Tahsin tersebut merupakan metode belajar membaca Al-Qur`an dalam kajian bahasa Arab dikenal fonologi bahasa Arab, yaitu bidang linguistik atau ilmu bahasa yang menyelidiki, mempelajari, menganalisis, dan membicarakan runtutan bunyi-bunyi bahasa yang dihasilkan oleh alat ucap manusia beserta fungsinya.
Metode tahsin disini merupakan salah satu cara pendidik atau ustadz dalam tilawah Al-Qur`an yang menitik beratkan pada makhroj tempat keluar masuknya huruf dan ilmu tajwid. Metode tahsin ini dalam membaca Al-Qur`an melalui seorang pendidik secara langsung dan berhadapan, karena dengan cara itu seorang pendidik bisa melihat apakah makharijul huruf yang di ucapkan santri sesuai dengan kaidah atau tidak.
Unsur-unsur metode tahsin diantaranya pertama, tempat-tempat keluar huruf. Dalam pembagian tempat keluar huruf metode tahsin ulama Qira’at menuangkan dalam bentuk tulisan supaya lebih cepat difahami peserta didik Madrasah Tsanawiyah ditopang juga dengan latihan terus menerus dalam pengucapannya maka akan akan dapat memperlancar lidah untuk mengucapkan huruf dengan baik dan benar, secara global makhorijul huruf ada lima tempat yaitu rongga mulut, tenggorokan, lidah, dua bibir, rongga hidung.
Unsur yang kedua adalah sifat huruf, mempelajari sifat huruf bertujuan mempertahankan suara yang keluar dari mulut sesuai dengan keaslian sifat-sifat bacaan Alquran itu sendiri. Huruf yang menurut kita sudah tepat makhrajnya belu dipastikan kebenarannya sehingga sesuai dengan sifatnya. Contoh ketika orang mengucapkan pada lafazh sudah benar dengan makhrajnya. Tetapi dalam lafazh belum dikatakan benar sehingga sesuai dengan sifatnya sebagai contoh diantaranya bacaan Qolqolah.
Penggunaan metode tahsin yang selama ini di gunakan di MTsN 3 Demak melalui beberapa fase, adapun tahapan cara penerapan metodenya adalah guru berada di depan kelas memberikan bimbingan bacaan surat-surat pendek pilihan, peserta didik membaca surat Al-Fatihah maupun surat-surat pendek pilihan lainnya dimulai dengan membaca ta`awud dan basmalah secara bergantian, bacaan guru di ulang-ulang 2 sampai 3 kali, dan siswa menirukan, apabila ada kesalahan pada bacaan peserta didik maka guru wajib membenarkan secala langsung.
Metode ini sangat sederhana namun juga sangat berbeda dengan metode pada umumnya, sebab peserta didik harus mengucapkan makhraj yang benar-benar sempurna, mulai dari bacaan ta`awud, basmalah, surat ai-Fatihah dan surat-surat pendek lainnya sampai dengan surat an-Naba`. Oleh sebab itulah metode tersebut membutuhkan bimbingan guru yang bersanad maupun yang beriwayat dengan jelas. (wa2/zal)
Guru MTsN 3 Demak Editor : Agus AP