Berita Semarang Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Event Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Foto

Dilema Penulisan Kata di dan ke

Tasropi • Rabu, 6 September 2023 | 15:31 WIB

Dewi Puspitasari, S.Pd
Dewi Puspitasari, S.Pd


RADARSEMARANG.ID, Beberapa saat lalu penulis mengajarkan materi menulis surat lamaran pekerjaan untuk siswa kelas XII SMA Negeri 1 Tuntang, Kabupaten Semarang.

Salah seorang murid menanyakan, “Di bawah itu menulisnya sambung atau pisah?”.

Dari pertanyaan tersebut menyadarkan penulis untuk lebih teliti dalam mengamati tulisan siswa. Hasil pengamatan diketahui, dari 9 kelas hanya sedikit siswa yang memahami penulisan “di” dan ‘ke “ secara tepat.

Kapan “di” dan “ke” ini digunakan secara terpisah? Dan kapan harus disambung?

Masalah ejaan bahasa Indonesia tersebut di atas bukan hanya menghinggapi murid saja, kadang mereka yang awan menulis pun menghadapi problematika yang serupa.

Selain itu kesalahan tersebut jarang diperhatikan karena dianggap sepele.

Permasalahan timbul karena “di” dan “ke” memiliki dua bentuk berbeda. Sebagai preposisi (kata depan) dan sebagai prefiks (awalan).

Sebagai preposisi “di” dan “ke” termasuk jenis kata (kata depan). Wujud ini memiliki fungsi sebagai penunjuk waktu dan tempat.

Penulisan yang tepat adalah “di” dan “ke” terpisah dengan kata kata yang mengikutinya. Contoh: di kantor, di saat, ke rumah.

Sedang sebagai prefiks “di” dan “ke” berwujud morfem. Morfem merupakan satuan bahasa terkecil dan maknanya relatif stabil.

Ada dua bentuk morfem, yakni bebas dan terikat. Dikatakan morfem bebas karena morfem ini bisa berdiri sendiri dalam kalimat. Sedang morfem terikat memerlukan kata dasar agar dapat muncul dalam kalimat.

Morfem “di” dan “ke” termasuk jenis morfem terikat. “Di” dan “ke” membutuhkan kata dasar untuk melekat. Contoh: di + makan = dimakan, kejepit = kejepit.

Maka penulisan “di” dan “ke’ pada kasus tersebut harus disambung atau digabung.

Sayangnya materi pembelajaran jenis kata dan imbuhan sudah tidak muncul dalam kurikulum pembelajaran bahasa Indonesia.

Oleh sebab itu guru harus pintar bersiasat. Sambil menyelam minum air. Menyampaikan materi pembelajaran sesuai kurikulum sambil belajar tata bahasa.

Jika diterangkan dengan gaya seperti di atas bisa dipastikan murid susah untuk paham. Bahkan semakin bingung. Banyak istilah asing yang baru saja mereka dengar bermunculan.

Dari permasalahan murid tersebut muncullah ide pemecahan sederhana sebagai berikut.

Ajak murid mengumpulkan kata yang menggunakan “di” dan “ke” sebanyak yang mereka inginkan. Atau guru bisa memberikan batasan satu murid sepuluh kata.

Langkah berikutnya adalah menganalisis setiap kata yang mereka miliki. Analisis yang dilakukan cukup sederhana dan tidak memerlukan banyak waktu.

Dianggap sederhana karena murid hanya menghilangkan “di” atau “ke” pada kata. Lalu lekatkan imbuhan lain (misal : me-) pada bentuk yang dianggap kata dasar.

Sehingga terbentuklah kata baru. Selanjutnya cocokkan kata baru tersebut dengan istilah bahasa Indonesia.

Jika kata baru tersebut ada dalam istilah, maka penulisan “di” dan “ke” harus disambung dengan bentuk dasar. Dan kesimpulannya “di” atau “ke” merupakan prefiks.

Contoh: kata disambut berasal dari bentuk dasar sambut. Ubah “di-“ pada kata tersebut dengan imbuhan “me-“.

Sehingga berubah menjadi kata menyambut. Ternyata istilah menyambut ada dalam bahasa Indonesia. Kesimpulannya penulisan “di” pada kata tersebut disambung atau digabung.

Sebaliknya, apabila kata tersebut tidak ada dalam istilah sudah dipastikan harus ditulis dengan bentuk terpisah. Kesimpulannya “di” atau “ke” di sini berfungsi sebagai preposisi.

Contoh: kata kesana dari bentuk dasar sana. Seperti di atas ganti “ke” dengan imbuhan “me-“ pada kata sana. Sehingga terbentuk me + sana = mesana.

Ternyata kata mesana ini tidak ditemukan dalam istilah bahasa Indonesia. Kesimpulan yang diperoleh penulisan “ke” pada istilah tersebut harus dipisah, ke sana.

Dengan sistem sederhana ini murid lebih mudah, cepat paham, dan bisa langsung dipraktekkan dalam pembelajaran sambil kita memberikan materi pembelajaran yang tengah berjalan. (ipa2/fth)


Oleh : Dewi Puspitasari, S.Pd
Guru Bahasa Indonesia SMA Negeri 1 Tuntang, Kabupaten Semarang

Editor : Agus AP
#Bahasa Indonesia #Pembelajaran Bahasa Indonesia #Penulisan Kata