Berita Semarang Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Event Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Foto

Mengemas P5 dalam Implementasi Kurikulum Merdeka

Agus AP • Kamis, 6 Oktober 2022 | 20:38 WIB
Soleh Amin
Soleh Amin
RADARSEMARANG.ID, Seluruh SMA Negeri di Kota Semarang Tahun Pelajaran 2021/2022 ini memulai sebagai tahun pertama Implementasi Kurikulum Merdeka (IKM). Begitu juga dengan banyak sekolah lain pada jenjang SD, SMP, maupun SMA di sebagian besar kota dan wilayah Indonesia, termasuk di SMA Negeri 5 Semarang, tempat penulis bertugas.

Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) merupakan salah satu penentu atau fokus utama keberhasilan imlementasi kurikulum ini. P5 ini juga sebagai jawaban atas satu pertanyaan besar, yaitu "Peserta didik dengan profil (kompetensi) seperti apa yang ingin dihasilkan oleh sistem pendidikan Indonesia?"

Di awal tahun pelajar, para pemangku kebijakan di sekolah, dalam hal ini kepala sekolah, wakil kepala sekolah, tim komite pembelajar atau tim pembelajaran projek sudah berdiskusi dengan intensif bahkan melakukan studi banding ke sekolah lain atau mendatangkan narasumber berkompeten untuk menyusun pelaksanaan pembelajaran projek di sekolah. Memang semuanya bergantung kepada kondisi dan daya dukung sekolah masing masing.

Selain itu, di dalam P5 juga mempunyai prinsip-prinsip yang wajib diketahui. Pertama, holistik, bermakna memperhatikan sesuatu secara menyeluruh dan tidak parsial atau terpisah-pisah. Kerangka berpikir holistik mendorong kita untuk mempelajari sebuah tema secara menyeluruh dan melihat keterhubungan dari berbagai hal untuk memahami sebuah isu secara mendalam.

Kedua, kontekstual, yang berkaitan dengan upaya mendasarkan kegiatan pembelajaran pada pengalaman nyata yang dihadapi dalam keseharian. Prinsip ini mendorong pendidik dan peserta didik untuk dapat menjadikan lingkungan sekitar dan kehidupan sehari-hari sebagai bahan utama pembelajaran. Tema-tema projek profil yang disajikan sebisa mungkin dapat menggerakkan dan menjawab persoalan lokal yang terjadi di daerah masing-masing.

Dengan mendasarkan projek profil ini pada pengalaman dan solusi dari masalah yang dihadapi dalam keseharian, diharapkan para peserta didik mendapatkan pembelajaran yang bermakna untuk secara aktif meningkatkan pemahaman dan kemampuannya.

Ketiga, berpusat pada peserta didik. Ini berkaitan dengan skema pembelajaran yang mendorong peserta didik untuk menjadi subjek pembelajaran yang aktif menjalankan proses belajarnya secara mandiri, termasuk memiliki kesempatan memilih dan mengusulkan topik projek profil sesuai minatnya.

Sebaiknya pendidik menjadi penyedia pembelajaran yang memberikan banyak kesempatan untuk para peserta didik bisa mengeksplorasi berbagai hal atas dorongannya sendiri sesuai dengan kondisi dan kemampuannya yang berakibat bahwa setiap kegiatan pembelajaran dapat mengasah kemampuan peserta didik dalam memunculkan inisiatif. Juga meningkatkan daya untuk menentukan pilihan dan memecahkan masalah yang dihadapinya sendiri.

Keempat, eksploratif. Ini berkaitan dengan rasa semangat untuk membuka ruang yang lebar bagi proses peningkatan diri dan inkuiri, baik terstruktur maupun bebas. Projek penguatan profil pelajar Pancasila tidak berada dalam struktur intrakurikuler yang terkait dengan berbagai skema formal sistematika mata pelajaran para peserta didik.

Oleh karena itu, projek profil ini memiliki area eksplorasi yang luas dari segi jangkauan materi peserta didik, alokasi waktu, dan penyesuaian dengan tujuan pembelajaran. Namun pada perencanaan dan pelaksanaannya, pendidik diharapkan tetap dapat merancang kegiatan projek profil secara sistematis dan terstruktur agar dapat mempermudah pelaksanaannya.

Dalam perjalanannya di tengah peaksanaan dari projek satu ke projek berikutnya kadang timbul kendala atau masalah teknis. Misalnya, pelaksanaan di lapangan tidak sesuai dengan waktu yang direncanakan atau terdapat persepsi yang berbeda antarpendamping dan perencana dan sebagainya.

Prinsipnya adalah lakukan koordinasi terus-menerus saat projek dilaksanakan dan lakukan evaluasi jika ditemukan sesuatau yang tidak sesuai. Di SMA Negeri 5 Semarang untuk projek pertama ini mengambil tema kearifan lokal dengan membuat buku “Semarang dalam Jejak Sejarah”.

Terdapat dua belas rombel di kelas X. Setiap kelas terbagi atas enam kelompok, dan setiap kelompok akan menyusun buku “Semarang dalam Jejak Sejarah” dengan seri destinasi bangunan kuno, profil tokoh Kota Semarang, kuliner dan sebagainya. Dengan koordinasi dan evaluasi serta kerja sama, semuanya akan berjalan lancar. (*)

Kepala SMA Negeri 5 Semarang Editor : Agus AP
#SMA Negeri 5 Semarang #Kepala SMA #Soleh Amin #Implementasi Kurikulum Merdeka #Penguatan Profil Pelajar Pancasila