Tanam Serentak Jadi Senjata Lawan Tikus, Dispertanikap Kabupaten Semarang Siapkan Intervensi 6.258 Hektare Sawah

Maria Novena Sinduwara • Dipublikasikan Selasa, 28 Juli 2026 | 14:40 WIB

 

Bupati Semarang Ngesti Nugraha, Sekretaris Daerah Kabupaten Semarang Valeanto Soekendro, dan Kepala Dinas Pertanian Perikanan dan Pangan Kabupaten Semarang Moh Edy Sukarno tanam padi di Desa Kemetul Kecamatan Susukan.
Bupati Semarang Ngesti Nugraha, Sekretaris Daerah Kabupaten Semarang Valeanto Soekendro, dan Kepala Dinas Pertanian Perikanan dan Pangan Kabupaten Semarang Moh Edy Sukarno tanam padi di Desa Kemetul Kecamatan Susukan.

RADARSEMARANG.ID, Ungaran - Dinas Pertanian Perikanan dan Pangan Kabupaten Semarang Kabupaten Semarang lakukan langkah perubahan untuk perbaikan lahan. Degradasi lahan persawahan akibat pupuk kimia berlebihan dalam jangka panjang berpengaruh pada produktivitas hasil pertanian.

Hal ini menjadi landasan utama Dispertanikap Kabupaten Semarang menggarap proyek Pangan Berdikari. Salah satu program kerjanya intervensi agroekosistem terintegrasi berbasis kawasan. Di tahun 2026 ada sekitar 6.258 hektar lahan yang dilakukan pola intervensi. 

Kepala Dinas Pertanian Perikanan dan Pangan Kabupaten Semarang Moh Edy Sukarno mengatakan Desa Kemetul Kecamatan Susukan menjadi pilot project agroekosistem berbasis kawasan ini. Langkah awal yang dilakukan yakni pemulihan lahan yang menggunakan pupuk alami atau organik.  

"Untuk SK bupatinya ini sedang berproses. Target kita di tahun 2026 ini ada sekitar 6.258 hektar lahan yang akan kita lakukan pola intervensi sama dengan di Desa Kemetul,"ungkapnya usai tanam padi. Selasa (28/7).

Baca Juga: Ruang Kelas Hancur Tertimpa Pohon Tua, 28 Siswa SDN Sendangmulyo 03 Selamat

Lahan yang sudah dilakukan pemulihan dari pupuk kimia ke pupuk organik dinilai dari segi biaya lebih efisien. Kemudian dari sisi hasil pun produktivitas juga terus mengalami peningkatan. Dulu 6,2 ton kali ini bisa mencapai 9,2 ton.

Keuntungan berbasis kawasan ini juga menjadi salah satu cara menanggulangi hama, terutama tikus. Karena salah satu cara paling efektif menanggulangi hama tikus dengan menanam serentak. Desa Kemetul sudah melakukannya dan hasilnya dua kali panen aman dari tikus.

"Sudah kita praktekan di Desa Kemetul dan hasilnya hama tikus tidak ada di dua kali panen ini. Kita akan replikasi di seluruh kawasan tanaman pangan padi di Kabupaten Semarang,"lanjutnya.

Ada 10 hektar lahan sawah yang dikerjakan 21 petani Desa Kemetul fokus pada padi semi organik menuju beras sehat. Tanaman padi semi organik menuju beras sehat di Kemetul ini juga didukung oleh pengairan sawah langsung dari mata air.

Para petani tentunya juga memperhatikan kesehatan tanahnya. Kepala Desa Kemetul Agus Sudibyo mengatakan pengerjaan tanaman padi semi organik ini sudah dikerjakan hampir tiga tahun. Di tahun ke tiga ini hasil panennya tak pernah mengecewakan. 

"Hampir 3 tahun ini untuk padi semi organik alhamdulillah dari tahun ke tahun kita ada peningkatan dari musim tanam hingga panen. Kemarin sebelumnya kami di 6,7 ton per hektar itu dengan catatan ada serangan hama. Terus alhamdulillah kemarin kita dipanen 9 ton,"ceritanya.

Bukan hama saat ini yang kendala para petani Desa Kemetul. Pemasaran beras sehat ini yang masih belum menemukan pasarnya. Diakui Agus penanganan beras sehat semi organik ini tidak bisa seperti beras lainnya. Saat ini para petani tengah perusahaan menjual beras semi organik ini tidak dalam bentuk gabah. 

"Harapan kami ada bantuan dari pemerintah untuk pemasaran, karena perlakuan beda otomatis beda. Kamj berharap dari petani, harga itu akan naik, lebih tinggi. Dan kami sudah mencoba pasar untuk menengah ke atas beras semi organik untuk beras sehat itu di angka Rp 20 ribu perkilonya. Sehingga bisa mendorong kesejahteraan petani. Jadi baik peningkatan hasil tonase dan juga hasil penjualan yang lebih tinggi,"pungkasnya.(ria)

Editor : Baskoro Septiadi
lahan persawahan Desa Kemetul Kecamatan Susukan Kabupaten Semarang