Oleh karena itu pendidikan sebagai salah satu alat untuk membentuk generasi melek media perlu merumuskan langkah-langkah yang pas dalam rangka membekali siswa menangkal penyebaran hoaks yang semakin masif.
Berkaitan dengan hal tersebut, dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti (PAI-BP) kelas tujuh SMPN Tembarak, terdapat materi tentang Menghindari Gibah dan Melaksanakan Tabayun. Capaian pembelajaran dari materi ini adalah peserta didik memahami pentingnya verifikasi (tabayun) informasi sehingga terhindar dari permainan dan berita palsu.
Menurut KBBI, hoaks adalah sebuah informasi bohong (https://www.gramedia.com/literasi/pengertian-hoaks). Maksudnya yaitu informasi yang dibuat atau disusun untuk menutupi informasi yang sebenarnya.
Dengan kata lain, hoaks adalah upaya memutarbalikan fakta menggunakan informasi yang seolah-olah meyakinkan, akan tetapi tidak dapat diverifikasi kebenarannya.
Sedangkan reportase menurut Fajar Junaedi yaitu kegiatan meliput berita dari narasumber, yang kemudian ditulis dalam naskah berita atau dilaporkan kepada pemirsa (2015: 50).
Dikatakan Ermanto, reportase adalah suatu peristiwa yang ditulis kemudian dimuat ke dalam media massa. Media massa yang dimaksud dapat berupa media cetak, televisi maupun internet (2005: 137).
Teknik reportase yang biasanya digunakan dalam dunia jurnalisme dapat pula diterapkan dalam pembelajaran terutama terkait materi pembelajaran pelaksanaan tabayun (verifikasi) untuk menghindari adanya gibah dan hoaks.
Adapun langkah-langkah pembelajaran materi menghindari gibah dan melaksanakan tabayun dengan model pembelajaran problem based learning (PBL) menggunakan teknik reportase dimulai dengan pembentukan kelas menjadi beberapa kelompok oleh guru.
Setelah terbentuk kelompok langkah berikutnya adalah orientasi masalah yaitu mengenai hoaks atau berita palsu, yang dilanjut dengan pengorganisasian siswa untuk belajar. Langkah selanjutnya membimbing penyelidikan kelompok disambung dengan mengembangkan dan menyajikan hasil karya, yang ditutup dengan menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah.
Setelah seluruh langkah-langkah PBL selesai, seluruh kelompok kemudian berdiskusi untuk menentukan tema atau berita yang akan ditindaklanjuti dengan proses reportase. Sekaligus pembagian tugas untuk penyajian produk reportase yang berupa video berita straight news.
Menurut Nina dan Triyanto dalam buku Jurnalisme Positif (2021), straight news merupakan laporan peristiwa yang ditulis singkat, padat, lugas, serta apa adanya. Kegiatan reportase yang telah ditentukan oleh kelompok dilaksanakan di luar jam pembelajaran.
Pada pertemuan berikutnya setiap kelompok mempresentasikan hasil reportasenya di depan kelas, yang diamati dan dievaluasi oleh kelompok lain menggunakan lembar observasi yang berisi kelengkapan unsur berita, meliputi 5W dan 1H. Setelah semua presentasi depan kelas, masing-masing menyampaikan kelebihan dan kekurangan yang dimiliki setelah melaksanakan liputan atau reportase berita.
Guru dan siswa menyusun kesimpulan secara umum mengenai langkah-langkah yang dilakukan untuk menghindari gibah dan penyebaran berita palsu (hoaks).
Kesimpulan mengenai materi menghindari gibah dan melaksanakan tabayun tersebut juga dipertegas dari berbagai sumber belajar yang digunakan. Penggunaan teknik reportase dalam pembelajaran dapat menjadi salah satu alternatif dalam menghindari hoaks atau berita palsu.
Teknik ini juga membantu siswa melakukan verifikasi (tabayun) tehadap berita atau informasi yang beredar. Karena selaras dengan tujuan dilaksanakannya reportase yaitu untuk memberi informasi agar publik mendapat gambaran yang jelas mengenai peristiwa yang sedang terjadi (https://www.kompas.com/skola/read/2022/01/07/140000469/perbedaan-wawancara-dan-reportase-dalam-teknik-peliputan-berita). (uj/lis)
Guru PAI-Budi Pekerti SMPN 1 Tembarak, Kabupaten Temanggung Editor : Agus AP