Kearifan lokal menurut Rosidi (2011:29) adalah kemampuan kebudayaan setempat dalam menghadapi pengaruh kebudayaan asing pada waktu kedua kebudayaan itu berhubungan pada saat ini.
Filter-filter budaya yang diharapkan bisa memilah-milah mana budaya yang baik dan mana budaya yang buruk mulai tidak berfungsi akibat derasnya persaingan dan kecanggihan teknologi.
Salah satu cara atau filter yang bisa membendung budaya yang negatif adalah melalui pendidikan kearifan lokal yang merupakan bagian dari tema utama proyek penguatan profil pelajar Pancasila.
Penerapan kearifan lokal dalam membentuk karakter pada anak dapat dilakukan dalam kegiatan pembelajaran di luar kelas atau kegiatan sehari-hari.
Misalnya penggunaan bahasa daerah, mengenal makanan tradisional, mempelajari seni budaya setempat, menaati adat dan tradisi di masyarakat, dan membiasakan anak senantiasa berperilaku sopan dan santun.
Gagasan tentang pentingnya mempelajari hal-hal di luar kelas tersebut pernah disampaikan oleh Ki Hajar Dewantara.
Untuk mewujudkan cita-cita tersebut, hadirlah Kurikulum Merdeka beserta inovasi-inovasi yang menyertainya dalam bentuk Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5).
Proyek tersebut diharapkan dapat memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk ‘mengalami pengetahuan’ sebagai sebuah proses penguatan karakter sekaligus bentuk belajar secara nyata dari lingkungan sosialnya.
Peserta didik membangun rasa ingin tahu dan kemampuan inkuiri melalui eksplorasi budaya dan kearifan lokal masyarakat sekitar atau daerah tersebut, serta perkembangannya.
Salah satu tujuan P5 adalah memberikan pengetahuan dan keterampilan tambahan di lingkungan sekitar agar tujuan melestarikan nilai-nilai dan budaya masyarakat dapat tercapai.
Lunturnya budaya lokal terjadi karena masuknya budaya-budaya yang dinilai lebih menarik. Hal itu menjadi salah satu penyebab lunturnya kecintaan generasi muda terhadap budaya lokal.
Kearifan lokal merupakan bagian dari budaya suatu masyarakat yang tidak dapat dipisahkan dari masyarakat itu sendiri. Di SDN Mejing 2 dengan adanya gelar karya diharapkan dapat meningkatkan solidaritas dan kebersamaan antara anggota masyarakat.
Kegiatan sekolah dengan gelar karya dapat mewujudkan keterampilan dan sikap siswa dalam melestarikan nilai-nilai dan kebudayaan masyarakatnya. Peserta didik dituntut menggali informasi dari lingkungan, apa saja budaya nenek moyang yang perlu dilestarikan agar melahirkan generasi yang bermartabat dan membentuk karakter bangsa.
Memperkenalkan budaya lokal terhadap siswa dengan pendidikan karakter berbasis kearifan budaya lokal juga memiliki tujuan mengubah sikap dan perilaku.
Pendidikan karakter menurut Masnur Muslich (2011: 81) untuk meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan yang mengarah pada pencapaian pembentukan karakter dan akhlak mulai peserta didik secara utuh, terpadu, dan seimbang.
Dengan kearifan lokal, nilai-nilai tradisi dan kebudayaan akan tetap terjaga dan lestari. Karena salah satu cara untuk menyelamatkan karakter bangsa dengan menggalakkan budaya-budaya lokal yang penuh dengan kearifan dan semangat daya juang.
Selain itu perlu dipikirkan cara mengembangkan kearifan lokal dan budaya-budaya lokal demi mempertahankan dan memperkuat karakter bangsa.
Cara yang bisa dilakukan dengan mengangkat tema kearifan lokal dalam proyek penguatan profil pelajar Pancasila dalam Kurikulum Merdeka. Nilai-nilai kearifan lokal akan membantu siswa dalam memahami setiap konsep dalam materi.
Sehingga bekal pengetahuan yang diperoleh siswa tidak sebatas pengetahuan, tetapi juga dapat diimplementasikan siswa dalam wujud praktik di luar sekolah. (pf/lis)
Guru SDN Mejing 2, Kec. Candimulyo, Kabupaten Magelang Editor : Agus AP