RADARSEMARANG.ID - Pembelajaran berbasis Higher Order Thinking Skill (HOTS) dan komponen-komponen pendukungnya meupakan salah satu upaya dalam menghadapi tantangan pendidikan saat ini. Pentingnya kemampuan berpikir tingkat tinggi atau dikenal dengan Higher Order Thinking Skill (HOTS) telah ditekankan oleh para pembuat kebijakan, pendidik, peneliti serta masyarakat umum. (Hwang, G., Lai, C., Liang, J., Chu, H., & Tsai, 2017) telah mengidentifikasi tiga HOTS pada penelitiannya yaitu kemampuan dalam pemecahan masalah, berpikir kritis, dan kreativitas. HOTS merupakan kemampuan yang terdiri dari keterampilan penting yang akan dibutuhkan oleh peserta didik dalam mempersiapkan masa depan.
HOTS merupakan kemampuan berpikir tingkat tinggi yang menuntut kemampuan dalam berpikir kritis, kreatif, dan analistis terhadap suatu informasi dan data untuk memecahkan suatu permasalahan (Barratt, 2014). HOTS mengeksplorasi pertanyaan-pertanyaan tentang pengatahuan yang ada terkait isu-isu yang tidak didefinisikan dengan jelas serta tidak memiliki jawaban yang pasti (Haig, 2014).
Pembelajaran pada abad 21 berfokus pada pemecahan masalah melalui pendidkan. Hal ini membutuhkan kemamapuan HOTS peserta didik yang mumpuni. Kemampuan HOTS ini diperlukan karena dengan kemampuan berpikir tingkat tinggi dapat membekali peserta didik dalam menganalisis, melakukan evaluasi, dan memberikan atau menemukan solusi dari suatu permasalahan.
Hal ini menjadi sangat penting bagi pendidik untuk merangsang perkembangan kemampuan HOTS peserta didik dimulai dari lingkungan kelas. Pembelajaran yang dirancang guru seyogyanya dapat merengsang perkembangan anak dalam berpikir tingkat tinggi. Proses pembelajaran diharapkan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran agar lebih efektif dan efisien serta menyenangkan bagi peserta didik dan bermakna. Pembelajaran seperti ini diarapkan dapat membantu dalam merangsang kemampuan HOTS peserta didik. Pada kenyataannya masih banyak guru yang kurang memahami mengenai HOTS. Hal ini dapat diketahui diantaranya berdasarkan perangkat pembelajarn yang diguakan guru mulai dari rumusan indikator, tujuan serta kegiatan pembelajaran beserta penilaiannya. Tantangan guru saat ini adalah mengembangkan dan meningkatkan kualitas pembelajaran yang masih bersifat Lower Order Thinking Skill (LOTS) menjadi Higher Order Thinking Skill (HOTS).
Memahami komponen-komponen yang mempengaruhi HOTS dapat membantu dalam merancang pembelajran yang dapat meningkatakan kualitas pembelajaran berbasis HOTS. Beberapa komponen yang penting dalam mendukung ketercapaianan dan peningkatan kemampuan berpikir tingkat tinggi adalah kompetensi guru, fasilitas dan teknologi, strategi, serta motivasi peserta didik.
Kompetensi guru
Kompetensi guru sangat mempengaruhi keberhasilan pembelajaran. Dalam konteks ini merupakan pembelajaran yang berbasis HOTS. Studi menganai pengetahuan dan pemahaman guru dalam pembelajarn HOTS pernah diteliti oleh Zohar & Schwartzer (2005) yang menyebutkan pentingnya studi tentang pengetahuan guru dalam mengajar berpikir. Pengetahuan guru memiliki implikasi penting bagi pengembangan professional. Pengatahuan awal juga mempengaruhi apa yang akan mereka pelajari dan bagaimana mereka menerapkan pembelajaran HOTS dalam praktik mengajar.
Kedua, mengetahui bagaimana caranya merancang pembelajaran dan mengajar yang melibatkan siswa dalam tugas yang membutuhkan keterampilan berpikir tingkat tinggi. Agar hal ini dapat tercapai, pengetahuan guru mengenai bagaimana menerapkan kurikulum yang berhubungan dengan keterampilan berpikir dan cara kemampuan merencanakan pembelajaran yang kaya akan tujuan tersebut sangat penting untuk dikuasai. Ketiga, guru harus memiliki kemampuan dalam mengidentifikasi kesulitan penalaran siswa dan cara untuk mengatasinya. Kemampuan ini menjadi sangat penting untuk kelanjutan pembelajaran berbasis HOTS dan memasikan keberhasila pembelajaran serta tujuan pembelaaran terpenuhi.
