Hal ini terlihat dari fakta yang ditemukan penulis di kelas. Setelah guru selesai menjelaskan konsep dan rumusan materi pada siswa dengan metode tertentu, mereka akan mudah menjawab pertanyaan guru tentang konsep materi yang telah dijelaskan.
Tetapi begitu ke bagian uji coba atau latihan, setelah menuliskan rumus anak akan kesulitan untuk melakukan penyelesaian dari soal yang diberikan. Dari sana penulis mengetahui titik kelemahan siswa dalam belajar matematika yakni lemahnya pengetahuan tentang perkalian dasar.
Perkalian memang bukan segalanya tetapi segalanya dalam matematika butuh perkalian. Begitulah kesimpulan ketika penulis harus dihadapkan dengan pembelajaran matematika di tingkat lanjut.
Hal ini karena perkalian termasuk salah satu elemen dasar dalam proses pengoperasian matematika. Ini fakta yang banyak penulis jumpai di kelas. Jadi menghafal perkalian dasar 1-10 itu menjadi syarat mutlak untuk bisa mempelajari matematika di tingkat yang lebih tinggi.
Pembelajaran perkalian sudah diajarkan sejak kelas dua dengan menanamkan konsep bahwa perkalian adalah penjumlahan yang berulang. Untuk memudahkan siswa dalam menghafalkan perkalian dasar, penulis menggunakan jari tangan untuk melambangkan angka-angka.
Selain mudah dan praktis metode memvisualkan angka dengan jari ini dapat membantu siswa berkonsentrasi terhadap bilangan yang sedang dihafalkan. Menurut Sri Subarinah (2006: 31) operasi perkalian dengan jarimatika adalah suatu metode berhitung yang memanfaatkan jari-jari tangan.
Penggunaan jari tangan digunakan untuk perkalian 6 sampai 9. Metode ini tentu sudah sangat familiar. Penulis mencoba membagikan cara perkalian angka istimewa 9. Menghafal perkalian angka 9 dapat dilakukan dengan bantuan trik 10 jari. Berikut acuannya, posisi telapak tangan disejajarkan dengan posisi punggung tangan di atas.
Tangan kanan dan semua jari yang tersisa di bagian kanan setelah satu jari dilipat adalah puluhan. Tangan kiri dan semua jari yang tersisa di bagian kiri setelah satu jari dilipat adalah satuan. Lipat jari sebagai angka pengali dari kanan ke kiri. Jadi kelingking kanan wakil angka pengali 1. Jari manis kanan mewakili angka pengali dua seterusnya sampai kelingking kiri yang mewakili angka pengali 10.
Perkalian 2 x 9 dapat dihitung dengan melipat jari manis kanan yang mewakili angka pengali 2. Setelah jari manis kanan dilipat akan tersisa 1 jari di belahan kanan dan 8 jari di belahan kiri maka 2 x 9 = 18.
Setelah siswa mahir menghitung operasi perkalian dengan jari tangannya selanjutnya siswa dilatih untuk menghafalkan perkalian dasar dengan tabel perkalian 1 sampai 10. Pengulangan adalah salah satu kunci penting untuk menghafal tabel perkalian.
Jadi siswa perlu menyiapkan tabel perkalian lengkap dan untuk belajar siswa masing-masing. Kemudian setiap hari siswa diminta menghafal satu kelompok angka perkalian dengan suara lantang sebanyak 2 sampai 5 kali pengulangan. Sekalian untuk kegiatan literasi numerasi siswa di sekolah.
Lakukan secara rutin setiap hari sampai siswa hafal di luar kepala lalu lanjutkan dengan angka berikutnya. Supaya hafalan angka sebelumnya tidak hilang, sesekali guru memberikan kuis dan memberikan kartu tagihan hafalan pada siswa.
Kartu tagihan perkalian disusun dengan melibatkan orang tua, teman sejawat dan guru. Artinya bukti hafalan siswa yang pertama harus ditandatangani orang tua lalu teman sejawat dan yang terakhir guru sebagai bukti bahwa siswa tersebut telah lulus perkalian tertentu.
Dengan metode jarbel yang merupakan akronim dari jari dan tabel perkalian tersebut siswa kelas lima SD Negeri 01 Sumublor Kecamatan Sragi , Kabupaten Pekalongan sudah hampir 75 persen yang hafal perkalian dasar 1-10. Hal ini sangat berguna sebagai modal untuk dapat menyelesaikan soal-soal matematika lainnya. (pr1/lis)
Guru Kelas V SDN 01 Sumublor, Kec. Sragi, Kabupaten Pekalongan Editor : Agus AP