Berita Semarang Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Event Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Foto

Implementasi Adiwiyata dalam Pembelajaran Trigonometri

Agus AP • Kamis, 25 Agustus 2022 | 18:23 WIB
Siti Rosidah S.Pd
Siti Rosidah S.Pd
RADARSEMARANG.ID, SETELAH hampir 2 tahun belajar di rumah menggunakan model daring, beberapa bulan terakhir mulai pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas. Seperti belajar dari titik awal. Semangat dan cinta akan pelajaran matematika butuh ditumbuhkan dan digelorakan lagi. Sebagian siswa SMA tidak begitu bersemangat belajar matematika. Terutama siswa IPS pelajaran matematika bisa dibilang menjadi momok buat mereka. Terlihat dari hasil belajar mereka nilai raportnya semester satu cenderung diambang batas kriteria ketentuan minimal (KKM).

Hal tersebut menjadi penyebab peserta didik tidak bersemangat mengikuti pelajaran matematika, di antaranya mereka tidak suka ataupun jenuh dengan menghitung dari rumus-rumus yang asing bagi mereka, diperparah dengan sosok guru yang mereka anggap menakutkan. Hal tersebut jika dibiarkan berlanjut, siswa selamanya tidak akan mampu belajar matematika, disebabkan karena matematika adalah pelajaran yang harus menguasai konsep dasarnya dan berlanjut saling berhubungan antara materi satu dengan materi berikutnya.

Dari pengalaman buruk tersebut, langkah awal yang dilukakan adalah menyadarkan diri peserta didik, tentang pentingnya pelajaran matematika pada kehidupan sehari-hari, tidak sekedar rumus dan menghitung yang membosankan, melainkan di setiap sendi kehidupan tidak lepas dari persoalan perhitungan matematika.

Sesuai pendapat Erman Suherman, dalam memahami konsep matematika yang abstrak, anak memerlukan alat peraga seperti benda-benda konkret (riil) sebagai perantara atau visualisasinya. Dalam pembelajaran matematika, penggunaan alat peraga juga dapat meningkatkan motivasi belajar siswa.
Pada pelajaran matematika materi geometri, siswa pada pelajaran sebelumnya disuruh membawa bahan bekas (kardus) dengan membuatnya menjadi segitiga sama sisi dengan ketiga sisinya dengan panjang yang sama dan ketiga sudut dengan sudut yang sama pula.

Dari segitiga sama sisi akan mencari konsep yang mudah dipahami oleh siswa untuk mencari nilai sudut istimewanya secara mudah tanpa harus menghafal dan sekaligus memanfaatkan barang bekas (recycle) kardus sebagai alat peraga. Sesuai dengan sekolah adiwiyata nasional menuju adiwiyata mandiri. Yaitu dengan langkah, pertama, buat kelompoknya sepekan sebelum pelajaran dimulai masing-masing kelompok 6 orang. Kedua, membuat petunjuk cara membuat segitiga sama sisi dengan panjang semua sisi sama dengan ketiga sudutnya sama. Ketiga, dari salah satu sudut ditarik garis tegak lurus pada sisi di depannya, maka akan didapat 2 segitiga sama kaki. Keempat, dari segitiga sama kaki yang sudah dibuat, siswa bisa menentukan dan mencatat hasil dari nilai sudut istimewa (30 derajat, 45 derajat, dan 60 derajat).

Pada pertemuan membahas sudut istimewa, siswa bersama kelompoknya akan mempresentasikan hasil pekerjaannya. Hal ini membuat hampir semua siswa menguasai konsep trigonometri, khususnya sudut istimewa dengan mudah diingat dan tidak jenuh serta tidak membosankan menghafalkan rumus-rumus yang akan cepat hilang.

Sesuai pendapat Agus Suprijono (2009), model pembelajaran koperatif (Cooperative Learning) dapat diartikan belajar bersama-sama, saling membantu antara satu dengan yang lain dalam belajar dan memastikan bahwa setiap orang dalam kelompok mencapai tujuan atau tugas yang telah ditentukan sebelumnya. Keberhasilan belajar dari kelompok tergantung pada kemampuan dan aktivitas anggota kelompok, baik secara individual maupun secara kelompok. Pembelajaran koperatif merupakan serangkaian strategi yang khusus dirancang untuk memberi dorongan kepada peserta didik agar bekerja sama selama berlangsungnya proses pembelajaran.

Dengan menggunakan alat peraga dari barang bekas (kardus) dapat meningkatkan hasil pelajaran matematika materi trigonometri pada kelas X di SMAN 1 Nalumsari tahun pelajaran 2021/2022. Mari terutama dunia pendidikan untuk menjaga lingkungan sehat dengan memanfaatkan barang bekas sebagai alat peraga pembelajaran dan proses pembelajaran yang melibatkan siswa aktif dan menyenangkan. (kj1/ida)



Guru SMAN 1 Nalumsari Editor : Agus AP
#Guru SMAN 1 Nalumsari #Implementasi Adiwiyata Trigonometri #Trigonometri #Adiwiyata Trigonometri #Siti Rosidah S.Pd #SMAN 1 Nalumsari