Akan tetapi cara mengajar yang monoton membuat siswa bersifat apatis, acuh tak acuh, tidak punya rasa tanggung jawab sehingga persentase ketuntasan belajar minim atau jauh dari harapan kita.
Metode terkait dengan strategi pembelajaran, sebaiknya dirancang agar proses belajar berjalan mulus. Metode adalah cara-cara atau teknik yang dianggap jitu untuk menyampaikan materi ajaran. Metode sebagai strategi pembelajaran biasa dikaitkan dengan media, dan waktu yang tersedia untuk belajar.
Metode demonstrasi adalah salah satu metode pembelajaran yang mampu meningkatkan hasil belajar matematika. Dengan metode ini diharapkan dapat tumbuh berbagai kegiatan belajar siswa.
Dengan kata lain tercipta interaksi edukatif. Dalam interaksi ini guru berperan sebagai penggerak atau pembimbing, sedangkan siswa sebagai penerima atau yang dibimbing.
Menurut Hamalik (1982:23), “Media pendidikan adalah alat, metode, dan teknik yang digunakan dalam rangka lebih mengefektifkan komunikasi dan interaksi antara guru dan siswa dalam proses pendidikan dan pengajaran di sekolah’. Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1990:560), media pengajaran adalah sarana atau alat bantu pembelajaran, agar siswa mudah memahami apa yang sedang diajarkan oleh guru.”
Alat peraga matematika mempunyai peranan yang sangat penting dalam memahami konsep matematika. Bahkan dalam hal-hal tertentu akan menentukan keberhasilan proses belajar itu sendiri. Alat peraga matematika diperlukan bagi pengajar dalam menyampaikan pelajaran matematika.
Hal ini dapat dikatakan bahwa alat peraga merupakan media transfer pengetahuan dari pendidik kepada peserta didik. Disamping itu alat peraga dapat digunakan untuk menarik perhatian siswa dalam mempelajari matematika.
Menurut Bruner, proses belajar akan berlangsung optimal jika proses pembelajaran diawali dengan tahap pembelajaran pengetahuan. Yang mana pengetahuan itu dipelajari dengan menggunakan benda-benda yang konkret.
Pengetahuan itu diwujudkan dalam bentuk bayangan visual gambar/diagram yang menggambarkan situasi konkret. Selanjutnya pengetahuan diwujudkan dalam bentuk simbol-simbol abstrak.
Teori di atas dikuatkan oleh hasil penelitian Edgar Dale yang menyebutkan setiap media yang digunakan dalam proses pembelajaran mempunyai level abstraksi tertentu. Semakin banyak alat indra yang digunakan untuk menerima dan mengolah informasi semakin besar kemungkinan informasi tersebut dapat dipertahankan dalam ingatan.
Di kelas III MI YMI Wonopringgo 03 Pekalongan masih ditemukan kesulitan yang dialami siswa dalam mempelajari konsep pecahan yang bersifat abstrak yaitu pada materi tentang pecahan. Sehingga belum tercapai tujuan yang diharapkan.
Kenyataan ini terjadi karena proses pembelajaran yang dilaksanakan banyak menggunakan metode ceramah sehingga berupa konsep-konsep pengetahuan yang abstrak. Alat peraga “Bunga Pecahan” dapat digunakan dalam pembelajaran matematika untuk membantu guru dalam menarik perhatian siswa.
Siswa kelas 3 yang masih gemar dengan permainan akan lebih tertarik dengan alat peraga yang menyerupai permainan. Dengan adanya alat peraga yang dapat digunakan untuk bermain akan menimbulkan perasaan senang siswa pada alat peraga tersebut.
Sehingga siswa akan melakukan permainan dengan alat peraga secara berulang-ulang. Kegiatan yang berulang-ulang itu akan meninggalkan sebuah memori yang sulit dilupakan siswa.
Memori yang sulit dilupakan siswa berupa materi yang bersangkutan dengan alat peraga tersebut. Sehingga guru tidak perlu mengulang-ulang materi pada saat proses pembelajaran. Waktu yang tersedia dapat digunakan untuk kegiatan pembelajaran yang lain.
Menggunakan alat peraga bunga pecahan bertujuan membuktikan dan mengetahui bahwa metode demonstrasi dengan alat peraga bunga pecahan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa pelajaran matematika materi pecahan. (ut/lis)
Guru MI YMI Wonopringgo 03 Pekalongan Editor : Agus AP