Kemampuan ini semakin penting di era digital, terutama bagi generasi muda. Belajar literasi keuangan di usia dini dapat membantu mengoptimalkan penggunaan dan pengelolaan uang di masa depan.
Pengenalan literasi finansial sejak dini sangat bermanfaat agar anak-anak terbiasa dalam mengelola keuangan dengan baik dan benar di masa yang akan datang (Dian Aswita, dkk, 2022: 107).
Belajar literasi keuangan di usia dini dapat memberikan manfaat jangka panjang. Pertama, anak-anak belajar mengelola uang. Mereka akan belajar membedakan mana kebutuhan dan mana keinginan.
Kedua, mampu membuat rencana keuangan. Anak-anak yang belajar dasar-dasar literasi keuangan juga akan belajar cara membuat rencana keuangan. Ketiga, mampu menghindari utang dan pengeluaran berlebihan.
Anak-anak yang memiliki pemahaman yang baik tentang literasi keuangan akan lebih mampu menghindari hutang dan pengeluaran berlebihan yang dapat menyebabkan masalah keuangan di masa depan. Keempat, mampu memilih tabungan yang tepat. Belajar literasi keuangan juga membantu anak-anak untuk memilih tabungan yang tepat sesuai kebutuhan mereka.
Lantas bagaimana cara mengajarkan anak tentang literasi keuangan? Kita paham setiap orang memiliki kemampuan literasi keuangan yang berbeda-beda. Salah satunya dengan menabung.
Menabung menggunakan metode 6 Jar. Metode ini ditemukan oleh T. Harv Eker, seorang trainer internasional juga penulis buku-buku best seller. Metode 6 Jar ini adalah sebuah cara mengalokasikan dana dengan membaginya dalam 6 kategori yang masing-masing memiliki tujuan tertentu. Siswa bisa menggunakan toples, amplop atau barang yang lain untuk menyimpan uang sesuai dengan kategori.
Ada 6 kategori dalam metode Jar (Amirul & Elin, 2009: 67), yang pertama adalah kebutuhan (Necessities) yaitu sebesar 50%, kategori ini diperuntukkan untuk mencukupi kebutuhan pokok anak-anak misalnya membeli peralatan sekolah, sepeti buku, alat tulis, ekstrakurikuler, dsb.
Kedua kebebasan finansial (financial freedom) yaitu 10%, kategori ini diperuntukkan untuk investasi. Anak-anak bisa diajarkan untuk investasi misalnya dengan membeli emas digital, investasi melalui aplikasi, membeli mata uang kripto, dan lain sebagainya. Tentunya dengan pengawasan dan bantuan orang tua atau bapak/ibu guru. Ketiga adalah hiburan (play) sebesar 10%.
Dalam metode ini anak diajarkan menggunakan uang bermain mereka hanya sebesar yang sudah dialokasikan di awal. Keempat, tabungan jangka panjang (long term saving for spending), yaitu sebesar 10%.
Kategori ini diperuntukkan untuk mengajarkan anak bahwa kadang di masa depan ada kebutuhan darurat. Kelima adalah pendidikan (education) yaitu 10%. Pendidikan di sini bisa menunjang di luar pendidikan utama anak mislnya les seni, les musik, dsb.
Lalu yang terakhir amal/sedekah (give) sebesar 10%. Anak diajarkan untuk selalu berbagi dengan orang lain yang membutuhkan tentunya hal ini akan lebih mudah jika anak sudah memiliki anggaran khusus. Tentunya persentase itu bisa disesuaikan dengan kondisi dan situasi anak. Bahkan jumlahnya pun bisa dikondisikan misalnya hanya 4 atau 5 jar sesuai kemampuan dan kebutuhan anak.
Metode 6 Jar pernah penulis praktikkan di kelas V SD N Salam 1, selama praktik berlangsung anak-anak cukup antusias dalam mengikutinya.
Dengan menggunakan toples bekas yang mudah ditemukan. Untuk mempermudah menghitung hasil tabungan, diberi tabel yang bisa anak-anak isi sesuai jumlah uang yang dimasukkan di toples.
Metode ini dapat dijalankan dengan efektif hanya jika ada peran dari sekolah, guru, dan orang tua untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif untuk membangun literasi keuangan anak-anak di sekolah dasar. (pf/lis)
Guru SDN Salam 1, Kec. Salam, Kabupaten Magelang Editor : Agus AP