Dalam upaya peningkatan kualitas pembelajaran pemilihan model, strategi, pendekatan dan tehnik pembelajaran merupakan hal utama yang harus di perhatikan oleh guru. Penulis sebagai guru SDN2 Lamuk Kecamatan Kejobong mencoba menerapkan model Pembelajaran Matematika Realistik (PMR). Ide utama pembelajaran matematika realistik adalah siswa harus diberi kesempatan untuk menemukan kembali (reinvent) konsep dan prinsip matematika di bawah bimbingan orang dewasa (Gravemeijer, 1994).
Siswa diberi kesempatan untuk menemukan ide atau konsep matematika berdasarkan pengalaman anak dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Lingkungan yang dimaksud dapat berupa lingkungan sekolah, keluarga, atau lingkungan masyarakat yang benar-benar dikenal siswa. Proses pembelajaran matematika realistik menggunakan masalah kontekstual sebagai titik awal dalam belajar matematika. Siswa diberi kesempatan untuk mengorganisasi masalah dan mencoba mengidentifikasi aspek matematika yang ada pada masalah tersebut.
Menurut Soedjadi (2001:2) PMR pada dasarnya adalah pemanfaatan realita dan lingkungan yang dipahami peserta didik untuk memperlancar proses pembelajaran matematika sehingga mencapai tujuan pendidikan matematika secara lebih baik daripada masa lalu.
Berdasarkan prinsip dan karakteristik pembelajaran matematika realistik, maka langkah-langkah yang harus dilakukan sebagai berikut pertama, memahami masalah tersebut. Kedua, menjelaskan masalah konteksatual yaitu jika dalam memahami masalah siswa mengalami kesulitan, maka guru menjelaskan situasi dan kondisi dari soal dengan cara memberikan petujuk-petujuk atau berupa saran seperlunya, terbatas bagian-bagian tertentu dari permaslahan yang belum di pahami. Ketiga, menyelesaikan masalah kontekstual yaitu siswa secara individual menyelesaikan masalah kontekstual dengan cara mereka sendiri.
Cara pemecahanya dan jawaban masalah berbeda lebih di utamakan. Dengan menggunakan lembar kerja, siswa mengerjakan soal. Guru memotivasi siswa untuk menyelesaikan masalah dengan cara mereka sendiri. Keempat, membandingkan dan mendiskusikan jawaban yaitu guru menyediakan waktu dan kesempatan kepada siswa untuk membandingkan dan mendiskusikan jawaban masalah secara kelompok. Siswa di latih untuk mengeluarkan ide - ide yang mereka miliki dalam kaitanya dengan interaksi siswa dalam proses belajar untuk mengoptimalkan pembelajaran. Kelima menyimpulkan, guru memberi kesempatan untuk menarik kesimpulan tentang suatu konsep atau prosedur.
Kelebihan pembelajaran matematika realistis yaitu pembelajaran lebih menyenangkan bagi siswa, lebih aktif, lebih kreatif dalam mengungkap ide dan pendapatnya, bertanggung jawab dalam menjawab soal dengan memberi alasan - alasan. Siswa memahami materi dengan baik karena konsep yang di kontrak oleh siswa sendiri. Guru lebih mudah mencari media pembelajaran (alat peraga).
Pembelajaran matematika ralistik memberikan pengertian yang jelas kepada siswa tentang kehidupan sehari hari dan kegunaan pada umumnya bagi manusia. Memberikan pengertian yang jelas caara penyelesaian suatu soal atau masalah tidak harus tunggal dan tidak harus sama antara yang satu dengan orang lain. Setiap orang bisa menemukan atau menggunakan cara sendiri, asalkan orang itu sungguh - sungguh dalam mengerjakan soal atau masalah tersebut. Dalam muatan mapel Matematika KD 3.2 operasi hitung bilangan pecahan, guru merasa model pembelajaran realistik sangat tepat dan efektif untuk meningkatkan hasil belajar operasi hitung bilangan pecahan. (pb1/zal)
Guru SDN 2 Lamuk, Purbalingga Editor : Agus AP