Inklusif di sini tidak hanya anak yang memiliki kecacatan fisik tetapi juga anak yang dikaruniai keberkatan. Juga anak yang kemampuan belajarnya di bawah anak-anak pada umumnya.
Seperti pengalaman penulis yang mengajar anak inklusif atau dengan kata lain ABK (anak berkebutuhan khusus) yang dalam hal ini bukan anak yang cacat secara fisik namun anak yang kemampuan belajarnya sangatlah kurang.
Karakteristik anak seperti ini termasuk dalam anak yang berkesulitan belajar. Sebagai guru sekolah dasar tentu mengetahui bahwa kemampuan siswa sangat beragam salah satunya adalah anak yang berkesulitan belajar.
Berkesulitan belajar itu bukanlah anak yang malas belajar, melainkan berkaitan dengan disfungsi sistem persarafan pusat. Anak yang berkesulitan belajar itu harus mendapat layanan khusus.
Dalam dunia pendidikan digunakan istilah educationally handicapped karena anak-anak mengalami kesulitan dalam mengikuti proses pendidikan sehingga mereka memerlukan layanan pendidikan secara khusus.
Adapun penyebab kesulitan belajar menurut beberapa ahli adalah cedera pada otak, ketidakseimbangan zat-zat kimiawi dalam otak, gangguan perkembangan saraf, kelambatan proses perkembangan individu. Namun ada juga para ahli yang menyimpulkan bahwa kesulitan belajar juga dipengaruhi oleh faktor organis, genetis, lingkungan, dan psikologis.
Dari pengalaman penulis sebagai guru kelas enam yang di kelas ada salah satu siswa yang belum bisa membaca, maka anak tersebut mengalami kesulitan dalam belajar.
Public Law (Hallahan dan Kauffman, 1991: 126) menjelaskan tentang specific learning disabilitas sebagai gangguan pada satu proses psikologis dasar atau yang terlihat di dalam penggunaan bahasa lisan dan tulis dengan wujud seperti ketidaksempurnaan memikirkan, membaca, menulis, atau melakukan perhitungan matematis.
Dari uraian di atas salah satu siswa penulis termasuk di dalamnya. Adapun faktornya adalah disfungsi sistem persarafan pusat (otak) ini termasuk faktor primer.
Kondisi disfungsi menunjukkan adanya gangguan fungsi dari sistem saraf sehingga tidak berperan sebagaimana mestinya. Siswa kami mengalami gangguan pada proses psikologis dasar berupa gangguan berbahasa, artikulasi, membaca, menulis ekspresif dan berhitung.
Faktor penyebab yang lain adalah lingkungan (faktor sekunder) yaitu kondisi keluarga yang tidak menunjang. Seperti keluarga yang terlalu cuek ke anak, orang tua yang tidak pernah mengajari anak, bisa juga anak terlalu mendapat tekanan dari rumah dan bisa terjadi disebabkan faktor keturunan.
Dari uraian di atas untuk mengatasi masalah anak yang inklusif maka pemerintah memberikan tenaga guru yang menangani anak inklusif (ABK) yang disebut shadow teacher mereka membantu para guru untuk menangani anak inklusif yang mana anak tersebut dibimbing sebagaimana dengan kebutuhannya.
Mereka yang kesulitan di bidang akademik akan dibimbing keterampilan atau olahraganya atau seni. Sehingga di sekolah penulis anak yang berkebutuhan khusus betul-betul diperhatikan.
Bahkan siswa inklusif bisa berkompetisi dengan siswa lain dalam bidang keterampilan, seni budaya. Maka dari itu kita sebagai guru janganlah memandang rendah siswa inklusif atau ABK. (ds1/lis)
Guru SDN Kutowinangun 08, Kota Salatiga
Editor : Agus AP