RADARSEMARANG.ID, Pendidikan merupakan proses untuk membantu manusia dalam mengembangkan potensi dirinya. Sehingga mampu menghadapi setiap perubahan yang terjadi.
Sejalan dengan perkembangan masyarakat, pendidikan banyak menghadapi berbagai tantangan dan hambatan. Salah satu hambatannya adalah rendahnya mutu pendidikan di negara ini.
Matematika merupakan salah satu bidang studi yang menduduki peranan penting dalam pendidikan.
Sebagai bukti adalah pelajaran matematika diberikan kepada semua jenjang pendidikan mulai dari Sekolah Dasar sampai Perguruan Tinggi.
Pembelajaran matematika pada tingkat dasar dan menengah menjadi kunci kesuksesan siswa dalam penguasaan dan pemahaman terhadap matematika.
Dengan berbagai karakteristik kemampuan siswa dalam memahami dan menerima materi matematika.
Faktor yang menyebabkan rendahnya pemahaman konsep siswa dalam belajar matematika materi Bilangan Berpangkat di SMP Negeri 1 Mranggen pada semester ganjil tahun pelajaran 2022/2023 adalah kegiatan pemebelajaran berpusat pada guru.
Dalam penyampaian materi monoton. Sehingga siswa kurang dapat aktif dan kurang dapat dengan leluasa menyampaikan ide-idenya.
Akibatnya pemahaman konsep siswa menjadi kurang optimal serta perilaku belajar seperti suasana kelas yang menyenangkan, keaktifan dan kreativitas siswa dalam pembelajaran matematika hampir tidak tampak.
Zulkardi dan Putri (Siti Syadiah, 2018: 3) mengemukakan realistik mathematics education (RME) adalah teori pembelajaran yang bertitik tolak dari hal-hal yang real atau pernah dialami siswa, menekankan keterampilan proses ( doing of mathematics), berdiskusi dan berkolaborasi, berargumentasi dengan teman sekelas.
Sehingga mereka dapat menemukan sendiri sebagai kebalikan dari guru memberi (teacher telling).
RME adalah model pembelajaran matematika dimana pembelajaran harus dihubungkan dengan kenyataan, dekat dengan pengalaman anak-anak dan relevan dengan masyarakat.
Model ini menggunakan masalah kontekstual, masalah yang pernah dialami siswa sebagai titik awal dalam belajar matematika.
Implementasi RME yang dilakukan di SMP Negeri 1 Mranggen dalam pembelajaran matematika meliputi tiga fase yaitu fase pengenalan, fase eksplorasi, dan fase meringkas.
1) Pada fase pengenalan, guru memperkenalkan masalah realistik dalam matematika kepada seluruh siswa serta membantu memberi pemahaman (setting) masalah.
Fase ini mengaitkan masalah yang dikaji saat itu ke pengalaman siswa sebelumnya.
2) Pada fase eksplorasi, siswa dianjurkan bekerja secara individual, berpasangan atau dalam kelompok kecil, mereka mencoba membuat model situasi masalah, berbagi pengalaman atau ide, mendiskusikan pola yang dibentuk saat itu, serta membuat dugaan.
Selanjutnya dikembangkan strategi-strategi pemecahan masalah yang dilakukan berdasarkan pada pengetahuan informasi atau formal yang dimiliki siswa.
Dalam hal ini, peranan guru adalah memberikan bantuan seperlunya kepada siswa yang memerlukan bantuan.
3) Pada fase meringkas, guru mengawali pekerjaan lanjutan setelah siswa menunjukkan kemajuan dalam pemecahan masalah.
Peranan siswa dalam fase ini mengajukan dugaan, pertanyaan kepada yang lain, bernegosiasi, alternatif-alternatif pemecahan masalah, memberikan alasan, memperbaiki strategi dan dugaan mereka, dan membuat keterkaitan.
Implementasi pembelajaran dengan model pembelajaran RME mampu meningkatkan keaktifan siswa dan prestasi belajar matematika pada materi Bilangan Berpangkat bagi siswa kelas VIII semester ganjil tahun 2023/2024 di SMPN 1 Mranggen Kabupaten Demak.
Pendekatan RME dapat mengembangkan sikap positif anak dan pemahaman, serta aktivitas dalam pembelajaran matematika.
Dengan RME soal yang abstrak dapat menjadi soal yang biasa bagi anak.
Selain itu, dengan RME banyak memfasilitasi berbagai aspek, di antaranya
a) Matematika lebih menarik, relevan, dan bermakna, tidak terlalu formal dan tidak terlalu abstrak.
b) Mempertimbangkan tingkat kemampuan siswa.
c) Menekankan belajar matematika pada learning by doing.
d) Memfasilitasi penyelesaian masalah matematika dengan tanpa menggunakan penyelesaian (algoritma) yang baku. e) Menggunakan konteks sebagai titik awal pembelajaran matematika. (ipa2/fth)
Oleh : SRIYANTO, S.Pd.,M.Pd
Guru Matematika SMP Negeri 1 Mranggen