Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

TITI TIBA, Tingkatkan Hasil Belajar Masalah Ekonomi dengan Sistem Ekonomi

Agus AP • Selasa, 2 Agustus 2022 | 21:26 WIB
Maul Kholishoh, S.Pd., M.Si.
Maul Kholishoh, S.Pd., M.Si.
RADARSEMARANG.ID, DI era covid ini, para guru dituntut agar mampu menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar (KBM) yang tidak hanya meningkatkan hasil prestasi tapi juga menyenangkan peserta didik. Kegiatan belajar mengajar merupakan kondisi sengaja yang diciptakan oleh pendidik agar terjadi interaksi edukatif antara pendidik dan peserta didik lainnya serta memanfaatkan medium secara optimal untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan (firdos Mujahidindalam Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, 2016). Selain itu belajar adalah perubahan menuju perkembangan ke arah yang lebih baik. Faktor internal (dari dalam individu) dan faktor eksternal (dari luar individu) akan mempengaruhi keberhasilan kegiatan belajar. Faktor internal dimaksud adalah faktor fisiologis dan psikologis.

Sedangkan faktor eksternal meliputi lingkungan sekitar peserta didik (social dan non-social) (Suryabrata; 2010). Pada kelas sepuluh mata pelajaran Ekonomi semester satu pada kompetensi Dasar yang berbunyi Menganalisis masalah ekonomi dalam sistem ekonomi penulis selaku guru ekonomi di SMA Negeri 4 Semarang dalam kegiatan pembelajarannya menggunakan methode yang penulis sebut dengan akronim TITI TIBA. Kegiatan belajar mengajar ini merupakan perwujudan dari terciptanya interaksi edukatif antara pendidik dan peserta didik serta peserta didik dengan peserta didik yang lainnya termasuk dalam hubungannya dengan lingkungan sekitar baik social maupun non-social dalam rangka menyelenggarakan KBM untuk meningkatkan hasil prestasi juga menyenangkan peserta didik.

Meskipun di masa era Cofid ini, Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) di sekolah kami tidak mengalami perubahan yaitu tetap pada nilai tujuh puluh delapan. Sehingga kebijakan pengurangan jam pelajaran yang biasanya satu jam pelajaran sama dengan empat puluh lima menit menjadi berkurang dari jumlah tersebut tidak bisa dijadikan alasan untuk penurunan nilai. Hal ini menjadi tantangan bagi penulis selaku pengajar mapel ekonomi untuk lebih mampu lagi menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar dengan mutu seperti sebelum Cofid-19 melanda. Bahkan harus lebih baik lagi. Pada awal artikel ini penulis sudah menyebutnya dengan akronim TITI TIBA.

TITI TIBA adalah akronim atau singkatan dari tiga tinggal dan tiga bertamu. Kelas dibagi menjadi beberapa kelompok dengan masing-masing kelompok terdiri dari enam anak. Sehingga akan menghasilkan enam kelompok. Setiap kelompok akan terbagi menjadi dua yaitu tiga anak yang akan tinggal untuk menerima tamu dan tiga anak yag lainnya akan berkunjung dan menjadi tamu kelompok yang lainnya. Demikian secara bergantian dan bersamaan, mereka akan menggali informasi dan mencocokkan hasil diskusi kelompok sendiri dengan kelompok yang lainnya untuk nanti didiskusikan kembali dengan kelompoknya lagi sebelum dipresentasikan di depan kelas. Dengan demikian materi presentasi yang dilakukan sudah merupakan hasil kesepakatan bersama.

Dalam pelaksanaanya di kelas, TITI TIBA proses kegiatan belajar mengajarnya adalah sebagai berikut. Diawali dengan penulis selaku pengampu mata pelajaran Ekonomi menyampaian tujuan pembelajaran dan indikator materi masalah ekonomi dan sistem ekonomi. Lembar kerja Peserta Didik (LKPD) yang berisi bahan diskusi dibagikan kepada setiap kelompok sebagai bahan diskusi dalam kelompok maupun diluar kelompok. Setelah berhasil menjawab semua materi diskusi agar lebih sempurna lagi maka kepada setiap kelompok diberikan kesempatan untuk berkunjung kepada kelompok lainya yang diwakili oleh tiga peserta didik untuk berkunjung kepada kelompoknya dan tiga peserta didik yang lainnya untuk siap menerima tamu dari kelompok lainnya. Setelah seluruh kelompok sudah saling melakukan kunjungan dan hasil diskusi kelompok sudah di sempurnakan maka tibalah sesi presentasi yang diwakili oleh salah satu kelompok yang dipilih secara acak dan bersama dengan penulis selaku pengampu mapelnya mengambil kesimpulan bersama dari hasil diskusi.

Berdasarkan pengalaman penulis menggunakan metode TITI TIBA dalam KBM materi Masalah Ekonomi dalam Sistem Ekonomi di SMAN 4 Semarang, peserta didik sangat antusias, bersemangat dan berkompetisi lebih tinggi bila dibandingkan dengan ketika menggunakan metode ceramah. Hal ini tercermin dalam perolehan nilai yang peserta didik dapatkan. Semua peserta didik mendapatkan nilai diatas nilai Kriteria Ketuntasan Mengajar (KKM). Pembelajaran menggunakan metode TITI TIBA sangat bermanfaat dan menyenangkan bagi peserta didik. (bat2/zal)



Guru SMAN 4 Semarang Editor : Agus AP
#Hasil Belajar Masalah Ekonomi #TITI TIBA #SMAN 4 Semarang #Sistem Ekonomi #Guru SMAN 4 Semarang #Maul Kholishoh