Materi narrative text diajarkan kelas 9 semester 2. Narrative text merupakan teks cerita fiksi yang ditulis dan diceritakan untuk menghibur pembacanya. Jenis narrative text beragam. Seperti fairy tale, folk tale, legend, myth, dan fable. Namun, pada kelas 9 semester 2, jenis narrative text yang diajarkan adalah fairy tale atau dongeng.
Tujuan pembelajaran narrative text, siswa diharapkan dapat memahami bacaan, menuliskan, dan menceritakan kembali fairy tale. Tapi, faktanya siswa mengalami hambatan ketika mendapatkan tugas untuk menceritakan kembali fairy tale. Salah satunya karena keterbatasan penguasaan kosa kata bahasa Inggris. Ditambah guru terbiasa meminta siswa menggunakan metode hafalan teks bacaan cerita. Metode hafalan tidak dapat membantu siswa dalam meningkatkan keterampilan berbicara mereka. Siswa hanya menghafal. Selebihnya siswa akan cepat melupakan kosa kata yang dihafalkan.
Ada sebuah metode pembelajaran untuk mempermudah siswa dalam menceritakan fairy tale. Yaitu dengan Thumb Character Dialogues. Metode sederhana. Siswa dapat mempergunakan kedua ibu jari tangan untuk bercerita. Dua ibu jari siswa dapat dipergunakan untuk memerankan tokoh-tokoh cerita. Karena mengingat maksud dari speaking performance yang dikutip berdasarkan pendapat Stern (dalam Risnadedi 2001:55-67). Guru perlu memperhatikan tentang perkembangan tahapan kemampuan siswa dalam keterampilan berbicara. Dimulai kemampuan mendengarkan, berbicara, memahami, hingga dapat berbicara bahasa Inggris dengan lancar.
Langkah-langkah pembelajaran, pertama, guru mempersiapkan teks bacaan. Kedua, siswa memilih teks bacaan sesuai dengan materi yang telah diajarkan yaitu fairy tale atau dongeng. Kemudian, siswa memahami teks bacaan. Ketiga, siswa menggambar mata, hidung, dan mulut pada permukaan ibu jari. Keempat, siswa menentukan tokoh-tokoh cerita. Satu ibu jari dapat dijadikan lebih dari satu tokoh. Jika terdapat lebih dari dua tokoh dalam cerita. Kelima, siswa bercerita dengan cara kedua ibu jari saling berhadapan. Siswa bertindak sebagai narator cerita maupun memberikan dialog-dialog antara tokoh-tokoh cerita.
Siswa dapat mempraktikkan metode tersebut dimanapun. Dengan terlatihnya siswa, tidak hanya menambah perbendaharaan kosakata, tetapi siswa dapat berimajinasi dan memiliki keterampilan berbicara bahasa Inggris dengan baik.
Metode sudah diterapkan pada siswa kelas 9 semester 2 di SMP Negeri 3 Patebon. Hasilnya, penilaian untuk keterampilan berbicara semakin meningkat. Siswa juga sangat termotivasi dalam pembelajaran bahasa Inggris. Siswa terbantu dalam mengikuti setiap kompetisi bercerita bahasa Inggris. Sehingga SMP Negeri 3 Patebon dapat meraih hasil yang maksimal dan terbaik pada kompetisi-kompetisi tersebut. (ump1/fth)
Guru Bahasa Inggris SMP Negeri 3 Patebon, Kab. Kendal Editor : Agus AP