Pada dasarnya banyak faktor yang mempengaruhi kemampuan dalam membaca Alquran. Di antaranya adalah masih minimnya buku-buku penunjang yang dapat dijadikan pedoman dalam pembelajaran Alquran di sekolah. Serta dalam mempelajarinya dibutuhkan waktu yang lama. Sedangkan waktu pembelajaran PAI dan Budi Pekerti waktunya terbatas.
Sebagian besar materi dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti berisi deskriptif, sehingga dalam kegiatan belajar mengajar metode yang sering digunakan adalah ceramah. Dalam hal ini guru menyampaikan materi pengetahuan dan informasi kepada siswa dengan cara lisan.
Sehingga mereka kurang aktif, kreatif dan kurang termotivasi selama proses pembelajaran. Hal ini dapat menimbulkan rasa bosan pada siswa. Metode ceramah dianggap kurang efektif.
Oleh karena itu perlu adanya metode yang efektif selama proses pembelajaran yang dapat menumbuhkan keaktifan serta motivasi belajar bagi siswa. Demikian juga pada siswa terutama kelas IX, banyak dari mereka yang kurang berminat dan termotivasi dalam mempelajari Alquran.
Dalam KD.3.2 Memahami Q.S al-Hujurat /49;13 tentang toleransi dan menghargai perbedaan serta hadist terkait, guru PAI dan Budi Pekerti SMPN 2 Comal dituntut untuk mendesain pembelajaran yang bisa membangkitkan keaktifan serta kreativitas dan menumbuhkan motivasi dalam belajar Alquran sehingga kompetensi ini bisa tercapai.
Berdasarkan permasalahan di atas, untuk mempelajari materi Q.S Al-Hujurat/49:13 terutama agar siswa dapat membaca ayat tersebut penulis menggunakan metode tutur sebaya.
Tutor sebaya adalah sekelompok siswa yang telah tuntas terhadap bahan pelajaran, memberikan bantuan kepada siswa yang mengalami kesulitan dalam memahami bahan pelajaran yang dipelajarinya (Ischak dan Warji dalam Suherman, 2003:276).
Metode ini dalam pembelajarannya melibatkan dan memberdayakan siswa terutama yang memiliki kemampuan atau daya serap yang tinggi dari kelompok siswa itu untuk menjadi tutor yang membimbing temannya yang kesulitan dengan materi yang dijelaskan oleh guru.
Mereka yang dipilh menjadi tutor bertugas untuk memberikan materi belajar dan latihan kepada teman-temannya. Terutama yang belum paham dengan materi yang diberikan oleh guru sesuai dengan aturan yang telah disepakati dalam kelompoknya dan guru tetap menjadi narasumber utama.
Tutor sebaya dalam penerapannya memiliki beberapa langkah yaitu memilih siswa kurang lebih 3-4 orang untuk dijadikan sebagai tutor. Siswa yang dipilih adalah mereka memiliki kemampuan yang lebih baik dalam materi pelajaran yang akan diajarkan. Langkah berikutnya yaitu membuat beberapa kelompok belajar. Langkah terakhir yaitu jika siswa mengalami kesulitan maka guru akan memberikan penjelasan (Djamarah, dalam Falah, 2014 )
Metode tutor sebaya memberkan kesempatan yang luas kepada siswa untuk membagi ilmu dan keterampilannya kepada siswa yang lain. Metode ini akan menimbulkan rasa nyaman karena komunikasi antarsiswa lebih santai dibandingkan dengan gurunya. Oleh karena itu siswa yang mempunyai pengetahuan dan kemampuan yang lebih untuk dijadikan sebagai tutor, dan mereka dapat dengan leluasa mengajarkan kepada temannya.
Harapan penulis dengan menerapkan metode tutor sebaya siswa dapat meningkatkan hasil belajar terutama dalam membaca Alquran dan menuntaskan terutama pada materi KD.3.2” Memahami Q.S al-Hujurat/49;13 tentang toleransi dan menghargai perbedaan serta hadist terkait. (ips1/lis)
Guru Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti SMPN 2 Comal Kabupaten Pemalang Editor : Agus AP