akan dijalankan (konten, proses, produk).

Jika guru penggerak dapat menjalankan peran tersebut maka pembelajaran berdiferensiasi bukan lagi hal yang mewah.

Namun hal tersebut tak lepas dari kemauan guru untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat.

Sekeras apapun guru penggerak berusaha menggerakkan rekan guru, tanpa kesadaran dari rekan guru untuk belajar dan berubah, hal tersebut juga tidak akan terwujud.

Maka kolaborasi antara guru penggerak, rekan guru, dan kepala sekolah sangat penting untuk saling mendukung dalam proses belajar tersebut. Agar murid-murid kita mendapatkan pelayanan pendidikan yang terbaik. (igi1/lis)

 

Oleh : Arlita Aryana Omegawati, S.Pd

Guru Kelas SD Negeri Salatiga 06

Editor : Agus AP
#Guru Kelas #Pembelajaran Berdiferensiasi #Guru Penggerak #KEPALA SEKOLAH