RADARSEMARANG.ID, Ungaran - Musim kemarau sudah dirasakan warga Dusun Jagir, Desa Kedungringin, Kecamatan Suruh, Kabupaten Semarang.
Ada sekitar 870 jiwa di dusun tersebut yang kini akhirnya bergantung pada bantuan dropping air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Sumur-sumur warga sudah mulai mengering. Setiap kali truk pengangkut air datang, warga langsung bergegas membawa ember dan jeriken menuju bak penampungan sederhana yang tersebar di sembilan titik di dusun tersebut. Air kemudian dibagi untuk memenuhi kebutuhan mandi, memasak, hingga air minum.
Seorang warga, Nanik Budiawati, 34, mengatakan krisis air bersih telah berlangsung sekitar dua bulan.
Selama musim kemarau, sumur milik warga tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan karena debit air cepat menyusut.
Baca Juga: Anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah Bagus Suryokusumo Ajak Pemuda Melek Politik
Ketergantungan kiriman air bersih menjadi andalan memenuhi kebutuhan kami akan air bersih.
Menurut Nanik, apabila bantuan air belum datang, warga terpaksa mencari air ke area persawahan atau keluar desa untuk mendapatkan air bersih.
"Ada sumur, tapi kalau kemarau begini airnya cepat kering. Jadi kami hanya bisa andalkan dropping air seperti ini,"keluhnya. Selasa (4/8).
Ia berharap rencana pembangunan sumur bor dan toren air oleh Pemerintah Kabupaten Semarang dapat segera direalisasikan sehingga warga tidak lagi bergantung pada bantuan air bersih setiap musim kemarau.
Kondisi serupa dialami Sutinah, 65. Meski usianya sudah lanjut, ia tetap harus mengantre sambil membawa ember kecil untuk mendapatkan air.
Berbagai upaya penyediaan sumber air permanen juga telah dilakukan. Pengeboran sumur hingga kedalaman 65 hingga 75 meter sudah tiga kali dilakukan, namun belum menemukan sumber air yang memadai.
Tahun ini, Pemkab Semarang bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan TNI kembali merencanakan pengeboran sumur setelah survei geolistrik dilakukan pada Juli 2026.
Sementara itu, bantuan air bersih pada Minggu (2/8) disalurkan secara mandiri oleh Dablongan Care Community (DCC) Sruwen.
Komunitas tersebut mengirimkan sekitar 12.000 liter air bersih menggunakan sembilan armada yang didistribusikan ke sembilan titik penampungan di Dusun Jagir.
Sementara itu anggota DCC Sruwen, Sugiarto atau sering dipanggil Temon, mengatakan air bersih diambil dari sumber mata air Senjoyo, Kecamatan Tengaran.
Ia menegaskan komunitasnya siap membantu wilayah lain yang mengalami krisis air bersih melalui pengajuan resmi dari pemerintah desa maupun masyarakat.
"Beberapa waktu ini kami mulai kirim air lagi ke warga yang membutuhkan, dan biasanya warga yang menghubungi kami di pusat informasi DCC via media sosial, artinya secara resmi, ada proposal, baru kami bisa kirim air bersih ini,"pungkasnya.(ria)
Editor : Baskoro Septiadi