RADARSEMARANG.ID, Ungaran – Seorang siswa kelas 4 SD Hj Isriati Moenadi, Ungaran Timur, Kabupaten Semarang, berinisial R diduga menjadi korban perundungan oleh teman sekelasnya hingga mengalami sejumlah luka dan trauma.
Hal tersebut disampaikan orang tua R, Arief Prasetyo, 48, warga Ungaran Timur. Ia menjelaskan, dugaan perundungan terjadi pada Rabu (23/9) saat kegiatan pembelajaran di sekolah.
Menurut Arief, R mengalami memar di sejumlah bagian tubuh, luka di belakang telinga, serta bibir bagian kiri bawah pecah. Setelah kejadian, R juga mengalami demam tinggi hingga mencapai 41,8 derajat Celsius.
"Anak saya mendapatkan perlakuan perundungan dari teman satu kelas. Ada dua teman kelasnya yang mengakibatkan memar, kemudian ada luka di belakang telinga dan pecah di bibir sebelah kiri bawah," ceritanya kepada Jawa Pos Radar Semarang, Senin (28/9).
Baca Juga: Kepala SD Hj Isriati Moenadi Ungaran Benarkan Ada Perundungan, Berawal dari Perang-perangan
Selanjutnya, pada Jumat (25/9), R dibawa ke Rumah Sakit Hermina Banyumanik untuk mendapatkan pemeriksaan. Arief menyebut dokter menyampaikan bahwa R mengalami trauma pukulan akibat kejadian yang dialaminya di sekolah.
Selain cedera fisik, Arief mengatakan kondisi R hingga kini masih mengalami mimisan. Ia juga melihat adanya perubahan perilaku pada anaknya setelah kejadian tersebut.
"Anak saya sekarang lebih cenderung termenung, diam, kemudian sering mengigau. Bahkan pada saat dia diam tiba-tiba seperti melihat sesuatu dan bertanya tentang lingkaran,"lanjutnya.
Arief menyebut dugaan kekerasan terhadap anaknya bukan baru terjadi sekali. Berdasarkan cerita dari R, intimidasi dan perlakuan fisik disebut sudah beberapa kali terjadi.
Ia menyebut dua siswa yang diduga terlibat berinisial Z dan A. Namun, Arief menegaskan pihaknya masih menunggu penjelasan lengkap mengenai kronologi kejadian.
Arief meminta pihak sekolah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem keamanan, termasuk pengawasan siswa saat pergantian kegiatan maupun jam istirahat serta penggunaan CCTV.
Baca Juga: Mahasiswa Unimus Asal Timor Leste Overstay Hampir Setahun, Diamankan Jelang Ujian
Ia mengaku pihak sekolah telah meminta maaf dan menyampaikan akan melakukan evaluasi. Namun, Arief masih menunggu bentuk evaluasi dan tindakan konkret yang dilakukan sekolah.
"Keamanan dulu, kenyamanan, baru kita bicara kualitas pendidikan. Bagaimanapun kualitas pendidikannya, ketika keamanan sudah tidak terjamin, saya kira sudah tidak bisa dipertahankan kalau seperti itu. Kalau tidak ada tindakan serius dari pihak sekolah, kami akan pertimbangkan mengambil langkah hukum,"ungkapnya.(ria)
Editor : Baskoro Septiadi