UNNES Revitalisasi Kuda Kepang Sumowono Lewat Koreografi Lingkungan

Dhinar Sasongko • Dipublikasikan Kamis, 3 September 2026 | 12:48 WIB
Pentas seni
Pentas seni Kuda Kepang Unnes

RADARSEMARANG.ID - Universitas Negeri Semarang (UNNES) melakukan terobosan untuk melestarikan kesenian Kuda Kepang di Desa Sumowono, Kabupaten Semarang, Rabu (2/9).

Lewat Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) 2026, UNNES mendorong seni pertunjukan rakyat tersebut menjadi sarana edukasi literasi budaya dan penguatan kesadaran ekologis warga setempat.

Ketua Pelaksana Program PISN UNNES, Prof. Dr. Agus Cahyono, M.Hum., memaparkan kondisi Kuda Kepang saat ini tengah menghadapi stagnasi artistik, minim inovasi, dan penurunan daya tarik di kalangan generasi muda akibat pola pertunjukan yang repetitif.

"Seni Kuda Kepang merupakan warisan berharga yang sangat potensial sebagai medium pembelajaran budaya, penguat identitas masyarakat, sekaligus ruang penyadaran ekologis," ujar Prof. Agus Cahyono di sela pendampingan Sanggar Tari Bekso Kridho Esti, Sumowono.

Baca Juga: 568 Penerima Bansos di Salatiga Terindikasi Main Judol, Bantuan Dihentikan Sementara

Program yang mendapat pendanaan dari DPPM Tahun Anggaran 2026 ini menerjunkan tim dosen dan mahasiswa Pendidikan Seni Tari untuk mendampingi sekitar 70 anggota sanggar. Tim mengusung konsep koreografi lingkungan dengan menjadikan ruang, alam, serta persoalan lingkungan sekitar sebagai sumber utama penciptaan gerak tari.

Prof. Agus memastikan proses revitalisasi ini tetap menjaga kelestarian akar tradisi masyarakat setempat."Kami berupaya mempertahankan identitas asli Kuda Kepang seraya mengembangkan kemungkinan kreatifnya melalui pendekatan koreografi lingkungan," tegasnya.

Inovasi koreografi yang dijadwalkan berlangsung dari April hingga November 2026 ini mengutamakan pemanfaatan ruang terbuka dan fasilitas desa tanpa bergantung pada teknologi mahal agar mudah direplikasi.

Simbol, ruang, dan narasi pertunjukan akan diarahkan untuk merepresentasikan nilai pelestarian alam serta tanggung jawab menjaga keseimbangan ekosistem.

"Pelestarian tradisi pantang bersifat kaku atau membekukan budaya itu sendiri. Tradisi akan terus hidup manakala masyarakat mau memberi ruang bagi kreativitas, pengetahuan baru, dan adaptasi terhadap kebutuhan zaman," pungkas Prof. Agus.

Editor : Baskoro Septiadi
kuda kepang koreografi lingkungan unnes semarang