RADARSEMARANG.ID, Ungaran – Rencana eksplorasi geothermal di kawasan Gunung Ungaran tak hanya menjanjikan potensi energi baru. Di balik proyek tersebut, muncul kekhawatiran terhadap dua persoalan besar yang menyangkut keselamatan dan kehidupan warga: risiko pergerakan tanah serta ancaman krisis air.
Pengeboran hingga kedalaman lebih dari 2.000 meter menjadi perhatian DPRD Kabupaten Semarang. Aktivitas tersebut dinilai sudah masuk tahap eksplorasi sehingga dampaknya terhadap kondisi geologi kawasan harus dihitung secara matang.
Anggota Komisi A DPRD Kabupaten Semarang Muzayinul Arief meminta pemerintah tidak hanya menghitung potensi ekonomi dari proyek geothermal. Kajian menyeluruh mengenai kondisi tanah, sesar, sumber air hingga dampak terhadap masyarakat harus dilakukan sebelum eksplorasi dilanjutkan.
Baca Juga: Ashraff Abu Bela Fadia Arafiq di Persidangan: Istri Saya Sudah Dihukum Netizen Sebelum Putusan Hakim
“Kalau sudah dilakukan pengeboran lebih dari 2.000 meter, tentu sudah tahap eksplorasi. Ketika pengeboran terjadi, pasti ada dampak terhadap gerakan tanah di sekitarnya,” kata Muzayinul, Senin (31/8).
Politisi PKB yang akrab disapa Yayin tersebut mengingatkan, persoalan geologi di Kabupaten Semarang bukan hal yang bisa diabaikan. Tiga tahun lalu, daerah tersebut juga telah mendapat peringatan terkait potensi gempa dan sesar di kawasan Rawa Pening.
Menurut dia, struktur geologi dari wilayah Banyubiru, Gunung Kelir hingga kawasan Gunung Ungaran perlu menjadi perhatian dalam rencana eksplorasi.
“Di wilayah Banyubiru, Gunung Kelir, gunung-gunung lainnya sampai Gunung Ungaran ada lempeng yang harus diwaspadai,” ujarnya.
Selain risiko geologi, persoalan air menjadi kekhawatiran lain. Yayin menilai kebutuhan air untuk mendukung operasional geothermal harus dihitung secara detail. Jangan sampai eksploitasi energi justru menambah tekanan terhadap sumber air yang sudah terbatas saat musim kemarau.
Kabupaten Semarang sendiri masih menghadapi persoalan krisis air di sejumlah wilayah ketika kemarau. Karena itu, kebutuhan air proyek geothermal dinilai tidak boleh mengabaikan kebutuhan dasar masyarakat.
“Harus ada suplai terus-menerus terhadap uap untuk geothermal. Air dipanaskan dari panas bumi. Ini yang harus dikaji,” tegasnya.
Yayin mendesak Pemkab Semarang menyiapkan kajian sendiri terkait lokasi dan dampak proyek. Kajian tersebut harus mencakup kondisi geologi, sumber air, lingkungan hingga potensi dampaknya terhadap masyarakat.
Hasil kajian juga harus disampaikan secara terbuka. Masyarakat, kata dia, berhak mengetahui bukan hanya manfaat geothermal, tetapi juga risiko yang mungkin muncul.
“Kalau bahan kajiannya sudah kita punya sendiri, bisa menjadi dasar untuk sosialisasi kepada masyarakat, dewan maupun eksekutif,” katanya.
Potensi geothermal juga disebut dapat meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Semarang. Namun, Yayin mempertanyakan sumber PAD apabila proyek tersebut nantinya dikerjakan PLN.“Kalau proyeknya dikerjakan PLN, PAD-nya dari mana?” ujarnya.
Baca Juga: Bikin Honda CB500 Kegerahan! Motor Kawasaki Z500 Versi 2027 Resmi Meluncur, Menang Bobot Jauh
Persoalan semakin sensitif karena lokasi yang disorot berada di kawasan Gedong Songo, Bandungan. Selain memiliki nilai ekologis, kawasan tersebut menyimpan warisan sejarah dan budaya yang menjadi salah satu ikon wisata Kabupaten Semarang.
Yayin meminta pengembangan energi tidak mengorbankan sumber air maupun kawasan bersejarah tersebut.“Bagaimana kita menyelamatkan sumber-sumber air yang dibutuhkan geothermal? Apalagi ini cagar budaya yang sangat tua. Candi Gedong Songo adalah warisan yang kita rawat dan memberi penghasilan bagi Kabupaten Semarang,” pungkasnya.
Energi boleh diburu. Namun air dan keselamatan warga tak boleh jadi taruhan. (ria/zal)
Editor : Baskoro Septiadi