Meski kenyataannya untuk menciptakan pembelajaran menyenangkan terdapat kendala sebagaimana dialami penulis pada kelas IV mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di SD Negeri 01 Siwalan Kabupaten Pekalongan. Kendala ini menjadi bahan kajian penulis untuk menciptakan pembelajaran yang lebih baik.
Media dan metode yang monoton menjadi hal yang membosankan. Bahkan menjadi kesulitan siswa dalam menggali informasi yang diajarkan. Maka penulis menerapkan metode make a match dalam materi asmaul husna. Metode ini dipercaya bisa membuat siswa bersemangat karena konsepnya permainan.
Model pembelajaran make a match (mencari pasangan) dikembangkan Lorna Curran tahun 1994. Model ini siswa diminta mencari pasangan dari kartu, Aqib Zainal (2013 : 23 ). Menurut Tarmizi dalam Novia (2015 : 12 ) menyatakan model pembelajaran make a match artinya siswa mencari pasangan setiap siswa mendapat sebuah kartu (bisa soal atau jawaban). Lalu secepatnya mencari pasangan yang sesuai dengan kartu yang ia pegang.
Kompetensi dasar pembelajaran ini meliputi ranah keterampilan membaca Asmaul Husna: Al-Bashir, Al-‘Adil, Al-‘Azhim dan maknanya dan ranah pengetahuan mengerti makna Asmaul Husna: Al-Bashir, Al-‘Adil, Al-‘Azhim. Indikator pencapaian kompetensi siswa mampu membaca Asmaul Husna: Al-Bashir, Al-‘Adil, Al-‘Azhim dan maknanya dan mampu mengerti makna Asmaul Husna: Al-Bashir, Al-‘Adil, Al-‘Azhim.
Ada tiga tujuan pembelajaran make a match. Jika tujuan utamanya penajaman materi maka caranya dengan memberi siswa penjelasan dan presentasi teori yang akan dilaksanakan. Selanjutnya siswa diberi tugas mengulas dan membaca kembali materi yang telah dipresentasikan.
Beda jika guru bertujuan penghayatan materi. Guru tidak harus menjelaskan materi. Sebab siswa akan menghayati sendiri dengan cara merangkum tulisan yang telah dibaca. Tetapi jika hiburan tujuan utama, maka guru harus melaksanakan metode ini sesekali saja. Metode yang digunakan adalah metode untuk mencocokan pasangan untuk mempertajam setiap materi yang dipelajari.
Langkah pelaksanaan model pembelajaran make a match pada materi asmaul husnah kelas IV (empat) sebagai berikut: Pertama, guru melakukan apersepsi dan memberikan motivasi pembelajaran yang menarik, menggugah semangat belajar siswa. Kemudian, Guru menyiapkan beberapa kartu berisi beberapa konsep atau topik yang cocok untuk sesi review (satu sisi berupa kartu soal dan sisi sebaliknya berupa kartu jawaban).
Setelah itu, setiap siswa mendapat satu kartu dan memikirkan jawaban atau soal dari kartu yang dipegang. Kemudian, siswa mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan kartunya (kartu soal atau kartu jawaban).
Selanjutnya, siswa yang dapat mencocokan kartu sebelum batas waktu diberi poin. Setelah satu babak kartu dikocok lagi agar tiap siswa mendapat kartu berbeda dari sebelumnya. Begitu seterusnya. Terakhir, guru melakukan kesimpulan materi pembelajaran, evaluasi pembelajaran dan refleksi pembelajaran.
Kelebihan model pembelajaran ini berdasarkan pengamatan penulis adalah bisa membuat siswa berkembang dalam aktivitas belajar dari segi kognitif dan motorik. Bisa membuat siswa merasa nyaman dan asyik. Sebab terdapat komponen permainan. Mampu mengembangkan siswa dalam pemahaman setiap materi belajar.
Setiap siswa akan termotivasi dalam belajar. Keberanian siswa akan terbangun karena ini merupakan sarana berlatih untuk tampil di depan kelas. Serta siswa mampu menghormati waktu belajar dan bisa bersikap disiplin.
Model pembelajaran ini juga memiliki kelemahan jika. Guru dalam pengutaraan kurang jelas, maka menyebabkan siswa kebingungan. Selain itu dalam prosesnya guru dituntut bisa memperhitngkan segala kemungkinan saat melaksanakan hukuman pada siswa. Sebab siswa bisa terkena imbas mental karena malu. Maka guru perlu bijaksana dalam membuat hukuman dengan berprinsip membangun mental tanggungjawab. (cd2/fth)
Guru PAI SDN 01 SIWALAN, Kab. Pekalongan Editor : Agus AP