Meskipun mewujudkannya tidak mudah sebagaimana dialami penulis yang mengajar di kelas VI SD Negeri Delegtukang, Wiradesa masih terdapat siswa yang tidak bersemangat dalam belajar, mengantuk dan bermain asyik sendiri.
Maka, penulis menerapkan metode think pair share (TPS). Metode ini diyakini bisa menjadi solusi dalam menciptakan antusias belajar siswa.
Materi pembelajaran ciri pubertas ini memuat kompetensi dasar ranah pengetahuan menghubungkan ciri pubertas pada laki-laki dan perempuan dengan kesehatan reproduksi. Ranah keterampilan menyajikan karya tentang cara menyikapi ciri-ciri pubertas yang dialami.
Indikator capaian belajarnya, siswa mampu menjelaskan ciri-ciri masa puber pada anak laki-laki dan anak perempuan. Siswa mampu mengidentifikasi ciri-ciri masa pubertas pada laki-laki dan perempuan. Dan mampu menceritakan pengaruh perubahan fisik pada anak laki-laki dan anak perempuan saat pubertas.
Model pembelajaran think pair share adalah salah satu model (tipe) pembelajaran yang memberi kesempatan kepada setiap siswa untuk menunjukkan partisipasi kepada orang lain.
Model pembelajaran koperatif tipe TPS ini memberi kesempatan sedikitnya delapan kali lebih banyak kepada siswa untuk dikenali dan menunjukkan partisipasi mereka kepada orang lain. Keunggulan teknik ini adalah optimalisasi partisipasi siswa (Lie: 2004). Adapun definisi pembelajaran kooperatif tipe TPS menurut Arends (dalam Komalasari, 2010: 84) suatu cara yang efektif untuk membuat variasi suasana pola diskusi kelas.
Dengan asumsi semua resitasi atau diskusi membutuhkan pengaturan untuk mengendalikan kelas secara keseluruhan dan prosedur yang digunakan dalam think pair share dapat memberi murid lebih banyak waktu untuk berpikir, untuk merespon dan saling membantu.
Tahapan-tahapan didalam model pembelajaran kooperatif TPS dalam materi pembelajaran ciri pubertas kelas VI sebagai berikut : pertama, guru melakukan apersepsi dan mengajukan pertanyaan yang berhubungan dengan materi pembelajaran ciri pubertas. Misalnya apa ciri pubertas bagi perempuan dan bagi laki-laki.
Kemudian meminta kepada siswa untuk memikirkan pertanyaan tersebut secara mandiri untuk beberapa saat. Lalu, guru meminta siswa berpasangan dengan siswa yang lain untuk mendiskusikan apa yang teah dipikirkannya pada tahap berpikir. Pada tahap ini setiap anggota pada kelompok membandingkan jawaban atau hasil pemikiran mereka dengan mendefinisikan jawaban yang dianggap paling benar atau paling meyakinkan. Setelah itu, guru meminta kepada pasangan untuk berbagi dengan seluruh kelas tentang apa yang telah mereka bicarakan. Keterampilan berbagi dalam seluruh kelas dapat dilakukan dengan menunjuk pasangan yang secara sukarela bersedia melaporkan hasil kerja kelompoknya atau bergiliran pasangan. Terakhir, guru melakukan kesimpulan dan refleksi pembelajaran.
Implementasi model pembelajaran TPS ini memiliki kelebihan yaitu memberi murid waktu lebih banyak untuk berfikir, menjawab dan saling membantu satu sama lain, lebih mudah dan cepat membentuk kelompoknya.
Murid lebih aktif dalam pembelajaran karena menyelesaikan tugasnya dalam kelompok, dimana tiap kelompok hanya terdiri dari 2 orang, murid memperoleh kesempatan untuk mempersentasikan hasil diskusinya dengan seluruh murid. Sehingga ide menyebar dan memungkinkan murid untuk merumuskan dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan mengenai materi yang diajarkan. Karena secara tidak langsung memperoleh contoh pertanyaan yang diajukan oleh guru serta memperoleh kesempatan untuk memikirkan materi yang diajarkan. (ce2.3/lis)
Guru Kelas VI SD Negeri Delegtukang Wiradesa Editor : Agus AP