RADARSEMARANG.ID, Ungaran - Kegiatan belajar mengajar di SD Negeri Bener 01 Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah tampak seperti biasa.
Ada yang sedang berolahraga di lapangan sekolah ada juga berkegiatan di dalam kelas. Guru Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK), Gani Prasasti sekitar pukul 09.30 WIB mengakhiri pelajarannya.
Namun tugasnya hari itu belum selesai. Setelah melepaskan peluit mengajar, masih ada kewajiban lain yang rutin dilakoninya setiap hari.
Baca Juga: Kejari Semarang Tahan Dua Calo Kasus Korupsi Kredit 34 Debitur, Rugikan Negara Rp1,6 Miliar
Kini Gani beralih peran menjadi sopir mobil pengantar siswa pulang. Ada 15 hingga 20 siswa yang harus diantar ke beberapa titik pemberhentian.
Ruteng pun sudah ditentukan. Paling jauh sekira tiga kilometer dari sekolah. Di setiap dusun di Desa Bener ada tiga sampai empat titik turun para siswanya.
Langkah nyata ini diambil sekolah demi memastikan keamanan anak-anak saat kembali ke rumah masing-masing, mengingat letak sekolah yang rawan kecelakaan lalu lintas.
"Ini fasilitas dari sekolah dan menjamin siswa yang pulang sekolah aman dan selamat sampai rumah. Alhamdulillah tidak pernah ada komplain dari orangtua karena mereka malah sangat terbantu dengan adanya mobil pengantar ini,"ceritanya. Kamis (16/7).
Mobil pengantar siswa SD Negeri Bener 01 sendiri mulai beroperasi sejak Juni 2026, tepat sebelum libur awal tahun pelajaran baru.
Meski mengaku tidak ada masalah berarti selama menjadi sopir dadakan, Gani sempat terkendala menghafal titik antar yang dekat dengan rumah para siswa.
Oleh karena itu, dia membutuhkan pendamping. Akhirnya dirinya dibantu Wali Kelas I, yang sama-sama pukul 10.00 WIB, telah selesai mengajar. Sehingga bisa ikut mengantar sekolah.
"Lama kelamaan jadi hafal titik pemberhentiannya. Terpenting memang keselamatan anak-anak ya,"lanjutnya.
Kepala Sekolah SD Negeri Bener 01, Sugiyatno saat ditemui mengaju bahwa armada pengantar tersebut dari awal bentuknya memang merupakan kendaraan angkutan umum atau angkot.
Dibeli dengan harga Rp 20 juta. Setelahnya disulap dengan menempelkan setiker di bodi mobil dan perawatan.
"Ini gotong royong guru. Fasilitas unik ini lahir murni dari rasa kepedulian para tenaga pendidik setempat yang rela menyisihkan pendapatan pribadi mereka. Mobil tersebut dibeli secara cash, uangnya dari patungan guru-guru, termasuk juga ada yang dari koperasi simpan pinjam, nanti mengangsurnya ke koperasi. Semua dilakukan secara sukarela dan ikhlas,"ceritanya sambil tertawa.
Ide pengadaan mobil ini berawal dari survei internal yang dilakukan pihak sekolah selama satu tahun lalu.
Saat itu, pihak sekolah mendapati fakta bahwa banyak orangtua murid yang hanya bisa mengantar ke sekolah saat pagi hari, namun kelabakan ketika jam pulang sekolah. Sekolah pun juga memberikan batasan terkait operasional armada angkutan mandiri tersebut.
"Kami tegaskan bahwa hanya bisa mengantar pulang, kalau menjemput untuk ke sekolah tidak bisa. Ini karena memang keterbatasan sumber daya yang ada,"lanjutnya.
Selain menjadi bentuk pelayanan prima dan solusi bagi orangtua yang sibuk bekerja, keberadaan mobil antar ini membuat keselamatan siswa lebih terjamin.
Pasalnya, gedung sekolah tersebut tepat berada di tepi jalur arteri Jalan Raya Semarang-Solo yang selalu padat dan ramai kendaraan bertonase besar.
Meski setiap hari setia mengantar siswa pulang, pihak sekolah sama sekali tidak mematok tarif komersial. Para siswa yang memanfaatkan jasa mobil antar ini cukup membayar seikhlasnya sebagai wujud gotong royong.
Setiap akan naik ke atas mobil, mereka secara mandiri mengisi kotak dana di dekat pintu. Uang yang terkumpul dari siswa sepenuhnya digunakan kembali untuk membeli bahan bakar operasional mobil.
"Kan sifatnya memang tidak memaksa, hari ini naik, besok tidak naik, juga tidak masalah. Mengisi Rp 1.000 atau Rp 2.000 juga tergantung siswa,"tutupnya.(ria)
Editor : Baskoro Septiadi