Salah satu permasalahan yang kerap terjadi dalam dunia pendidikan adalah ketidakmampuan individu untuk bertahan dalam suatu kondisi atau suatu tekanan, seperti tuntutan peserta didik untuk mengerjakan tugas dengan baik, mengumpulkan tugas tepat waktu, tuntutan nilai yang baik dari orang tua, dan lingkungan belajar yang kompetitif.
Untuk itu, peserta didik hendaknya memiliki kemampuan yang baik untuk bertahan dalam keadaan tertekan yang biasanya juga disebut dengan istilah resiliensi akademik.
Resiliensi akademik adalah kemampuan individu untuk bertahan dalam keadaan tertekan, dan bahkan berhadapan dengan kesengsaraan atau trauma yang dialami dalam kehidupannya (Ulfa, dalam Ghesela Ramadhanti, 2022).
Peserta didik diharapkan memiliki ketahanan dalam menghadapi tantangan akademik. Resiliensi akademik adalah kemampuan untuk berkembang, matang, dan meningkatkan kompetensi dalam menghadapi kerugian keadaan atau rintangan (Rouse, dalam Ghesela Ramadhanti, 2022).
Peserta didik membutuhkan resiliensi akademik guna mengatasi permasalahan yang dialami. Resiliensi akademik sebagai kemampuan individu dalam merespon kesulitan yang dihadapinya, sebagai perilaku adaptif yang berhasil dan dapat menunjukkan kualitas pribadi dan terus berkembang melebihi harapan selama masa sulit.
Secara umum bimbingan dan konseling dalam lingkungan sekolah merupakan proses pemberian bantuan kepada para siswa untuk optimalisasi pengembangan peserta didik baik dalam bidang pribadi, sosial karir ataupun belajar, sehingga mereka dapat memahami diri, mengarahkan diri dan bertindak serta belajar dengan optimal sesuai dengan tingkatnya masing-masing. Perencanaan layanan bimbingan dan konseling amatlah krusial. Salah satu bagian dari kegiatan bimbingan dan konseling ini adalah menentukan pendekatan, metode, strategi, dan teknik layanan bimbingan dan konseling.
Penulis sebagai guru bimbingan dan konseling di SMK Negeri 1 Trucuk, Klaten tentu memiliki tanggung jawab membantu siswa tumbuh secara optimal dengan memberikan strategi, metode dan teknik layanan untuk mendampingi siswa dalam perkembangan psikologis maupun belajarnya. Salah satu bentuk teknik layanan guru bimbingan dan konseling dalam upaya meningkatkan resiliensi akademik siswa melalui teknik modelling symbolic.
Modeling merupakan belajar melalui observasi dari tingkah laku individu atau kelompok dengan menambahkan atau mengurangi tingkah laku yang teramati, menggeneralisasi berbagai pengamatan sekaligus, melibatkan proses kognitif. Model di sini berperan sebagai rangsangan bagi pikiran-pikiran, sikap-sikap, atau tingkah laku sebagai bagian dari individu yang lain yang mengobservasi model yang ditampilkan.
Sedangkan menurut Latipun (2006: 144) perilaku model digunakan untuk membentuk perilaku baru dan memperkuat perilaku yang sudah terbentuk. Dalam hal ini konselor menunjukkan kepada klien tentang perilaku model (model audio, model fisik, model hidup).
Perilaku yang berhasil dicontoh memperoleh ganjaran berupa pujian dari konselor sebagai ganjaran sosial. Modelling symbolic sendiri merupakan model yang diperlihatkan melalui film, video atau media lain.
Teknik modelling symbolic ini membantu siswa meningkatkan resiliensi akademik melalui tokoh atau model yang diperlihatkan agar siswa menemukan pengalaman, perilaku baru yang dapat memperkuat perilaku yang sudah baik atau yang belum sekalipun.
Teknik Modelling Symbolic dalam proses layanan yang dilaksanakan dapat membantu siswa mendapatkan penguatan dalam ketahanan akademik melalui peranan model yang ditampilkan yang membuat siswa mendapatkan tingkah laku baru yang lebih sesuai. Sehingga layanan teknik psikodrama dapat membantu siswa untuk meningkatkan resiliensi akademik. (ko/aro)
Guru BK SMK Negeri 1 Trucuk, Klaten Editor : Agus AP