Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Menanamkan Pendidikan Karakter Siswa melalui Pembelajaran Bahasa Jawa

Agus AP • Jumat, 5 Mei 2023 | 02:55 WIB
Danang Wijaya Kusuma, S.Pd.
Danang Wijaya Kusuma, S.Pd.
RADARSEMARANG.ID, Saat ini gejala krisis karakter mengancam siswa yang merupakan generasi penerus bangsa. Dapat kita lihat dari berbagai berita saat ini sering ada tawuran antarpelajar, mewabahnya virus game online, siswa berani pada gurunya. Anak berani pada orang tua, hingga kekerasan geng motor dengan senjata tajam (klithih).

Sosok guru menduduki garda terdepan dalam upaya mewujudkan pendidikan nasional, dan juga bertanggung jawab dalam mewujudkan siswa yang berbudi pekerti (berkarakter). Dalam falsafah Jawa, guru memiliki makna digugu lan ditiru. Artinya seorang guru itu patut dipercaya dan dijadikan suri teladan.

Penanaman nilai-nilai budi pekerti, moral, dan akhlak seperti yang tertuang dalam UU Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional harus menjadi dasar (fondasi) paling utama dalam mendesain, melaksanakan, dan mengevaluasi sistem pendidikan nasional.

Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Pendidikan menjadi modal yang utama untuk membangun pribadi bangsa yang beradab dari segi ilmu dan moral. Moral dan ilmu merupakan satu kesatuan yang menjadikan keseimbangan dalam mewujudkan kebahagiaan hidup.

Menurut T. Ramli (dalam Aqib, 2011:3), pendidikan karakter memiliki esensi dan makna yang sama dengan pendidikan moral dan pendidikan akhlak. Tujuannya membentuk pribadi anak, supaya menjadi manusia yang baik, warga masyarakat, dan warga negara yang baik.

Dalam bahasa dan sastra Jawa terkandung nilai-nilai kehidupan yang sangat mendidik. Seperti norma, keyakinan, kebiasaan, konsepsi, dan simbol-simbol yang hidup dan berkembang di dalam kehidupan masyarakat Jawa. Yakni gotong royong, tepa selira, andhap asor, suba sita, tata krama, unggah-ungguh, kasih sayang, dan lain-lain.

Pasal 37 ayat 1 menyebutkan bahwa kurikulum pendidikan dasar dan menengah wajib memuat muatan lokal. Maka sebagai upaya pengembangan, pembinaan, pelestarian bahasa sastra, dan budaya Jawa, pengembangan budi pekerti serta kepribadian di kalangan para siswa pendidikan dasar dan menengah diperlukan kurikulum muatan lokal sebagai acuan dalam kegiatan belajar-mengajar bahasa Jawa.

Dikatakan Sayuti (2007) pendidikan yang berorientasi pada tumbuh-kembangnya kesadaran budaya, antara lain bisa dilakukan melalui pendidikan muatan lokal dengan semangat multikultura.

Bahasa Jawa dianggap sangat tepat, karena bahasanya membedakan sopan santun antara pembicara dengan lawan bicaranya. Selain itu dalam pembelajaran bahasa Jawa banyak sekali cerita yang mengajarkan tentang pendidikan karakter.

Misalnya dalam cerita wayang Gathotkaca Gugur, Karna Tandhing, Srikandi Madeg Senapati, dan masih banyak lagi. Pendidikan karakter juga banyak tertuang dalam tembang-tembang Macapat.

Contoh pendidikan karakter dari cerita tadi di antaranya mengajarkan kesabaran, rasa syukur, kesederhanaan, tolong-menolong, sikap rela berkorban, kerja sama, tanggung jawab, cinta tanah air, dan lain sebagainya.

Dalam pembelajaran bahasa Jawa dapat berlangsung melalui proses meaning making (membuat bermakna), sehingga terwujud internalisasi nilai-nilai dalam diri siswa.

Dalam pengembangan pendidikan karakter yang diterapkan melalui pembelajaran bahasa Jawa di SDN Kangkungan, guru memberi keteladanan secara langsung sesuai nilai-nilai kultural bahasa Jawa.

Seperti sopan dalam berperilaku, santun dalam berbicara, berpakaian rapi, disiplin, tidak terlambat berangkat sekolah, toleransi, saling menghargai, menghormati, budaya 5S. Guru harus menekankan kepada siswa pentingnya perilaku yang baik, berbudi pekerti (berkarakter) di rumah, di sekolah, dan di masyarakat. (pf/lis)


Guru SDN Kangkungan, Kec. Salam, Kabupaten Magelang Editor : Agus AP
#Danang Wijaya Kusuma #Pembelajaran Bahasa Jawa #Guru SDN Kangkungan #SDN Kangkungan #Menanamkan Pendidikan Karakter Siswa