RADARSEMARANG.ID, Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) menurut Suwadi adalah suatu usaha sadar pemerintah dalam menanamkan konsep kebangsaan yang multidimensional yang berkaitan dengan dasar-dasar pengetahuan tentang penanaman nilai-nilai kewarganegaraan (civic values) atau nilai kebangsaan, sosiologi politik/masyarakat politik, demokrasi dan persiapan anak bangsa untuk berpartisipasi dalam proses politik secara menyeluruh) agar menjadi warga negara yang baik. (Suwadi:2007).
Pendidikan kewarganegaraan adalah mata pelajaran yang diajarkan sejak MI/SD. Proses pembelajaran PKn ini bertujuan agar peserta didik secara aktif dapat mengembangkan berbagai potensi yang ada dalam dirinya, sehingga mampu meningkatkan kecerdasan keterampilan, kecakapan, dan kesadaran mengenai hak-hak dan kewajiban mereka sebagai seorang warga negara Indonesia mampu memahami dan mengahargai hak-hak azasi manusia.
Minat belajar siswa pada bidang PKn ini perlu mendapat perhatian khusus, karena minat merupakan salah satu faktor penunjang keberhasilan proses belajar.
Di samping itu minat yang timbul dari kebutuhan siswa merupakan faktor penting bagi siswa dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan atau usahanya.
PKn bagi siswa pada umumnya merupakan pelajaran yang kurang disenangi karena kurangnya antusias siswa terhadap pelajaran ini.
Untuk itu, penulis mengajak peserta didik kelas V SD Negeri 2 Turunrejo, Kecamatan Barngsong, Kabupaten Kendal untuk membuat komik dalam menyampaiakan materi hak, kewajiban, dan tanggung jawab sebagai warga negara.
Komik adalah suatu bentuk seni yang menggunakan gambar-gambar tidak bergerak yang disusun sedemikian rupa, sehingga membentuk jalinan cerita.
Selain memberikan hiburan, komik juga dapat dimanfaatkan untuk membantu siswa dalam mengatasi kesulitan belajar.
Komik dipilih sebagai media pembelajaran yang menyenangkan. Karena banyak peserta didik yang lebih suka membaca komik daripada buku pelajaran.
Langkah pertama yang dilakukan peserta didik untuk membuat komik sederhana, yakni menentukan tema cerita dalam komik.
Tema komik kali ini adalah hak, kewajiban, dan tanggung jawab sebagai warga negara. Langkah kedua, setelah menentukan tema, peserta didik bisa mulai menulis percakapan atau dialog.
Di saat bersamaan, tentukan tokoh-tokoh yang mendukung cerita. Misalnya dua orang atau tiga orang atau lebih.
Langkah ketiga, setelah cerita dan dialog sudah jadi, peserta didik mulai menggambar tokoh tersebut dilengkapi dengan dialognya.
Langkah keempat, melengkapi setiap tokoh dengan balon kata yang diisi dengan ucapan atau kata-kata yang dikatakan si tokoh tersebut.
Langkah terakhir yaitu pastikan gambar tokoh dalam cerita tersebut konsisten, dalam arti tokoh A memiliki gambar yang tetap, begitu juga tokoh B.
Sebagai catatan, balon kata dalam komik selain diisi dengan dialog atau kata-kata yang diucapkan tokoh juga bisa menjadi tempat menjelaskan narasi cerita.
Lebih menarik lagi jika gambar komiknya berwarna, pastinya peserta didik semakin tertarik untuk membacanya.
Peserta didik di sini tentunya lebih aktif dalam mengikuti pembelajaran, dari mulai menyiapkan peralatan yang telah dibawa dari rumah, seperti kertas HVS, pensil, pensil warna, dan penghapus.
Jadi, setiap siswa mulai memahami apa arti hak, kewajiban maupun tanggung jawab sebagai warga negara.
Misalnya saja, ada anak yang membuat komik tentang orang yang lupa memakai memakai helm saat berkendaraan motor.
Jadi, dengan adanya kegiatan komik membuat peserta didik dapat berpikir kritis, mengembangkan kemampuan berbahasa, menggambar, serta meningkatkan minta belajar.
Ciri pengajaran yang berhasil salah satunya dilihat dari kadar kegiatan belajar siswa. Makin tinggi kegiatan belajar siswa, makin tinggi peluang berhasilnya pengajaran (Nana Sudjana, 2004:72). (*/aro)
Oleh: Fitrina, S.Pd.SD
Guru SD Negeri 2 Turunrejo, Kecamatan Brangsong, Kabupaten Kendal
Editor : Agus AP