RADARSEMARANG.ID, MEMBACA merupakan salah satu kemampuan dasar yang harus dimiliki setiap siswa. Kemampuan membaca diharapkan tak sekedar lancar dan pandai membaca. Melainkan mampu memahami isi bacaan dalam teks.
Memahami teks cerita merupakan salah satu materi yang dipelajari dalam pelajaran Bahasa Indonesia di kelas IV SD.
Tapi, berdasarkan hasil observasi menunjukan bahwa pemahaman siswa kelas IV SD Negeri 1 Bungkanel masih sangat rendah.
Hal ini dapat terlihat dari hasil penilaian harian kompetensi dasar. Sebagian besar siswa menjawab salah.
Faktor yang mempengaruhi hasil tersebut, karena siswa tidak paham dengan penjelasan guru.
Sebab guru cenderung menggunakan metode lama. Seperti ceramah. Sehingga siswa pasif dan hanya mendengarkan. Padahal, siswa seharusnya diberi kesempatan untuk mengungkapkan pendapatnya dan apa yang dipahaminya.
Berdasarkan hal tersebut, penulis sebagai seorang guru yang mengampu di kelas tersebut melakukan upaya perbaikan. Salah satunya mengubah metode pembelajaran menggunakan metode pembelajaran kooperatif tipe jigsaw.
Metode pembelajaran ini diartikan sebagai cara atau pola yang khas dalam memanfaatkan berbagai prinsip dasar pendidikan serta berbagai teknik dan sumber daya terkait lainya.
Supaya terjadi proses pembelajaran pada diri pebelajar—(Abdorrakhman Gintings, 2008: 42).
Pembelajaran kooperatif model jigsaw merupakan model belajar kooperatif. Dimana siswa belajar dengan cara kelompok kecil. Terdiri dari empat sampai enam orang secara heterogen.
Kelompok siswa saling bekerjasama dan ketergantungan positif. Tapi tanggung jawab diberikan secara mandiri—(Lie dalam Rusman, 2014: 218).
Langkah-langkah pembelajaran memahami teks cerita menggunakan metode jigsaw sebagai berikut: pertama, guru membagi anak didik menjadi beberapa kelompok sesuai dengan jumlah materi yang ada.
Kedua, setiap kelompok mendapat tugas membaca dan memahami materi yang berbeda beda. Ketiga, setiap kelompok mengirimkan anggotanya ke kelompok lain untuk menyampaikan apa yang telah mereka pelajari dalam kelompoknya.
Lanjut, Keempat, mengembalikan suasana kelas seperti semula, lalu tanyakan sekiranya ada persoalan yang tidak terpecahkan dalam kelompok.
Kelima, memberi anak didik beberapa pertanyaan untuk mengecek pemahaman mereka terhadap materi yang baru saija mereka pelajari,
Dilanjutkan, pengecekan pemahaman anak didik dilakukan untuk mengetahui sejauh mana kemampuan mereka dalam memahami materi. Keenam, kegiatan ini diakhiri dengan diskusi yang dilakukan secara berpasangan atau dengan seluruh kelas.
Hasilnya, metode pembelajaran menjadi jigsaw dinilai lebih efektif. Pemahaman belajar siswa kelas IV SD Negeri 1 Bungkanel meningkat signifikan.
Selain itu keaktifan sebagian besar siswa pun mengalami peningkatan. Sehingga dapat disimpulkan proses belajar menggunakan metode jigsaw berhasil. (fu1/bud)
SOIMATUN, S.Pd.SD, Guru SD Negeri 1 Bungkanel, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Purbalingga
Editor : Agus AP