Mata pelajaran bahasa Inggris mempunyai karakteristik yang berbeda dengan mata pelajaran lain. Perbedaan ini terletak pada fungsi bahasa sebagai alat komunikasi. Selain diperlukan penguasaan kosa kata dan tata bahasa, juga diperlukan keterampilan untuk mengaplikasikannya dalam kegiatan berkomunikasi, baik lisan maupun tulis (Depdiknas, 2006:2).
Beberapa kemungkinan kesulitan itu dikarenakan bahwa selama ini kebanyakan peserta didik menganggap mata pelajaran bahasa Inggris sebagai momok atau mata pelajaran yang sulit dan kurang menarik. Karena sulit dan tidak menarik, peserta didik cenderung tidak suka, enggan, dan ingin menghindarinya. Akibatnya, peserta didik malas mengikuti pelajaran itu atau kurang serius dan malas mengerjakan tugas yang diberikan oleh gurunya.
Untuk mengatasi permasalahan peserta didik tersebut, guru harus dapat berinovasi dalam menyampaikan materi di dalam kelas. Sehingga peserta didik dapat menerima materi dan menyelesaikan tugas yang disampaikan oleh guru dengan mudah. Seperti pembelajaran bahasa Inggris di SMP Negeri 1 Patebon menerapkan metode mind mapping dalam menulis deskriptif teks bahasa Inggris.
Menurut Buzan (Hernowo, 2007), mind mapping bisa dikatakan sebagai teknik untuk menulis dan juga membaca. Temuan Buzan ini didasarkan pada hasil riset Roger Sperry, ahli Biologi peraih hadiah nobel dalam bidang fisiologi dan kedokteran yang menunjukkan bahwa otak memiliki dua belahan yang masing-masing belahan bekerja secara sangat berbeda. Secara ringkas, otak kiri bersifat rasional dan otak kanan lebih emosional. Menurut Buzan, dengan memanfaatkan gambar dan teks ketika kita mencatat atau mengeluarkan sesuatu yang ada di dalam diri, maka kita telah menggunakan dua belahan otak secara sinergis. Apalagi jika dalam peta pikiran itu, kemudian ditambahkan warna dan hal-hal yang memperkuat emosi.
Langkah penerapan mind mapping dalam pembelajaran seperti biasanya, guru menyampaikan apresiasi, motivasi, dan tujuan pembelajaran yang akan dipelajari. Guru menyampaikan materi dan gambar yang harus diamati yang nantinya akan dideskripsikan. Selanjutnya, guru memberi penjelasan hal penting dalam membuat mind mapping sebagai berikut: memastikan tema utama terletak di tengah-tengah. Dari tema utama, akan muncul tema-tema turunan yang masih berkaitan dengan tema utama. Cari hubungan antara setiap tema dan tandai dengan garis, warna atau simbol. Gunakan huruf besar. Huruf besar akan mendorong kita untuk hanya menuliskan poin-poin penting saja di peta pikiran. Selain itu, membaca suatu kalimat dalam gambar akan jauh lebih mudah apabila dalam huruf besar dibandingkan huruf kecil. Penggunaan huruf kecil bisa diterapkan pada poin-poin yang sifatnya menjelaskan poin kunci.
Buat peta pikiran di kertas polos dan hilangkan proses edit. Ide dari peta pikiran adalah agar kita berpikir kreatif. Karenanya gunakan kertas polos dan jangan mudah tergoda untuk memodifikasi peta pikiran pada tahap-tahap awal. Karena apabila kita terlalu dini melakukan modifikasi pada peta pikiran, maka sering kali fokus kita akan berubah, sehingga menghambat penyerapan pemahaman tema yang sedang kita pelajari.
Sisakan ruangan untuk penambahan tema peta pikiran yang bermanfaat. Biasanya adalah yang telah dilakukan penambahan tema dan modifikasi berulang kali selama beberapa waktu. Setelah menggambar peta pikiran versi pertama, biasanya kita akan menambahkan informasi, menulis pertanyaan atau menandai poin-poin penting. Karenanya, selalu sisakan ruang di kertas peta pikiran untuk penambahan tema.
Selain dapat memudahkan peserta didik saat belajar menulis teks deskripsi dalam bahasa Inggris, penerapan metode mind mapping juga dapat memangkas anggapan bahwa mata pelajaran bahasa Inggris sebagai momok menakutkan berubah menjadi pelajaran yang mudah dan menarik. Peserta didik lebih semangat dan punya motivasi tersendiri dalam belajar bahasa Inggris, khususnya dalam menulis teks descriptive. (ump1/aro)
Guru Bahasa Inggris SMP Negeri 1 Patebon, Kabupaten Kendal Editor : Agus AP