Keempat, peran guru yang merupakan sumber pengetahuan diganti dengan peran utamanya menginisiasi dan melatih inkuiri dan pemecahan masalah siswa. Dengan demikian guru harus belajar mengganti praktik penilaian tradisional dengan penilaian yang sesuai dengan tujuan pembelajaran berbasis HOTS. Sumber pengetahuan bukan lagi berasal dari guru, karena peserta didik dibiasakan mencari berbagai sumber in formasi yang dibutuhkan dalam memecahkan perasalahan. Pembelajaran seperti ini diharapkan dapat membiasakan peserta didik untuk mandiri dan trampil dalam mencari sumber informasi yang rekevan dengan pembelajaran.
Fasilitas dan Teknologi
Ketika peserta didik mulai menggunakan sumber daya teknologi untuk mengelola pembelajaran mereka, peran guru akan diubah dari guru menjadi pembimbing. Ketersediaan sejumlah besar informasi yang mudah diakses membebaskan guru dari peran penyedia fakta dan memungkinkan guru untuk mendorong peserta didik menggunakan komputer sebagai alat untuk pemecahan masalah dan pengambilan keputusan.
Strategi
Upaya pengembangan HOTS peserta didik dalam lingkungan belajar harus mempertimbangkan strategi pembelajaran. Strategi pembelajaran berpengaruh langsung dalam meningkatkan HOTS peserta didik. Dalam memenuhi kebutuhan, minat, strategi dan kemampuan belajar, pendidik dan desainer instruksional harus memasukkan teknologi ke dalam proses pembelajaran. Pembelajaran harus mampu memicu peserta didik untuk berpikir tingkat tnggi sehingga pembelajaran menuntut penggunaan strategi yang berorientasi pada siswa aktif.
Strategi pembelajaran juga penting dalam meningkatkan HOTS. Salah satunya ialah dengan inquiry based learning. Pembelajarn inquiri didasarkan pada motivasi siswa dan pengetahuan sebelumnya. Tujuan dari pembelajaran inquiri salah satunya untuk memperkenalkan HOTS dan keterampilan, pengetahuan konten dan pemahaman ilmiah pada peserta didik. Pembelajaran berbasis penyelidikan ini mampu merangsang kemampuan berpikir dan bekerja secara ilmiah dan memicu sikap ingin tahu dan berusaha memahami dunia sekitar (Madhuri et al., 2012).
Selain inquiry based learning, project based learning juga menjadi salah satu pembelajaran yang dapat menunjang HOTS siswa. Pembelajaran berbasis proyek menggunakan pendekatan yang melibatkan siswa dalam pemecahan masalah dan kebebasan dalam belajar serta memungkinkan interaksi antar teman sebaya semakin banyak.
Problem based learning menjadi salah satu pilihan yang dapat digunakan dalam pembelajaran berbasis HOTS. Problem based learning mendorong peserta didik belajar dalam situasi yang bermasalah, berkolaborasi dalam kelompok dalam mencari solusi permasalahan. Permasalahan yang diberikan pendidik bertujuan untuk menumbuhkan rasa ingin tahu siswa sehingga maicu siswa berpikir kritis dan analitis serta mampu mencari sumber belajar yang sesuai.
Discovery based learning juga dapat menjadi pilihan dalam membelajarkan HOTS pada siswa. Model ini cukup efektif karena dapat meningkatkan partisipasi peserta didik dalam proses pembelajaran, melatih berpikir kritis dan memberikan pengalaman langsung pembelajran dalam menemukan konsep dan berinteraksi dengan lingkungan. Pembelajaran dengan discovery learning memberikan dampak positif terhadap peningkatan kemampuan berpikir kritis.
Motivasi Peserta didik
Motivasi dalam belajar mendorong peserta didik dalam mencapai tujuan pembelajaran. Roberts & Dyer (2005) menyebutkan bahwa motivasi siswa dalam belajar dapat dikaitkan dengan HOTS dalam lingkungan belajar online. Hasil yang sama pada penelitiann yang dilakukan oleh Gong et.al (2020) yang menyebutkan bahwa motivasi belajar siswa berdampak langsung pada keterampilan berpikir komputasi yang meliputi kreativitas, algoritma, kerja sama, berpikir kritis dan pemecahan masalah.
Perkembangan zaman menuntut adanya keterampilan berpikir kritis, pemecahan masalah dan kreativitas siswa. Kemampuan ini dapat didapatkan dari pembelajaran berbasis HOTS. Keberhasilan pembelajaran berbasis HOTS dalam meningkatkan kemampuan berpikir siswa tidak lepas dari berbagai komponen penting pendukung yang harus diperhatikan yaitu kompetensi guru, fasilitas dan teknologi, strategi yang tepat dalam pembelajaran serta motivasi belajar yang ada pada peserta didik. (*/bas) Editor : Agus AP