RADARSEMARANG.ID, Ungaran - Ratusan anak Generasi Z dan Generasi Alpha memanfaatkan masa liburan sekolah dengan cara berbeda.
Mereka tampil membawakan seni ketoprak yang mengangkat kisah kepahlawanan Nyai Ageng Serang. Pentas seni yang diselenggarakan Sanggar Budaya Condrowinoto ini merupakan
bagian dari kegiatan pendadaran atau kenaikan tingkat bagi para murid. Tak hanya itu lebih penting lagi karena ini dibuka untuk umum pengenalan budaya Jawa terutama seni ketoprak menjadi nilai utama.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, proses pendadaran selalu terkemas melalui pertunjukan seni sebagai ajang bagi para murid menampilkan kemampuan yang telah mereka pelajari.
Dalam pagelaran tahun ini, para murid membawakan seni ketoprak yang mengisahkan perjuangan BRAy Kustiyah Wulaningsih Retno Edi, tokoh yang lebih terkenal sebagai Nyai Ageng Serang.
Meski sebagian besar pemain berasal dari kalangan Gen Z dan Gen Alpha, mereka mampu membawakan lakon tersebut dengan baik. Sehingga menarik perhatian masyarakat yang hadir.
Pemilik Sanggar Budaya Condrowinoto, Raden Nganten (R Ngt) Eropeana Puspitasari atau sering dipanggil Ana mengatakan kegiatan tersebut merupakan agenda rutin tahunan yang dikemas layaknya sistem pendidikan di sekolah formal.
Ini merupakan ujian bagi ratusan anak tersebut disetiap akhir semester. Biasanya jatuh pada bulan Juli untuk ujiannya.
"Setelah itu nanti kita mengadakan penerimaan rapor, kemudian sanggar libur dan dilanjutkan pendaftaran murid baru. Jadi seperti sekolah formal pada umumnya,"jelasnya. Minggu (28/6)
Menariknya, kegiatan ini turut dihadiri oleh Raden Hendro Marwoto yang merupakan Ketua Pasederekan trah Sri Sultan Hamengkubuwono II dari Keraton Yogyakarta. Nyi Ageng Serang sendiri merupakan besan dari Eyang Hamengkubuwono II.
Kebetulan Ana sendiri masih satu trah dengannya yang keturunan ke delapan. Dipilihya ketropak sebagai media ujian karena memang ini menjadi bagian dari pembelajaran di kelas budi pekerti Jawa. Selain kelas tari, karawitan, dan wayang, seluruh murid diwajibkan mengikuti pembelajaran karakter berbasis nilai-nilai budaya Jawa.
"Tidak hanya bisa menari, tidak hanya bisa karawitan, tetapi mereka harus memiliki jati diri ataupun budi pekerti yang baik sebagai orang Jawa. Nah, ketoprak ini menjadi ujian bagi anak-anak yang mengikuti kelas budi pekerti Jawa,"lanjutnya.
Didirikannya Sanggar Budaya Condrowinoto sendiri diakui Ana guna mengembalikan jati diri generasi muda yang mulai luntur akibat perkembangan zaman. Antusiasmenya masyarakat yang hadir untuk menyaksikan pun tak kalah menarik. Mereka rela membawa alas dari MMT bekas untuk bisa duduk nyaman menyaksikan seni ketoprak.
"Dua atau tiga tahun yang lalu kami masih mengadakan di pendopo kami, tetapi semakin berkembang, peminatnya luar biasa sehingga tiga tahun terakhir kami mengadakan di tempat ini. Yang lebih luas. Antusiasmenya sangat luar biasa setiap kali kami mengadakan ujian,"pungkasnya.(ria)
Editor : Baskoro Septiadi