Pendidikan jasmani dan olahraga memiliki peran penting dan andil besar dalam mewujudkan tercapainya tujuan pendidikan nasional yang menunjang pendidikan karakter bangsa. Pendidikan jasmani disajikan di sekolah yang memiliki tujuan kognitif, psikomotor, dan afektif.
Aktivitas fisik (jasmani) akan berhasil apabila dilakukan berdasarkan prinsip yang benar, memiliki isi, strategi yang tepat, dan dilakukan evaluasi secara tepat. Pembentukan karakter berada pada tahap asosiasi; peserta didik diberi kesempatan untuk melakukan kegiatan fisik sebanyak mungkin melalui permainan dan olahraga, sehingga karakternya akan terbentuk.
Karakter merupakan sebuah konsep dari moral, yang tersusun dari sejumlah karakteristik yang dapat dibentuk melalui aktivitas olahraga, antara lain: rasa terharu (compassion), keadilan (fairness), sikap sportif (sport-personship), integritas (integrity) (Weinberg & Gould, 2003:527).
Pendidikan jasmani berarti program pendidikan lewat gerak atau permainan dan olahraga. Di dalamnya terkandung arti bahwa gerakan, permainan, atau cabang olahraga tertentu yang dipilih hanyalah alat untuk mendidik. Mendidik apa? Paling tidak fokusnya pada keterampilan anak. Dapat berupa keterampilan fisik dan motorik, berpikir dan memecahkan masalah, bisa juga emosional dan sosial.
Pendidikan olahraga adalah pendidikan yang membina anak agar menguasai cabang-cabang olahraga tertentu. Yang ditekankan di sini adalah hasil dari pembelajaran itu, sehingga metode pengajaran serta bagaimana anak menjalani pembelajarannya didikte oleh tujuan yang ingin dicapai menurut Rutland M. (2003) adalah sebagai berikut: keberanian, kesetiaan, kerajinan, kerendahan hati, kehematan, kejujuran, kelemahlembutan, penghormatan, dan berterima kasih.
Pendidikan karakter dapat dimaknai sebagai pendidikan nilai, pendidikan budi pekerti, pendidikan moral, pendidikan watak, yang bertujuan mengembangkan kemampuan peserta didik untuk memberikan keputusan baik-buruk, memelihara apa yang baik, dan mewujudkan kebaikan itu dalam kehidupan sehari-hari dengan sepenuh hati (Kemdiknas, 2010).
Nilai-nilai karakter yang tercantun dalam, semangat, percaya diri, disiplin, kerja keras, keberanian, estetika, pantang menyerah, tanggung jawab, mengikuti aturan kebersihan dan keselamatan. Karakter dikembangkan melalui tahap pengetahuan (knowing), pelaksanaan (acting), dan kebiasaan (habit).
Karakter tidak terbatas pada pengetahuan saja. Seseorang yang memiliki pengetahuan kebaikan belum tentu mampu bertindak sesuai pengetahuannya, jika tidak terlatih (menjadi kebiasaan) untuk melakukan kebaikan tersebut. Karakter juga menjangkau wilayah emosi dan kebiasaan diri.
Dengan demikian diperlukan tiga komponen karakter yang baik (components of good character) yaitu moral knowing (pengetahuan tentang moral), moral feeling atau perasaan (penguatan emosi) tentang moral, dan moral action atau perbuatan bermoral.
Karakter seseorang akan tampak dalam bentuk perilaku sehari- hari. Hal tersebut selaras dengan pendapat Ki Hajar Dewantara yang menyatakan “……. pendidikan adalah daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intellect), dan tubuh anak. Bagian-bagian itu tidak boleh dipisahkan agar kita dapat memajukan kesempurnaan hidup anak-anak kita..” (Ki Hajar Dewantara).
Namun kondisi riil perencanaan pendidikan (kurikulum) belum memberikan proporsi yang berimbang pada empat pilar tersebut. Hampir 36 jam, kurikulum kita dipenuhi dengan materi olah pikir, sedangkan olah hati, olahraga dan olah rasa/karsa sisanya (4 jam).
Bertolak dari kondisi tersebut terasa wajar apabila lomba science tingkat dunia dimenangkan oleh putra-putra Indonesia, namun di bidang karya ilmiah, publikasi penelitian, karya inovatif, wakil-wakil kita seringkali kalah bersaing.
Pembentukan karakter dalam diri individu menurut Kemendiknas (2010), merupakan fungsi dari seluruh potensi individu manusia (kognitif, afektif, dan psikomotorik) dalam konteks interaksi sosial kultural (dalam keluarga, sekolah, dan masyarakat) dan berlangsung sepanjang hayat.
Konfigurasi karakter dalam konteks tersebut adalah olah hati (spiritual and emotional development), olah pikir (intellectual development), olah raga dan kinestetik (physical and kinestetic development), dan olah rasa dan karsa (affective and creativity development).
Pendidikan jasmani sebagai alat pendidikan mempercepat anak dalam mengembangkan karakter. Guru pendidikan jasmani dapat mengajarkan pendidikan karakter di luar jam pelajaran, terutama saat ektrakurikuler, kegiatan pramuka, organisasi klub olahraga sekolah dengan melihat peluang yang tepat dalam pendekatan individu. Sehingga diharapkan pendidikan jasmani dan olahraga merupakan laboratorium bagi pengalaman manusia. Guru pendidikan jasmani harus mencoba mengajarkan pendidikan karakter dalam proses belajar mengajar, yang mengarah pada kesempatan untuk membentuk karakter anak. (mn2/lis)
Guru PJOK SD Negeri Candimulyo 2 Kabupaten Magelang Editor : Agus AP