RADARSEMARANG.ID, Merdeka Belajar adalah program kebijakan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemendikbud RI) yang dicanangkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Kabinet Indonesia Maju Nadiem Anwar Makarim.
Esensi kemerdekaan berpikir dalam merdeka belajar harus didahului oleh para guru sebelum mereka mengajarkannya pada peserta didik.
Kurikulum merdeka memberikan kebebasan kepada guru untuk menerapkan pembelajaran yang lebih mendalam sesuai dengan kebutuhan peserta didik.
Ciri khas Merdeka Belajar adalah pembelajaran yang berpusat pada peserta didik (student oriented).
Pembelajaran berpusat pada peserta didik adalah sebuah proses untuk mendorong siswa agar terlibat secara aktif dalam kegiatan pembelajaran dengan mempertimbangkan karakteristik peserta didik.
Karakteristik peserta didik dapat digunakan sebagai dasar dalam perencanaan proses pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, serta penilaian pembelajaran.
Pembelajaran yang dipusatkan pada peserta didik dapat membantu mengembangkan keterampilan belajar seperti manajemen waktu, komunikasi, berpikir kritis dan keterampilan memecahkan masalah (Krishnan, 2015).
Permasalahan pendidikan di Indonesia yaitu rendahnya kualitas pendidikan dibandingkan dengan negara-negara lain.
Pendidikan yang berkualitas tinggi merupakan bentuk pemenuhan kebutuhan siswa agar menghasilkan lulusan yang berkualitas.
Dalam hal ini, peran guru sangat dibutuhkan dan guru perlu memahami bahwa dalam mengajar dapat memakai banyak cara untuk memastikan semua siswa menerima pembelajaran yang berkualitas.
Untuk mewujudkannya, perlu pergeseran fokus kegiatan dari guru ke peserta didik atau yang dikenal dengan istilah pembelajaran berpusat pada peserta didik (Student Centered Learning).
Melalui penerapan pembelajaran yang dipusatkan pada peserta didik, memungkinkan untuk belajar secara mandiri dan berpartisipasi aktif dalam kegiatan pembelajaran serta pserta didik selalu ditantang untuk dapat berpikir kritis.
Dalam penerapan pembelajaran ini, guru harus mempertimbangkan kebutuhan setiap peserta didik sebagai suatu individu atau kelompok, sehingga dapat mendorong untuk aktif berpartisipasi dalam proses belajar sepanjang waktu.
Pelaksanaan pembelajaran yang dipusatkan pada peserta didik perlu disesuaikan dengan tipe mereka, serta perlu disesuaikan dengan disiplin dan lingkungan di mana kegiatan pembelajaran dilaksanakan.
Peran guru dalam penerapan pembelajaran ini lebih ke fasilitator daripada menjadi seorang pengajar, sehingga peserta didik menjadi pembelajar aktif dalam proses pembelajaran. Sedangkan guru membantu membimbing, mengelola, dan mengarahkan pembelajaran.
Proses Pmbelajaran IPA menekankan pada proses berbuat dan mencari tahu melalui pengalaman langsung, dapat menjelajahi dan memahami alam sekitar untuk mengembangkan kompetensi dan pemahaman yang lebih dalam.
Mengingat perkembangan sikap, mental, dan fisik anak pada jenjang SMP sebagian besar berada pada masa transisi dari fase konkret ke fase operasi formal. Maka sebaiknya mereka mulai dilatih bisa berpikir abstrak.
Berdasarkan pengalaman peserta didik kelas VII SMP Negeri 42 Semarang , masih terlalu sulit beradaptasi dengan baik di sekolah yang baru.
Hal ini disebabkan peserta didik berada pada masa peralihan dari anak-anak ke masa remaja. Sehingga perilaku dan cara berpikirpun sangat berpengaruh pada proses tersebut.
Umumnya, mereka masih memperlihatkan sikap atau perilaku dan kebiasaan yang belum sesuai harapan terutama dalam proses pembelajaran seperti lebih banyak diam dari pada berbuat.
Masih mengharapkan bantuan orang lain dari pada berusaha sendiri mencari tahu, serta integritas sangat rendah.
Untuk mengatasi permasalahan tersebut, upaya yang ditempuh dalam memperbaiki kualitas pembelajaran dan mengembangkan kemampuan peserta didik dalam berpikir kritis, kreatif, komunikatif, dan kolaboratif.
Sesuai dengan Profil Pelajar Pancasila adalah dengan merancang pembelajaran IPA menggunakan model mind mapping.
Model ini bertujuan menciptakan proses pembelajaran lebih efektif, berkualitas, dan bermakna. Sehingga peserta didik bisa mencapai kompetensi sesuai harapan.
Pembelajaran berbasis mind mapping memiliki keungggulan seperti menjadikan peserta didik aktif, kritis, kreatif, dan mandiri, serta memahami materi lebih mudah dan utuh.
Berdasarkan penelitian, mind mapping terbukti meningkatkan kreativitas dan aktivitas dalam pembelajaran.
Menggunakan mind mapping dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam, mampu meningkatkan kreativitas, aktivitas, dan hasil belajar peserta didik.
Pembelajaran berbasis mind mapping merupakan pembelajaran menggunakan peta pikiran melalui kata kunci, istilah, gambar/simbol, dan menggambarkan keutuhan materi.
Pembelajaran tersebut dapat mendorong peserta didik dalam mengembangkan teknik berpikir ke segala arah, mengingat, membuat catatan, meningkatkan motivasi, serta dapat menyimpulkan hasilnya dengan baik.
Penggunaan model pembelajaran mind papping membuat proses pembelajaran berjalan efektif. Guru dapat menjadi fasilitator yang hebat. Dan peserta didik dapat menemukan serta memahami konsep yang dipelajari dengan lebih mudah.
Dengan penggunaan model pembelajaran mind mapping akan mampu mewujudkan Merdeka Belajar dan meningkatkan hasil belajar IPA kelas VII SMP Negeri 42 Semarang. (on/aro)
Oleh: Indarto, S.Pd, MM.
Guru IPA SMP Negeri 42 Semarang
Editor : Agus AP