200 Petani Milenial Disiapkan Menjadi Agen Petani Organik

Maria Novena Sinduwara • Dipublikasikan Selasa, 21 Juli 2026 | 18:58 WIB

 

Bupati Semarang Ngesti Nugraha, Kepala Dinas Pertanian Perikanan dan Pangan Kabupaten Semarang saat melakukan panen cabai bersama petani milenial di Kecamatan Sumowono. Selasa (21/7).
Bupati Semarang Ngesti Nugraha, Kepala Dinas Pertanian Perikanan dan Pangan Kabupaten Semarang saat melakukan panen cabai bersama petani milenial di Kecamatan Sumowono. Selasa (21/7).

 

RADARSEMARANG.ID, Ungaran - Pemerintah Kabupaten Semarang kembali menggelar sekolah petani milenial. Ada 240 orang di enam angkatan. Setiap angkatan 40 orang yang mengikuti.

Berjalannya sekolah tani milenial ini bukan tanpa alasan krisis SDM disektor pertanian menjadi alasan utama.

Baca Juga: Terus Makan Korban, Jalur Padat Truk di Pasar Mangkang Bakal Dipasang Pita Kejut

Saat ini Pemerintah Kabupaten Semarang menghadapi salah satu tantangan paling signifikan di pertanian yakni SDM.

Krisis SDM terlihat dari data statistik menunjukkan angka petani milenial tinggal 11,8 persen dengan petani tua sudah 77,8 persen.

Berdasarkan sensus pertanian 2023, selama 10 tahun itu rumah tangga usaha pertanian sudah berkurang 10,27 persen di tengah penduduk yang terus bertambah.

Sehingga Pemerintah Kabupaten Semarang mengadakan sekolah tani milenial. Petani dengan lulusan SD masih tinggi dengan 73 persen. Sehingga untuk mengejar teknologi pertanian modern masih tertinggal jauh.

Kepala Dinas Pertanian Perikanan dan Pangan Kabupaten Semarang Moh Edy Sukarno menjelaskan kegiatan yang digelar dua hari ini tidak hanya belajar soal menanam padi.

Materi yang diberikan ada dua technical skill tentang bagaimana bercocok tanam, dan upgrading skill pengetahuan tentang berwirausaha, marketing digital, dan lain sebagainya. 

"Ada enam kecamatan penghasil tembakau untuk kegiatan sekolah tani milenial. Sumowono, Tengaran, Bancak, Kliwungu, Bandungan. Selain sekolah tani milenial nanti ada kegiatan penyuluh masuk sekolah ini masih terus kita godok masuk ke ko kurikulum,"ungkapnya. Selasa (21/7).

Anggaran untuk sekolah tani milenial tahun ini sebesar Rp 240 juta. Para peserta pun dari 19 kecamatan yang ada di Kabupaten Semarang. Edy mengaku Pemerintah Kabupaten Semarang memiliki kekhawatiran terkait menyusutnya minat menjadi petani. 

Baca Juga: Dispora Belum Maksimal Optimalkan Aset Olahraga, Target PAD Terancam Meleset

"Tahun ini dominannya kecamatan penghasil tembakau untuk sasarannya. Karena anggarannya dari DBHCHT. Walaupun kita tidak hanya ajari tentang budidaya tembakau. Tapi pertanian dalam arti luas dari teknik sampai dengan bagaimana jadi seorang entrepreneur di bidang pertanian. Para peserta ini memang kita siapkan menjadi agen petani organik,"lanjutnya.

Sementara itu salah satu peserta sekolah tani milenial Muhammad Khoirul Anan 25, asal Ungaran Barat mengaku dibujuk sang ibu untuk mengikuti sekolah tani milenial.

Orang tuanya yang juga memiliki lahan sawah padi memintanya untuk bisa mengelola.

Usai tamat S1 Khoirul langsung mendaftarkan diri ke sekolah tani milenial. Ia juga mengatakan saat ini lebih tertarik ke komoditas cabai dibandingkan padi. Hal ini dikarenakan lebih mudah.

"Tertariknya karena waktu kerja petani lebih fleksibel untuk kemana-mana bisa. Diaturnya gampang,"akuinya.(ria)

Editor : Baskoro Septiadi
Dinas Pertanian Perikanan dan Pangan Kabupaten Semarang sekolah tani milenial Kecamatan Sumowono Kabupaten Semarang