Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Asesmen Diagnostik Kognitif Literasi dan Numerasi untuk Mengetahui Kemampuan Calistung Siswa Kelas 1 SD

Tasropi • Jumat, 15 September 2023 | 22:24 WIB

Sutriyanah, S.Pd.SD
Sutriyanah, S.Pd.SD

RADARSEMARANG.ID, Dalam pembelajaran Kurikulum Merdeka di awal tahun pembelajaran seorang guru harus melaksanakan Asesmen Diagnostik Kognitif dan Non Kognitif untuk mengetahui kemampuan masing-masing peserta didik.

Begitu juga yang dilakukan seorang guru SD kelas 1 untuk mengetahui kemampuan peserta didik yang baru saja lulus dari sekolah TK, tentu saja memiliki kemampuan yang berbeda-beda.

Kurikulum di TK mengatakan bahwa Kemendikbud tidak mewajibkan penguasaan membaca, menulis, dan berhitung untuk para peserta didik Pendidikan Usia Dini (PAUD). Kurikulum pendidikannya lebih menekankan pada pendidikan karakter.

Sedangkan kurikulum di SD sudah dituntut untuk menguasai menulis, membaca dengan lancar, dan berhitung (Calistung).

Namun bukan berarti kemampuan peserta didik dari TK sama. Mereka ada yang belum menguasai, sedikit menguasai, dan sudah menguasai Calistung.

Maka tugas dari seorang guru kelas 1 SD adalah untuk mengetahui dan memetakan kemampuan peserta didik dengan mengadakan penilaian atau Asesmen Diagnostik Kognitif Literasi dan Numerasi.

Latar belakang dari peserta didik baru yang ada di Kelurahan Candiroto berbeda-beda. Mereka ada yang lulusan TK, ada juga yang tidak bersekolah.

Oleh karena itu, guru kelas 1 SD Negeri 2 Candiroto, Kecamatan Kendal, Kabupaten Kendal wajib melakukan penilaian terhadap peserta didiknya untuk mengetahui kemampuan peserta didiknya.

Asesmen Diagnostik Kognitif Literasi dilakukan untuk mengetahui kemampuan membaca dan menulis.

Sedangkan Asesmen Diagnostik Numerasi untuk mengetahui kemampuan berhitung peserta didik di awal pembelajaran tahun ajaran 2023/2024.

Asesmen Diagnostik adalah penilaian yang bertujuan untuk mengetahui kelemahan -kelemahan peserta didik serta faktor-faktor penyebabnya. (Suwarto, 2012 : 134 ).

Fungsi Asesmen Diagnostik yaitu untuk mengetahui masalah-masalah yang diderita atau mengganggu peserta didik.

Sehingga peserta didik mengalami kesulitan, hambatan, atau gangguan ketika mengikuti program pembelajaran suatu bidang studi. (Subali, 2012 : 138).

Tujuan Asesmen Diagnostik adalah untuk mengidentifikasi capaian kompetensi peserta didik, menyesuaikan pembelajaran di kelas dengan kompetensi rata-rata peserta didik, dan memberikan kelas remedial atau pembelajaran tambahan kepada peserta didik yang kompetensinya di bawah rata-rata. Asesmen Diagnostik ada dua, yaitu kognitif dan non kognitif.

Untuk mengetahui kemampuan calistung dari peserta didik kelas 1 SD Negeri 2 Candiroto, di awal tahun pembelajaran guru mengadakan Asesmen Diagnostik Kognitif berupa tes Literasi dan Numerasi.

Ada tiga tahapan pelaksanaan Asesmen ini. Pertama, tahap persiapan yang dilakukan membuat jadwal asesmen.

Jadwal Asesmen Diagnostik dilakukan di minggu-minggu awal pembelajaran. Selanjutnya mengidentifikasi asesmen.

Materi Asesmen Diagnostik Kognitif Literasi kelas 1 semester 1 yaitu guru bisa menyiapkan bacaan bertingkat dari yang termudah sampai yang sulit.

Materi pertama berupa kartu huruf a sampai z. Materi kedua kartu huruf suku kata. Materi ketiga kartu huruf kata, dan materi keempat berupa bacaan kalimat.

Materi Asesmen Diagnostik Kognitif Numerasi guru menyiapkan kartu bilangan 1 sampai 10, menyiapkan lembar kerja yang menugaskan untuk menjodohkan gambar dalam jumlah tertentu dengan lambang bilangan.

Selanjutnya guru menyiapkan soal penjumlahan dengan hasil 1 sampai 10. Tahap persiapan berikutnya guru menyiapkan lembar Asesmen Literasi dengan kolom nama peserta didik, nilai peserta didik berisi: mengenal huruf, membaca suku kata, membaca kata, dan membaca kalimat.

Lembar Asesmen Numerasi dengan kolom nama peserta didik, nilai peserta didik yang berisi: mengenal lambang bilangan, menghitung benda, dan penjumlahan.

Guru bisa menambahkan penilaian lain. Misalnya, menanyakan nama, bakat, minat atau kesukaan.

Kedua, tahap pelaksanaan Asesmen Literasi dan Numerasi dengan cara tatap muka atau belajar di rumah.

Ketiga, tahap tindak lanjut, meliputi mengolah hasil Asesmen membagi nilai menjadi tiga kategori, yaitu Paham Utuh, Paham Sebagian, dan Tidak Paham.

Selanjutnya menghitung rata-rata kelas. Jika nilai di bawah rata-rata, peserta didik butuh bimbingan khusus.

Jika mendapatkan nilai rata-rata bisa mengikuti pembelajaran sesuai fasenya. Jika nilai di atas rata-rata peserta didik mendapatkan pembelajaran pengayaan.

Dengan mengadakan Asesmen Diagnostik Kognitif Literasi dan Numerasi atau Calistung di awal tahun pembelajaran untuk kelas 1 SD, guru dapat berkomitmen memberikan pembelajaran terbaik, dan diharapkan peserta didik mendapatkan pengalaman yang bermakna. (*/aro)

 

Oleh: Sutriyanah, S.Pd.SD
Guru SD Negeri 2 Candiroto, Kecamatan Kendal, Kabupaten Kendal

Editor : Agus AP
#Sutriyanah #Kurikulum Merdeka #Asesmen Diagnostik Kognitif Literasi #calistung